Wagub Taj Yasin Dorong Donor Darah Jadi Penopang Medical Tourism Jawa Tengah, Stok PMI Capai 97 Persen

oleh
oleh

SEMARANG, MettaNEWS – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendorong penguatan budaya donor darah sebagai bagian dari pembangunan ekosistem kesehatan untuk mendukung Jawa Tengah menjadi destinasi medical tourism atau wisata kesehatan.

Hal itu disampaikan Taj Yasin yang juga Ketua Dewan Kehormatan Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Tengah saat Penyerahan Penghargaan dan Temu Donor Darah Sukarela ke-50 dan ke-75 kali PMI Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah di Balairung Astina Ballroom UTC Convention Hotel Semarang, Selasa (29/9/2026).

Acara tersebut turut dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan jajaran Forkopimda Provinsi Jawa Tengah.

Taj Yasin mengatakan, donor darah tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan darah bagi pasien, tetapi juga menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan dan kemanusiaan.

Karena itu, budaya donor darah perlu terus dikembangkan seiring dengan upaya Jawa Tengah memperkuat sektor kesehatan.

“Semoga dengan donor kita bisa mewujudkan kesehatan, menyelamatkan nyawa. Bahkan kita ingin Jawa Tengah menjadi wisata kesehatan, medical tourism. Nah, ini yang kita dorong,” kata Taj Yasin usai acara.

Menurutnya, tingginya partisipasi masyarakat dalam donor darah menjadi modal sosial penting dalam mendukung penguatan layanan kesehatan di Jawa Tengah.

Ia menyebut setiap tahun jumlah masyarakat yang aktif melakukan donor darah mencapai lebih dari 2.000 orang. Konsistensi tersebut terlihat dari banyaknya pendonor yang telah mencapai 50 hingga 75 kali donor.

“Tadi saya melihat banyak pendonor ke-75, dimulai dari usia 17 tahun, artinya usia pertama kali bisa melakukan donor,” ujarnya.

Selain menjaga ketersediaan darah, Taj Yasin menilai peningkatan kualitas layanan juga diperlukan. Salah satunya melalui digitalisasi pelayanan donor darah.

Ia meminta PMI di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota memanfaatkan teknologi digital untuk memudahkan masyarakat yang hendak mendonorkan darah.

Menurutnya, digitalisasi dapat membuat calon pendonor mengetahui informasi layanan dan mengatur kedatangan sehingga tidak perlu menghabiskan waktu untuk mengantre.

“Untuk digitalisasi kita perlu utamanya dalam pelayanan sehingga mereka tidak perlu antre. Saya berpesan kepada PMI, baik itu provinsi, kabupaten, kota, mereka yang mau donor jangan antre lagi. Jadi mereka dengan digitalisasi langsung datang,” katanya.

Kebutuhan Darah Rumah Sakit Terpenuhi 97 Persen

Penguatan budaya donor darah tersebut juga didukung ketersediaan darah yang relatif aman di Jawa Tengah.

Ketua PMI Jawa Tengah Haryanto mengatakan sekitar 97 persen kebutuhan darah rumah sakit di Jawa Tengah dapat dipenuhi oleh PMI.

“Bahwa kebutuhan darah di rumah sakit 97 persen dapat dipenuhi oleh PMI se-Jawa Tengah. Sehingga Jateng termasuk stok darah paling aman,” kata Haryanto.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 2.343 pendonor sukarela dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah menerima penghargaan. Sebanyak 1.743 orang telah mencapai donor darah ke-50, sedangkan 405 orang mencapai donor darah ke-75.

Haryanto menjelaskan, untuk mencapai 50 kali donor, seorang pendonor membutuhkan waktu sekitar 13 hingga 14 tahun. Sementara untuk mencapai 75 kali donor, dibutuhkan waktu sekitar 18 tahun.

Khusus pendonor yang telah mencapai 75 kali donor, total darah yang disumbangkan mencapai sekitar 37,5 liter per orang.

“Yang 75 kali ini sudah mendonorkan darahnya 37,5 liter. Ini luar biasa. Tanda jasa yang diberikan tidak seberapa dibandingkan dengan pengorbanan yang tulus dari Bapak-Ibu sekalian,” ujarnya.

Donor Darah Berawal dari Keinginan Membantu

Di balik penghargaan tersebut, terdapat beragam kisah pendonor yang secara konsisten menyumbangkan darahnya selama bertahun-tahun.

Agustian, pendonor ke-75 kali asal Kabupaten Magelang, mengaku mulai donor darah sejak usia sekitar 16-17 tahun. Keinginannya sederhana, yakni membantu orang lain.

“Kalau mau membantu orang lain dengan uang atau materi mungkin belum bisa. Tetapi kalau darah, insyaallah bisa,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Raditya Soni, pendonor ke-50 kali. Ia mengaku bangga mendapat undangan dalam kegiatan penghargaan tingkat Jawa Tengah tersebut.

“Saya apresiasi. Alhamdulillah, diundang ini suatu kebanggaan tersendiri,” kata Raditya.

Sementara itu, Saparwanti (67), pendonor asal Bulukerto, Wonogiri, telah mendonorkan darah sebanyak 52 kali. Mantan guru SD tersebut menilai donor darah merupakan bentuk kepedulian sosial untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

“Ini kan sosial, untuk menolong orang yang membutuhkan. Saya merasa senang juga karena kegiatan sosial kita dihargai,” ujarnya.

Ada pula pengalaman personal yang mendorong seseorang menjadi pendonor. Sriwahyuni, guru TK asal Jatisrono, Wonogiri, mengaku pernah beberapa kali menerima transfusi darah ketika menjalani operasi sesar.

Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya untuk ikut mendonorkan darah agar dapat membantu orang lain.

“Dulu saya pernah mendapatkan transfusi beberapa kali ketika operasi sesar. Setelah itu saya berniat ikut mendonorkan darah, biar bisa bermanfaat untuk orang,” katanya.

Sriwahyuni mengaku bangga menerima penghargaan tingkat Provinsi Jawa Tengah. Sebelumnya, ia juga telah menerima penghargaan atas donor darah ke-10, ke-15, dan ke-25 dari PMI setempat.

“Merasa bangga karena apa yang sudah kita lakukan mendapatkan penghargaan di tingkat Provinsi Jawa Tengah,” ujarnya.

Taj Yasin berharap konsistensi para pendonor tersebut dapat menginspirasi lebih banyak masyarakat untuk ikut berdonor. Menurutnya, budaya donor darah yang kuat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan transfusi, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan layanan kesehatan dan kemanusiaan di Jawa Tengah.