SEMARANG, MettaNEWS – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengingatkan pentingnya menjaga ketakwaan dan akhlak mulia sebagai bekal utama seorang muslim dalam menjalani kehidupan sekaligus meraih surga.
Menurutnya, kesalehan seseorang tidak cukup hanya diukur dari ibadah, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku dan kemampuannya menjaga hati dari sifat iri serta dengki.
Pesan tersebut disampaikan Taj Yasin saat memberikan mauidhah hasanah dalam Pengajian Lapanan Fatayat, Muslimat NU Kecamatan Getasan, dan Majelis Umat Islam Sumogawe (MUIS) bersama KH Taj Yasin Maimoen dan Hj Nawal Nur Arafah Yasin di Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Minggu (8/11/2026).
Pengajian yang dihadiri ribuan warga tersebut menjadi momentum bagi Taj Yasin untuk mengajak masyarakat memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.
Ia menjelaskan, ketakwaan dan akhlak yang baik atau husnul khuluq merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan dalam kehidupan seorang muslim.
Mengutip hadis Rasulullah SAW, Taj Yasin menyampaikan bahwa perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga adalah ketakwaan kepada Allah SWT dan akhlak yang baik.
Menurutnya, ketakwaan bukan sekadar pengakuan secara lisan ataupun terlihat dari banyaknya ibadah yang dilakukan. Lebih dari itu, ketakwaan harus tumbuh dari hati dan diwujudkan melalui kesungguhan menjalankan perintah Allah dengan penuh keikhlasan.
“Kalau hanya mengatakan saya bertakwa kepada Allah, itu mudah. Tetapi yang terpenting adalah ketika ada perintah Allah, benar-benar kita jalankan. Bukan karena terpaksa, melainkan karena kesadaran dan ketulusan hati,” ujarnya.
Belajar dari Kisah Sahabat Rasulullah
Untuk memberikan gambaran tentang pentingnya menjaga hati, Taj Yasin mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kisah Abdullah bin Salam, salah satu sahabat Rasulullah SAW yang dikenal memiliki akhlak terpuji.
Ia menceritakan, Abdullah bin Amr bin Ash pernah penasaran dengan amalan Abdullah bin Salam setelah mengetahui Rasulullah SAW menyebutnya sebagai salah satu ahli surga.
Rasa penasaran tersebut membuat Abdullah bin Amr tinggal selama tiga hari di rumah Abdullah bin Salam untuk mengamati kebiasaan ibadah dan kehidupan sehari-harinya.
Namun, selama tinggal di sana, ia tidak menemukan amalan yang luar biasa atau berlebihan. Abdullah bin Salam menjalankan ibadah sebagaimana mestinya, bekerja memenuhi kebutuhan keluarga, dan menjalani kehidupan secara sederhana.
Ketika ditanya mengenai amalan yang membuatnya mendapat kabar gembira sebagai ahli surga, Abdullah bin Salam menjelaskan bahwa dirinya selalu berusaha menjaga hati agar tidak memiliki rasa iri terhadap orang lain.
Ia tidak merasa dengki ketika melihat orang lain mendapatkan kebahagiaan maupun kenikmatan.
Menurut Taj Yasin, kisah tersebut sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Tidak jarang hubungan antartetangga, bahkan antarkeluarga, menjadi renggang hanya karena seseorang tidak mampu menerima keberhasilan atau kebahagiaan orang lain.
Misalnya, ketika tetangga membeli kendaraan baru, membangun rumah, mendapatkan pekerjaan lebih baik, atau memperoleh rezeki lebih banyak. Kondisi yang semestinya disikapi dengan rasa syukur justru terkadang memunculkan perasaan iri.
“Kalau ada tetangga kita mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan, jangan sampai kita merasa iri,” pesannya.
Ibadah Harus Membentuk Akhlak
Selain mengingatkan pentingnya menjaga hati, Taj Yasin juga menekankan bahwa kualitas keimanan seseorang seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Ia mencontohkan keteladanan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang dikenal memiliki ketakwaan kuat dan keimanan yang tertanam dalam hati. Keteladanan tersebut menunjukkan bahwa kualitas seorang muslim tidak selalu dapat dinilai dari banyaknya amalan yang terlihat oleh orang lain.
Taj Yasin juga mengisahkan Tsabit bin Qais yang merasa khawatir ketika turun ayat Al-Qur’an mengenai larangan meninggikan suara di hadapan Rasulullah SAW. Kisah tersebut menggambarkan pentingnya menjaga sikap dan menghormati orang lain.
Sementara itu, kisah Dhimam bin Tsa’labah memberikan pelajaran tentang kesungguhan dalam memahami dan menjalankan kewajiban utama dalam Islam.
Dari berbagai kisah tersebut, Taj Yasin mengajak masyarakat agar tidak hanya berorientasi pada banyaknya ibadah, tetapi juga memperhatikan bagaimana ibadah membentuk karakter dan perilaku.
Seseorang yang rajin beribadah, lanjutnya, semestinya semakin mampu mengendalikan diri, menjaga perkataan, menghormati orang lain, serta menghindari tindakan yang dapat menyakiti sesama.
Ia berharap masyarakat menjadikan ketakwaan dan akhlak mulia sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah harus dilaksanakan dengan tulus karena Allah SWT, sedangkan hubungan dengan sesama dijaga melalui sikap saling menghormati dan menjauhi iri dengki.
“Semoga ibadah kita benar-benar dilakukan karena Allah SWT. Semoga kita juga mampu menjaga akhlak, tidak memiliki rasa iri dan dengki kepada tetangga maupun sesama muslim,” pungkasnya.








