Air Warna Warni di Tradisi Padusan Kampung Joho, Simbol Toleransi dan Tradisi yang Harmoni

oleh
Tradisi padusan air warna warni masyarakat Kampung Joho, Manahan, Solo, Jumat (01/4/2022)

SOLO, MettaNEWS – Padusan, tradisi membersihkan jiwa raga jelang Ramadan menjadi hal yang banyak dilakukan masyarakat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY). Tak kalah berbeda, salah satu daerah di Jawa Tengah yakni Kampung Joho RT 07, Manahan, Solo menggelar padusan dengan cara berbeda. Jika biasanya padusan dilakukan dengan cara berendam atau mandi di sumur ataupun sumber mata air, kali ini padusan dilakukan dengan cara melempar kantong plastik yang sudah diisi air warna warni.

Ketua RT 07, Yunus Ari Seno mengungkapkan perbedaan pelaksanaan puasa Ramadan oleh umat islam di Kampung Joho memberikan ide untuk melakukan padusan dengan air warna warni. Menariknya, tidak hanya umat islam yang mengikuti padusan ini, Ari (sapaan akrabnya) mengungkapkan warga Kristiani juga turut serta memeriahkan tradisi padusan. Sehingga perbedaan ini diwujudkan dalamwarna warni air.Terdapat lima warna dalam padusan tersebut diantaranya merah, ungu, biru, hijau dan kuning yang dianalogikan sebagai pernedaan suku, ras, etnis dan agama dalam Kampung Joho.

“Kami menggunakan warna warni air di padusan kali ini. Dimana warna warna itu dianalogikan sebagai perbedaan yang ada di Kampung Joho. Warna warna yang dipakai itu kan kalau dipadukan menarik, jadi secara garis besar kami mengartikan bahwa perbedaan yang ada adalah suatu keindahan yang harmoni,” ungkap Ari saat ditemui di sela-sela kegiatan padusan, Jumat (01/4/2022).

Sudah tiga kali dilakukan, Ari menyebut sebelumnya selama dua tahun pelaksanaan padusan mengalami kendala pandemi. Tidak diperbolehkannya kegiatan yang menyebabkan keramaian membuat pelaksanaan padusan ditiadakan. Ario menceritkan suasana Ramadan dua tahun lalu secara berturut-turut selama dua kali perayaan Ramadan kurang euforia dari masyarakat. Sebagai masyarakat yang taat peraturan, maka tradisi padusan sementara tidak dilakukan.

Dalam padusan di Kampung Joho ini masyarakat dari berbagai kalangan ikut berpartisipasi melakukan padusan di depan Pos RT 7. Menjadi tradisi yang seru, para warga saling melempar air berwarna warni. Selain itu, warga juga melakukan padusan melalui sumber air yang berasal dari aliran selang. Sebelum dimulai padusan, para warga berkumpul di depan Pos RT 7 untuk melakukan doa bersama. Sesaat setelah pelaksanaan, Pos RT 7 nampak dipenuhi air warna warni yang menghiasi jalanan.

“Kami menggelar doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas pemberian kesehatan dan kesejahteraan menjelang Ramadan. Kami sangat bersyukur bisa berkumpul bersama keluarga, saudara, tetangga kembali di Ramadan kali ini. Dan juga dengan segala perbedaan yang ada, Kampung Joho ini bisa harmonis di setiap perayaan masing-masing agama. Sehingga kami sangat bersyukur akan hal itu,” tuturnya.

Pelaksanaan Ramadan tahun ini yang sudah bisa normal kembali dalam pelaksanaan peribadatannya, diungkapkan Ari masyarakat sangat antusias untuk melaksanakan Ramadan dengan suka cita. Kebijakan pemerintah tersebut dirasa Ari menjadi perwujudan hak dalam beribadah.

“Kami sangat menyambut baik kebijakan pemerintah yang memperbolehkan umat islam untuk tarawih dan salat Ied Dul Fitri di ruang terbuka. Asalkan dalam pelaksanaannya tetap mentaati protokol kesehatan maka Ramadan kali ini akan lebih tenang dalam menjalannkannya. Kami berharap Ramadan kali ini bisa berjalan dengan baik. Masyarakatnya bisa lebih khusuk beribadah. Semoga di bulan puasa ini bisa menjadi awal negara Indonesia lepas dari pandemi,” jelasnya.

Semarak Ramadan mulai dirasakan oleh masyarakat dengan kembali akan diadakan kegiatan rutin Kampung Joho saat Ramadan yakni sahur bersama. Digelar di sepanjang jalan RT 7, Ari mengungkapkan para warga baik warga kristiani saling gotong royong menggelar sahur bersama dengan menghidangkan sejumlah makanan.

“Para warga kristiani memasak secara bersama-sama untuk warga muslim yang mau sahur. Jadi nanti di depan Pos 7 ini kami akan kumpul mulai dari pukul 02.00 dini hari. Jadi di Kampung Joho ini toleransinya terjaga. Nggak cuma perayaan umat islam saja, kami yang muslim juga membantu persiapan perayaan agama lain seperti natal umat kritiani,” pungkasnya.