SEMARANG, MettaNEWS – Tak semua atlet juara langsung piawai sejak pertama kali berlatih. Muhammad Aslan Alifiansyah, atlet menembak berusia 14 tahun asal Kota Solo, punya cerita unik tentang masa-masa awalnya mengenal olahraga tersebut. Alih-alih mengenai kertas sasaran, peluru yang ditembakkannya justru beberapa kali menyasar kabel lampu di dekat target.
Kini, kesalahan itu menjadi kenangan yang mengiringi keberhasilan Aslan meraih medali emas Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026. Siswa MTsN 1 Kota Solo tersebut sukses menjadi yang terbaik pada nomor 10 meter air pistol men, Selasa (27/10/2026).
Prestasi itu terasa istimewa karena Aslan merupakan atlet debutan yang baru pertama kali tampil di Porprov Jateng. Ia juga mampu mengungguli Muhammad Iqbal Raia Prabowo, atlet senior dari kontingen Kota Semarang yang baru saja meraih medali perak untuk Indonesia di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya.
Aslan mengaku tidak menyangka bisa membawa pulang medali emas. Menghadapi atlet yang lebih berpengalaman sempat menghadirkan tekanan, tetapi ia berusaha menjaga konsentrasi selama pertandingan.
“Jujur kaget sekali (meraih emas), tetapi alhamdulillah bahagia. Ada tekanan, tetapi saya tidak terlalu memikirkan tekanan itu saat final karena poin kualifikasi juga tidak terlalu tinggi dengan kontingen Kota Semarang,” ujar Aslan.
Berawal dari Hobi Permainan Tembakan
Ketertarikan Aslan terhadap olahraga menembak berawal dari kegemarannya pada permainan yang berkaitan dengan tembakan sejak kecil. Kesempatan menekuni olahraga tersebut datang ketika ia bertemu dengan pelatih menembak, Buyung Amran, yang kemudian mengajaknya berlatih.
Namun, perjalanan awalnya tidak selalu berjalan mulus. Membidik sasaran dengan tepat ternyata membutuhkan latihan, kekuatan tangan, dan teknik yang tidak sederhana.
Kertas sasaran berukuran sekitar 15 x 15 sentimeter menjadi titik bidik yang harus dikuasai Aslan. Akan tetapi, saat baru belajar, tembakannya beberapa kali justru mengenai kabel lampu yang menjuntai di sekitar sasaran.
Kesalahan itu berulang kali terjadi karena Aslan belum memahami teknik membidik dengan benar dan tangannya belum cukup kuat untuk memegang pistol dengan stabil.
Meski demikian, Buyung tidak pernah memarahinya. Sang pelatih justru memberikan semangat agar anak didiknya tidak kehilangan motivasi hanya karena kesalahan saat berlatih.
“Dulu sering kena kabel karena belum tahu cara membidik dengan benar dan tangan saya juga belum kuat. Tapi, Pak Buyung nggak pernah marah. Beliau bilang, kabel bisa diganti, tetapi poinmu itu nggak bisa,” ungkap Aslan.
Nasihat sederhana tersebut terus diingatnya. Bagi Aslan, pengalaman itu menjadi bagian dari proses panjang untuk menguasai teknik menembak hingga akhirnya mampu bersaing di tingkat provinsi.
Pelatih Masih Ingat Kabel yang Berulang Kali Kena Tembak
Buyung Amran pun masih mengingat betul kejadian tersebut. Saat Aslan mulai berlatih ketika duduk di kelas VII SMP, ia harus berkali-kali memberikan arahan agar bidikan anak didiknya tepat mengarah ke sasaran.
Namun, ketika peluru ditembakkan, hasilnya justru mengenai kabel penerangan yang berada di atas target.
“Setiap latihan, karena mungkin pegang pistol belum terlalu kuat. Saya arahkan kurang ke kiri, kurang ke kanan. Nah pas peluru ditembakkan, kenanya kabel buat penerangan lampu di atas sasaran,” ungkap Buyung.
Menurut Buyung, kesalahan itu terjadi berulang kali. Meski harus beberapa kali mengganti kabel, ia memilih tidak memarahi Aslan. Baginya, kesalahan merupakan bagian dari proses belajar yang harus dilalui atlet pemula.
“Yang penting kamu semangat untuk berlatih dulu, kabel bisa diganti. Momen itu pasti akan selalu teringat karena waktu awal latihan kamu (Aslan) pernah menembak kabel,” imbuhnya.
Kesabaran dalam membina atlet muda tersebut perlahan membuahkan hasil. Aslan menunjukkan perkembangan kemampuan yang pesat hingga mampu menorehkan prestasi di sejumlah kejuaraan.
Sebelum meraih emas Porprov Jateng 2026, ia pernah menjadi juara dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Kota Solo dan Popda Jawa Tengah dengan meraih medali emas.
Buyung menilai perkembangan Aslan tidak terlepas dari bakat, kerja keras, dan dukungan keluarga.
“Bakatnya sangat bagus. Berkat dukungan orang tua perkembangan Aslan di dunia menembak cepat juga,” tukas Buyung.
Bidik PON hingga Olimpiade
Medali emas Porprov Jateng 2026 menjadi pencapaian penting bagi Aslan, tetapi ia tidak ingin berhenti sampai di situ. Atlet muda tersebut menyimpan mimpi besar untuk tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON), bahkan menembus Olimpiade.
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Aslan bertekad meningkatkan intensitas latihan dan terus memperbaiki kemampuannya. Pengalaman bertanding di Porprov menjadi bekal berharga untuk menghadapi persaingan yang lebih tinggi.
Perjalanan Aslan menjadi pengingat bahwa prestasi tidak selalu lahir dari kesempurnaan sejak awal. Ada proses belajar, kesalahan, kesabaran pelatih, serta dukungan keluarga yang mengantarkan seorang atlet menuju podium juara.
Dari peluru yang dulu salah mengenai kabel lampu hingga kini tepat mengantarkannya meraih emas Porprov, Aslan membuktikan bahwa ketekunan dalam berlatih dapat membuka jalan menuju prestasi yang lebih besar.








