Kado Ultah ke-21, Nabila Zahra Persembahkan Emas Sekaligus Tutup Perolehan Medali Angkat Berat Solo

oleh
oleh

SEMARANG, MettaNEWS – Momen ulang tahun ke-21 menjadi semakin istimewa atlet angkat berat bagi Nabila Zahra Ramadhani. Atlet Kota Surakarta itu mendapatkan kado terbaik berupa medali emas kelas 84 kilogram putri pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah XVII/2026.

Tak sekadar menjadi hadiah ulang tahun, medali tersebut juga memiliki arti khusus bagi Nabila. Pasalnya, emas Porprov kali ini merupakan medali emas pertama yang berhasil diraihnya sepanjang mengikuti berbagai kejuaraan angkat berat.

Nabila mengaku sempat diliputi keraguan dan rasa gugup sebelum pertandingan. Meski telah mendapatkan target emas dari tim pelatih, ia tidak sepenuhnya yakin mampu berdiri di podium tertinggi.

“Awalnya memang ditargetkan meraih emas. Namun, saya juga sempat tidak yakin dan merasa gugup. Setelah pertandingan selesai, alhamdulillah ternyata bisa mendapatkan emas,” ungkap Nabila kepada tim media KONI Surakarta.

Keberhasilan Nabila sekaligus menutup perolehan medali kontingen angkat berat Kota Surakarta di Porprov Jateng XVII/2026. Dari delapan atlet yang diturunkan, tim Kota Bengawan berhasil mengumpulkan lima medali, terdiri atas dua emas, dua perak, dan satu perunggu.

Satu medali emas lainnya disumbangkan Sania Aliyah Faza dari kelas 47 kilogram putri. Sementara itu, dua medali perak diraih Dwi Prasetyo di kelas 66 kilogram putra dan Adven Hindarto di kelas 74 kilogram putra. Adapun medali perunggu dipersembahkan Sarjanto dari kelas 59 kilogram putra.

Bagi Waktu Kuliah dan Latihan

Di balik keberhasilan meraih emas, Nabila harus menjalani persiapan yang tidak mudah. Sebagai mahasiswa semester tujuh, ia dituntut mampu membagi waktu antara kewajiban akademik dan latihan intensif.

Sejak Agustus, Nabila rutin menjalani latihan pagi dan sore untuk mempersiapkan diri menghadapi Porprov. Pada periode tersebut, ia juga harus mengikuti kegiatan kuliah kerja nyata (KKN).

Kondisi itu membuatnya harus berkomunikasi dengan teman-teman dan pihak kampus agar tetap bisa menjalani program latihan secara konsisten.

Tantangan kembali muncul pada September ketika Nabila mengikuti kegiatan kewirausahaan mahasiswa Indonesia di Purwokerto. Aktivitas tersebut membuatnya harus absen latihan selama dua hari.

Namun, setelah kegiatan selesai, ia langsung kembali ke Solo dan melanjutkan persiapan menghadapi Porprov.

“Mulai Agustus saya latihan pagi dan sore. Waktu itu juga ada KKN karena saya sudah semester tujuh. Saya sempat meminta izin kepada teman-teman dan kampus supaya tetap bisa latihan. September juga ada kegiatan di Purwokerto, jadi dua hari tidak latihan sama sekali. Setelah pulang, saya langsung latihan lagi,” tuturnya.

Dukungan teman-teman kuliah turut membantu Nabila melewati masa persiapan. Ia mengaku teman-temannya memahami jadwal latihan yang harus dijalani sehingga tetap bisa menyelesaikan tugas akademik tanpa mengganggu persiapan pertandingan.

“Teman-teman kuliah bangga dan memahami prosesnya. Kalau ada tugas, saya biasanya bilang harus pulang pukul 14.00 karena mau latihan. Alhamdulillah, mereka mengerti dan sangat mendukung,” katanya.

Selain teman-teman dan pihak kampus, keluarga juga memberikan dukungan penuh. Orang tuanya meminta Nabila fokus menyelesaikan pertandingan Porprov terlebih dahulu sebelum kembali memprioritaskan penyelesaian skripsi.

Tahan Sakit demi Medali Emas

Perjuangan Nabila tidak hanya berlangsung selama masa persiapan. Saat pertandingan, ia juga harus menghadapi rasa sakit pada bagian punggung ketika menjalani angkatan bench press.

Meski sempat merasakan nyeri cukup hebat, Nabila tetap berusaha menyelesaikan pertandingan. Baginya, kesempatan meraih medali emas menjadi motivasi untuk memberikan kemampuan terbaik.

“Saat pertandingan sebenarnya tidak ada kendala. Hanya ketika bench press, punggung sempat sakit sekali. Saya diam saja sambil menahan rasa sakit. Yang penting saat itu bisa mendapatkan emas,” ujarnya.

Setelah berhasil mengamankan medali emas pertamanya, Nabila kini mulai membidik kesempatan tampil pada kompetisi yang lebih tinggi. Ia berharap bisa mendapatkan kesempatan mengikuti babak kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (Pra-PON) sebagai langkah berikutnya dalam perjalanan kariernya di cabang angkat berat.

“Bismillah, semoga bisa ikut Pra-PON. Selama ini saya belum pernah meraih medali emas. Ini baru pertama kali,” katanya.

Nabila juga menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat Kota Surakarta yang telah memberikan doa dan dukungan selama dirinya berjuang di Porprov Jateng 2026.

“Terima kasih atas dukungan dan doa dari masyarakat Solo. Saya bersyukur bisa membawa nama Kota Surakarta di Porprov dan meraih medali emas,” pungkasnya.

Medali emas di usia 21 tahun menjadi pencapaian penting bagi Nabila. Di tengah kesibukan kuliah, tantangan latihan, hingga rasa sakit saat bertanding, ia berhasil membuktikan bahwa kerja keras dan konsistensi mampu mengantarkannya meraih prestasi sekaligus memberikan kado ulang tahun terbaik bagi dirinya sendiri.