SOLO, MettaNEWS – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Surakarta mengajak siswa SMK Batik 1 Surakarta memahami demokrasi sejak bangku sekolah. Melalui pembekalan Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK), para siswa diajak mengembangkan kemampuan berorganisasi, membangun jejaring, serta mengenali proses demokrasi melalui pemilihan ketua OSIS.
Pembekalan tersebut berlangsung di aula SMK Batik 1 Surakarta, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan diikuti perwakilan siswa dari masing-masing kelas yang mendapatkan materi tentang pengembangan diri, kepemimpinan, dan praktik demokrasi.
Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat (P2H) Bawaslu Kota Surakarta, Agus Sulistyo, mengatakan generasi muda perlu mempersiapkan kompetensi sejak dini untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat.
Menurut dia, kemampuan akademik perlu diimbangi dengan keterampilan berorganisasi, membangun relasi, bekerja sama, serta menguasai teknologi.
“Dunia persaingan ke depan diprediksikan akan sangat kompetitif. Siapa pun yang tidak mempunyai kompetensi untuk bersaing, tidak mampu membangun jejaring, dan lemah dalam penguasaan teknologi, maka akan tergulung ganasnya ombak perkembangan zaman,” ungkap Agus.
Ia menjelaskan, organisasi menjadi salah satu ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Melalui kegiatan organisasi, siswa dapat belajar memimpin, berkomunikasi, mengambil keputusan, bekerja sama, hingga menyelesaikan persoalan.
Pengalaman berorganisasi juga membantu siswa mengenali potensi diri dan mengasah kreativitas. Bekal itu diharapkan berguna ketika mereka melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, maupun terjun langsung ke tengah masyarakat.
Belajar Demokrasi Tak Harus Menunggu Pemilu
Dalam pembekalan tersebut, Agus juga mengajak para siswa memahami pentingnya partisipasi masyarakat dalam mengawal kualitas demokrasi melalui pengawasan partisipatif.
Menurutnya, pendidikan demokrasi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di lingkungan sekolah. Di antaranya berani menyampaikan pendapat secara santun, bermusyawarah ketika menghadapi perbedaan, menghargai pilihan orang lain, serta menerima keputusan bersama dengan penuh tanggung jawab.
Demokrasi, kata dia, bukan semata-mata mengenai pihak yang menang atau kalah dalam pemilihan. Lebih dari itu, demokrasi juga menyangkut proses yang adil, keterlibatan setiap orang, serta penghormatan terhadap hak dan pilihan masing-masing.
Para siswa juga diperkenalkan pada persamaan dan perbedaan antara pemilihan OSIS dan pemilu di Indonesia. Materi mencakup perencanaan pemilihan, tahapan penyelenggaraan, pentingnya mematuhi aturan, hingga mendorong partisipasi pemilih.
Melalui pemahaman tersebut, pemilihan OSIS diharapkan tidak hanya menjadi agenda rutin sekolah, tetapi juga sarana praktik demokrasi secara langsung.
Proses pemilihan yang tertib, jujur, adil, dan melibatkan seluruh warga sekolah menjadi bagian penting dalam membangun budaya demokrasi yang sehat sejak dini.
Siapkan Calon Pemimpin Masa Depan
Guru pendamping sekaligus penanggung jawab kegiatan, Maylinda, mengatakan pembekalan bersama Bawaslu penting untuk memperluas wawasan siswa mengenai pemilu, pemilihan, dan praktik demokrasi di lingkungan sekolah.
“Siswa dibekali pengetahuan tentang pemilu dan pemilihan, termasuk bagaimana tahapan pemilu dilaksanakan. Harapannya, mereka juga memahami bagaimana merencanakan pemilihan OSIS yang baik, yang praktiknya akan menyerupai penyelenggaraan pemilu sesungguhnya di Indonesia,” ujar Maylinda.
Ia berharap kerja sama dengan Bawaslu dapat terus dikembangkan agar memberikan manfaat lebih besar bagi siswa, khususnya dalam menyiapkan calon pemimpin masa depan yang memahami nilai-nilai demokrasi.
“Melalui kerja sama dengan Bawaslu, harapannya ke depan kita dapat berkolaborasi lebih bermakna dalam menyiapkan generasi calon-calon pemimpin bangsa pada masa yang akan datang,” tambahnya.
Agus menegaskan, generasi muda perlu mengambil peran dalam menjaga kualitas demokrasi, bukan hanya menjadi pemilih ketika sudah memiliki hak suara. Para pelajar dapat memulainya dari lingkungan terdekat, termasuk terlibat aktif dalam organisasi dan mengawal pemilihan OSIS agar berlangsung secara demokratis.
“Saatnya pelajar naik level, dimulai dari SMK Batik 1 ini. Bukan sekadar aktif berorganisasi atau ikut memilih, tetapi juga belajar memimpin, menghargai perbedaan, dan mengambil bagian dalam membangun masa depan yang lebih baik,” pungkas Agus.








