Gubernur Luthfi Tegaskan Santri Jadi Garda Depan Perangi Kemiskinan, Pemprov Jateng Siapkan Beasiswa Rp 6,8 Miliar

oleh
oleh

TEGAL, MettaNEWS  – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan santri memiliki peran strategis dalam memerangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Jika dahulu santri berjuang melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia, kini perjuangan tersebut harus dilanjutkan melalui kontribusi nyata dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Pesan itu disampaikan Ahmad Luthfi saat menghadiri kegiatan Jateng Bersholawat di Jalan Pancasila, Kota Tegal, Rabu malam (21/10/2026), sebagai pembuka rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Di hadapan ribuan warga, Ahmad Luthfi menegaskan Hari Santri bukan sekadar momentum mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Peringatan tersebut juga menjadi pengingat akan tanggung jawab generasi santri dalam menentukan masa depan bangsa.

“Santri adalah garda terdepan dan benteng terakhir Jawa Tengah untuk memerangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Ahmad Luthfi.

Menurutnya, semangat Resolusi Jihad yang dahulu digelorakan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari bersama para santri dalam melawan penjajah harus terus diwariskan. Namun, tantangan zaman telah berubah sehingga perjuangan santri perlu diwujudkan melalui upaya mengatasi persoalan sosial dan ekonomi, tanpa meninggalkan pendidikan agama.

Jawa Tengah memiliki sekitar 5.400 pondok pesantren dengan 555 ribu santri. Jumlah tersebut menjadi potensi besar untuk memperkuat pendidikan, menumbuhkan kepedulian sosial, serta mencetak generasi yang mampu berkontribusi dalam berbagai bidang.

“Jawa Tengah memiliki hampir 38 juta penduduk, dengan sekitar 98 persen di antaranya beragama Islam, termasuk kalangan santri,” ujarnya.

Beasiswa Rp 6,8 Miliar untuk Santri

Untuk memperkuat kapasitas santri, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menghadirkan program Pesantren Obah. Program ini memberikan beasiswa kepada santri dan pengasuh pesantren untuk menempuh pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri.

Pada 2026, Pemprov Jateng mengalokasikan anggaran Rp 6,8 miliar untuk mendukung program pendidikan tersebut. Dari 942 pendaftar, sebanyak 15 santri dinyatakan lolos seleksi untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, Yaman, dan Tiongkok.

Dukungan pendidikan juga diberikan kepada santri yang menempuh pendidikan di Ma’had Aly. Menjelang peringatan Hari Santri, sebanyak 424 santri menerima beasiswa. Bantuan serupa turut diberikan kepada santri penggerak yang aktif dalam organisasi intra maupun ekstra kampus dan tetap tinggal di pesantren.

Selain beasiswa, Pemprov Jateng melanjutkan sejumlah program dukungan bagi pesantren dan kalangan keagamaan. Program tersebut mencakup pemberian insentif bagi guru agama, tali asih bagi santri penghafal Al-Qur’an, serta hibah dan bantuan renovasi pondok pesantren maupun masjid.

Pada 2025, insentif guru agama disalurkan kepada 230.830 penerima, masing-masing sebesar Rp 1,2 juta per tahun. Total anggaran yang dialokasikan mencapai sekitar Rp 277 miliar. Program tersebut kembali dilanjutkan pada 2026.

Berbagai dukungan ini menjadi bagian dari upaya Pemprov Jateng memperkuat pendidikan keagamaan sekaligus meningkatkan kontribusi pesantren bagi masyarakat. Besarnya jumlah pesantren dan santri dinilai perlu diimbangi dengan dukungan berkelanjutan agar lembaga pendidikan tersebut semakin berkembang.

Gus Yusuf Ingatkan Tanggung Jawab Menjaga Bangsa dan Umat

Dalam kesempatan yang sama, ulama Gus Yusuf Chudlori mengingatkan bahwa kiai, ulama, dan santri memiliki peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Semangat tersebut harus terus menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurut Gus Yusuf, terdapat dua tanggung jawab utama yang perlu dipegang teguh kalangan pesantren, yakni menjaga keutuhan bangsa dan menjaga umat.

Ia juga mengajak masyarakat mendoakan warga yang terdampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatra, serta kebakaran di kawasan Gunung Sumbing. Selain itu, ia meminta aparat menindak pelaku pembakaran hutan dan lahan yang terbukti melanggar hukum.

“Kita berdoa untuk saudara-saudara kita di Kalimantan dan Sumatra. Kita juga meminta pemerintah menindak tegas orang-orang yang dengan serakah membakar hutan dan lahan. Mereka harus segera ditangkap dan diadili demi kemajuan Indonesia. Santri juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga bangsa dan umat,” ujarnya.

Gus Yusuf menjelaskan, menjaga umat juga berarti memastikan masyarakat memperoleh pendidikan dan bimbingan agama yang memadai. Karena itu, peran kiai di kampung, guru mengaji, pengajar madrasah diniyah, hingga guru sekolah sangat penting dalam membangun kehidupan sosial masyarakat.

Ia mengapresiasi perhatian Pemprov Jateng terhadap pesantren dan tenaga pendidik keagamaan. Meski demikian, ia berharap dukungan tersebut terus ditingkatkan karena pesantren masih membutuhkan pengakuan dan perlindungan yang lebih kuat.

“Saya minta perhatiannya ditambah karena pesantren masih butuh perhatian lebih, butuh rekognisi. Jangan setengah-setengah kalau mau melindungi santri,” kata Gus Yusuf.

Kegiatan Jateng Bersholawat menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah. Acara tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono, Wakil Wali Kota Tegal Iin Tazkiyatul Muthmainnah, jajaran Forkopimda, serta sejumlah kepala daerah.

Sementara itu, tausiyah dan selawat dipimpin sejumlah ulama, di antaranya Gus Yusuf Chudlori, Gus Kautsar, dan Habib Bidin.