SEMARANG, MettaNEWS – Dedikasi guru pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK) mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti. Di tengah tantangan kesejahteraan, para pendidik dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan menyiapkan masa depan generasi muda.
Apresiasi tersebut disampaikan dalam Apel Akbar 10.000 Guru TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) se-Jawa Tengah, yang digelar dalam rangka Milad ke-107 TK ABA dan Milad ke-29 Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Jawa Tengah.
Ahmad Luthfi mengakui mendidik anak usia dini bukan pekerjaan mudah. Selain mengajarkan kemampuan dasar, guru TK juga bertanggung jawab mendampingi anak mengenal lingkungan, membangun karakter, serta mengembangkan kemampuan bersosialisasi.
“Terima kasih meski dengan gaji pas-pasan ibu-ibu sekalian bekerja dengan hati. Jadi guru TK itu tidak gampang, saya tidak sanggup membayangkan dulu TK saya kayak apa,” ujar Ahmad Luthfi.
Menurutnya, pendidikan merupakan fondasi penting bagi kemajuan Jawa Tengah sekaligus salah satu instrumen utama untuk mengentaskan kemiskinan. Karena itu, pendidikan perlu ditempatkan sebagai prioritas pembangunan, bukan sekadar pelengkap kebutuhan dasar masyarakat.
“Di Jateng ini, alas dasar untuk pengentasan kemiskinan paling utama adalah aspek pendidikan. Bukan hanya sandang, pangan, papan, melainkan paling pokok adalah pendidikan. Anak-anak kita yang masih kecil akan menjadi landasan Jawa Tengah maju berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045,” kata Ahmad Luthfi.
Guru TK Berperan Membentuk Karakter Anak
Pendidikan usia dini menjadi tahap penting dalam membangun fondasi perkembangan anak. Pengalaman belajar pada masa ini turut memengaruhi pembentukan karakter, kemandirian, kreativitas, dan kemampuan sosial sebelum anak memasuki jenjang sekolah dasar.
Peran guru TK tidak terbatas pada pengenalan huruf dan angka. Mereka juga perlu menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan, memahami kebutuhan setiap anak, serta memberikan ruang bagi anak untuk bermain, bertanya, bereksplorasi, dan berkreasi.
Pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak diperlukan agar proses pendidikan tidak menjadi beban akademik yang berlebihan. Dengan demikian, anak dapat menikmati kegiatan belajar sekaligus mengembangkan kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk melanjutkan pendidikan.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti sependapat bahwa guru TK memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk kepribadian anak sejak dini. Menurutnya, pendidik menjadi sosok yang ditiru anak, baik dalam perilaku maupun cara berinteraksi dengan lingkungan.
“Guru TK adalah role model bagi anak-anak, bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga sebagai orangtua dan sosok idola bagi anak-anak,” kata Abdul Mu’ti.
Ia menekankan bahwa kegembiraan dan kegiatan bermain perlu menjadi bagian penting dalam pembelajaran PAUD. Anak-anak harus memperoleh kesempatan mengembangkan diri melalui aktivitas yang sesuai dengan usia dan tahap pertumbuhannya.
Dengan pendekatan tersebut, bermain bukan sekadar selingan dalam kegiatan belajar, melainkan bagian dari proses anak memahami lingkungan, mengembangkan kreativitas, dan membangun keterampilan sosial.
Wajib Belajar 13 Tahun, Akses PAUD Jadi Perhatian
Selain meningkatkan kualitas pembelajaran, pemerintah berupaya memperluas akses pendidikan sejak usia dini melalui kebijakan wajib belajar 13 tahun, yang mencakup satu tahun pendidikan prasekolah sebelum anak memasuki SD.
Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa berdasarkan data yang dipaparkannya, baru 66 persen anak yang masuk SD tercatat pernah mengikuti pendidikan PAUD atau TK. Angka tersebut menunjukkan masih adanya tantangan untuk memastikan lebih banyak anak memperoleh pengalaman pendidikan prasekolah.
Perluasan akses PAUD menjadi penting agar kesempatan mendapatkan pendidikan sejak dini tidak hanya dinikmati anak-anak dari keluarga atau wilayah tertentu. Pemerataan layanan juga diperlukan untuk membantu mengurangi kesenjangan kesempatan belajar sebelum memasuki pendidikan dasar.
Selain akses, pemerintah mendorong peningkatan kualitas sarana dan prasarana TK melalui program revitalisasi satuan pendidikan.
Abdul Mu’ti menyebut, sebanyak 1.356 TK menerima bantuan revitalisasi pada 2025. Pada 2026, jumlah penerima ditingkatkan menjadi 13.831 TK di seluruh Indonesia.
Program tersebut diharapkan mendukung tersedianya lingkungan belajar yang lebih layak, aman, dan nyaman bagi anak-anak. Sarana pendidikan yang memadai perlu berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi guru dan kualitas proses pembelajaran.
Apresiasi Perlu Diiringi Perhatian terhadap Kesejahteraan Guru
Di Jawa Tengah, penguatan pendidikan anak usia dini membutuhkan sinergi pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, organisasi masyarakat, dan lembaga pendidikan sesuai kewenangannya.
Upaya tersebut mencakup pemerataan fasilitas, peningkatan kompetensi pendidik, serta pemenuhan hak anak untuk memperoleh pendidikan yang aman dan mendukung tumbuh kembang mereka.
Apresiasi kepada ribuan guru TK dalam apel akbar tersebut sekaligus menyoroti pentingnya peran pendidik dalam membangun fondasi pendidikan. Namun, penghargaan terhadap dedikasi guru juga perlu berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kesejahteraan dan dukungan bagi mereka dalam menjalankan tugas.
Sebab, keberhasilan pendidikan anak usia dini tidak hanya ditentukan oleh fasilitas sekolah atau kurikulum, tetapi juga oleh kualitas interaksi antara guru dan anak setiap hari.
Dengan akses pendidikan yang lebih merata, sarana yang memadai, dan pendidik yang mendapat dukungan layak, pendidikan anak usia dini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan masa depan Indonesia.








