Mahasiswa UMS Ciptakan Platform Skrining Perkembangan Anak, Raih Silver Medal WICE 2026 di Malaysia

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS — Inovasi digital mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil meraih penghargaan internasional. Melalui KINDO.fun, tim mahasiswa UMS mengembangkan platform interaktif untuk skrining risiko keterlambatan perkembangan anak dan meraih Silver Medal dalam ajang 8th World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di Malaysia.

Inovasi yang mengusung judul “Kindo: An Interactive Digital Screening Platform for Early Detection of Developmental Delay Risk in Children” tersebut dikembangkan sebagai solusi untuk membantu pemantauan perkembangan anak secara lebih praktis dan interaktif.

Anggota tim KINDO, Asrofi Noor Masithoh, mengatakan ide pengembangan platform tersebut berawal dari masih adanya kesenjangan dalam pemantauan perkembangan anak di masyarakat.

Menurutnya, pemantauan tumbuh kembang selama ini cenderung lebih banyak berfokus pada pertumbuhan fisik. Padahal, aspek perkembangan anak juga membutuhkan instrumen khusus agar risiko keterlambatan dapat diketahui sejak dini.

“Ide pengembangan KINDO berawal dari adanya gap dalam dunia kesehatan anak. Kementerian Kesehatan RI sejak 2012 sudah menghadirkan instrumen pemantauan perkembangan anak usia 0–72 bulan, tetapi sistem yang digunakan terutama di layanan kesehatan primer seperti posyandu masih banyak yang manual menggunakan kertas,” ujar Asrofi saat diwawancarai Selasa (29/9/2026).

Ia menambahkan, pemantauan di lapangan terkadang masih berfokus pada aspek fisik melalui antropometri. Karena itu, tim menghadirkan KINDO sebagai platform digital yang dapat membantu proses skrining perkembangan anak.

KINDO dirancang untuk membantu orang tua maupun tenaga kesehatan primer memantau sejumlah aspek perkembangan anak, meliputi motorik halus, motorik kasar, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian.

Pada tahap awal pengembangan, KINDO mengadopsi Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP) yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI sebagai instrumen deteksi dini perkembangan anak usia 0–72 bulan.

Digitalisasi instrumen tersebut diharapkan dapat membuat proses skrining lebih praktis sekaligus meningkatkan kesadaran orang tua dan tenaga kesehatan mengenai pentingnya pemantauan perkembangan anak.

Tak hanya menyediakan menu skrining digital, KINDO juga dilengkapi sejumlah fitur pendukung. Di antaranya skoring dan interpretasi otomatis, rekomendasi stimulasi berdasarkan hasil skrining, longitudinal record, dashboard tenaga kesehatan berdasarkan wilayah, grafik pertumbuhan anak, hingga reminder system untuk mengingatkan jadwal skrining secara berkala.

Ke depan, pemanfaatan KINDO juga berpeluang dikembangkan dengan mengintegrasikan instrumen pemantauan perkembangan anak yang berstandar internasional.

Asrofi mengatakan pengembangan platform tersebut menjadi pengalaman kolaboratif bagi mahasiswa lintas disiplin. Tim KINDO terdiri atas mahasiswa dari Program Studi Keperawatan, Teknik Informatika, Pendidikan Teknik Informatika, dan Profesi Ners.

“Sebagai mahasiswa keperawatan, kami menyadari bahwa kami tidak bisa merealisasikan ide ini sendiri. Oleh karena itu, kami berkolaborasi dengan teman-teman dari Prodi Teknik Informatika dan Pendidikan Teknik Informatika untuk mewujudkan website KINDO ini,” jelasnya.

Kolaborasi lintas bidang tersebut memungkinkan setiap anggota memberikan keahlian masing-masing, sekaligus menghasilkan berbagai gagasan baru untuk menyelesaikan persoalan selama proses pengembangan.

Pengembangan KINDO dilakukan menggunakan metode Research and Development dengan kerangka ADDIE, yang meliputi tahap Analysis, Design, Development, Implementation, hingga Evaluation.

Dalam prosesnya, tim memperoleh pendampingan dari Siti Arifah, S.Kp., M.Kes., Ph.D., selaku supervisor. Sebagai dosen keperawatan anak, pendampingan tersebut turut mendukung proses digitalisasi instrumen KPSP ke dalam platform KINDO.

Asrofi berharap inovasi tersebut dapat berkontribusi dalam membangun budaya skrining perkembangan anak yang lebih proaktif sekaligus mendukung digitalisasi layanan kesehatan primer.

“Kami berharap melalui KINDO, kami bisa berkontribusi dalam menumbuhkan budaya skrining perkembangan anak yang proaktif serta mendukung digitalisasi dan integrasi sistem layanan kesehatan primer,” ungkapnya.

Capaian Silver Medal diperoleh tim UMS dalam WICE 2026, kompetisi yang mempertemukan inventor, inovator, peneliti, pelajar, dan mahasiswa dari berbagai negara.

Pada penyelenggaraan tahun ini, WICE menghadirkan lima bidang utama, yakni Applied Life Sciences, Innovative Social Sciences, Applied Physics and Engineering, Environmental Sciences, serta IT and Robotics.

WICE 2026 merupakan penyelenggaraan ke-8 yang digelar melalui kolaborasi Indonesian Young Scientist Association (IYSA) dan SEGi University & Colleges. Kompetisi berlangsung secara daring pada 10–14 September 2026 dan luring pada 20–24 September 2026 di SEGi University, Kota Damansara, Malaysia.

Dalam sesi penjurian dan pameran, KINDO mendapatkan apresiasi dari juri dan pengunjung hingga akhirnya meraih Silver Medal pada sesi awarding.

Tim UMS yang membawa inovasi tersebut terdiri atas Asrofi Noor Masithoh, Putri Azzahra Namora, Reja Arrafi, Airlangga Pradana Prakusa, Shafwan Aulia Rahman, dan Tasya Annisa Yunita.