SOLO, MettaNEWS – Berbicara soal seni, luapan ekspresi manusia yang dituangkan dalam karya seperti tak ada habisnya. Ide yang mampu diolah sedemikian rupa oleh para senimannya menghasilkan hal-hal menggelitik dari sesuatu yang dianggap biasa namun bermakna.
Seperti salah satunya karya seni berupa visualisasi typografi bilenial berskala internasional yang berada Taman Budaya Jawa Tengah (TBTJ) Solo ini misalnya. Typefest2022 “Rhetoric of Maxim”, gelaran event yang menggandeng seniman dari berbagai kampus di dalam dan luar negeri ini mampu menjadi salah satu event yang menarik.
Pasalnya karya Rhetoric of Maxim merupakan pepatah refleksi keseharian manusia menghadapi situasi kondisi, frekuensi yang berbeda.
Menyuguhkan karya seni berupa visualisasi kalimat menggelitik yang dituangkan dalam struk belanja bertuliskan “Gaji Gak Naik-Naik Innvoice Gak Turun-Turun.” Pengunjung dapat melihat suguhan karya Rhetoric of Maxim.
“Contoh karya seni keluh kesah “Gaji Gak Naik-Naik Innvoice Gak Turun-Turun. Ini kan sesuatu yang direfleksikan, dan refleksi yang muncul ini seharusnya memang harus sesuai dengan konteksnya,” ucap Ipung Kurniawan Yunianto, Chief of Event Typefest 2022, saat ditemui MettaNEWS di TBTJ, Rabu (11/5/2022).
Karya lain yang bertuliskan “Seminggu Tanpa Dina Setu Ning Sirah Ngelu,” memiliki makna bagi pekerja yang mendapatkan upah mingguan.
“Ini kalau buat orang yang gajinya bulanan, nggak masuk. Tapi kalau pekerja tukang hari Sabtu adalah gajian. Nah ini menjadi konteks yang menarik. Setelah pengunjung masuk ke acara dan melihat di ujung pintu keluar itu ada papan walltext fungsinya untuk mari berkeluh kesah apa yang kamu rasakan,” tutur Ipung.
Pada ujung pintu keluar pameran ini menyediakan walltext putih yang dilengkapi spidol besar. Pengunjung pun dapat menulis apapun disana. Sehingga tidak hanya para seniman yang dapat berkeluh kesah, pengunjung pun juga dapat melakukan hal yang sama.
“Curhat itu kan kontekstual dan murni keluar dari dalam hati,” imbuhnya.
Selain itu, media pintu bak truk terlihat mencolok sesaat memasuki area pameran, dimana karya dari Satriana Didiek Istana (Indonesia) yang terletak di sisi depan ini mangandung pesan yang tak biasa.
Karya tersebut dipajang nersama karya lainnya dalam pameran internasional dua tahunan yang berlangsung pada 10-12 Mei 2022 ini memiliki berbagai serangkaian kegiatan.
“Pameran ini juga tidak sekadar pameran saja namun dirangkai dalam workshop menulis aksara Jawa yang disampaikan oleh mas Wisnu Adi Kusuma,” imbuhnya.
Wisnu Adi Kusuma yang merupakan pegiat aksara Jawa ini memberikan materi workshop di Typefest2022. Sedang dalam masa penelitian aksara Jawa Pura Mangkunegaran, workshop ini dihadiri oleh beragam peserta.
Tidak hanya workshop, pada malam gelaran pameran Rabu (11/5) terdapat serangkaian acara Typetalk oleh Fadhl Haqq, Salah satu anggota Association Typografi International yang berdomisili di Indonesia. Bertajuk Designing Javanese Typefaces: Struggles ini dihadiri oleh Associate Typografi International yang melakukan diskusi pembuatan proyek skrip aksara Jawa yang akan digunakan oleh Google.
“Acara diskusi itu dimulai sejak hari pertama. Ditanggal 10 Mei di malam hari itu namanya “Belcor” Belmen Corner, program reguler dari komunitas typografi yang ada di Solo, Surakarya. Di hari ke-3 ada workshop aksara lontara dari Makasar pematerinya adalah Dr. Syamsiar. Beliau adalah pegiat aksara lontara juga,” pungkasnya.








