Dari Yaman ke UMS, Asem Abdulah Lanjutkan S2 Fisioterapi untuk Kembali Mengabd

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Empat tahun menjalani studi di Indonesia tanpa pernah pulang ke Yaman tidak menyurutkan langkah Asem Abdullah Ahmad Abdo untuk menuntaskan pendidikan.

Mahasiswa asal Taiz, Yaman, itu kini melanjutkan studi S2 Fisioterapi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) setelah menyelesaikan jenjang S1 di kampus yang sama.

Asem menjadi salah satu wisudawan pada Upacara Wisuda Program Sarjana, Magister, dan Doktor UMS Periode I Tahun Akademik 2026/2027 di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Sabtu (26/9/2026).

Pada kesempatan tersebut, Asem juga berkesempatan berbincang dengan Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum.
Di balik kelulusannya, tersimpan perjalanan panjang. Selama empat tahun berada di Indonesia, Asem belum sekalipun kembali ke kampung halamannya di Taiz karena kondisi keamanan yang belum menentu.

“Setiap kali saya mau balik, situasi keamanan tidak enak. Selama empat tahun belum pernah balik,” ungkapnya.

Jauh dari keluarga membuat Asem harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, selama menjalani pendidikan di UMS, ia justru menemukan lingkungan yang membuatnya merasa memiliki keluarga kedua.

Tidak hanya belajar di ruang kelas, Asem juga berinteraksi langsung dengan masyarakat. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kawasan Gawok, Kartasura.

Dalam kegiatan tersebut, ia berbaur dengan warga sekaligus mulai mengenal bahasa Jawa.

“Setitik-setitik,” ujarnya ketika ditanya mengenai kemampuan berbahasa Jawa.

Dari Farmasi Beralih ke Fisioterapi

Sebelum melanjutkan pendidikan di Indonesia, Asem sempat menempuh studi S1 Farmasi selama satu tahun di Yaman. Namun, ketertarikannya terhadap bidang fisioterapi kemudian membawanya memilih UMS.

Kesempatan tersebut semakin terbuka setelah Asem mendapatkan International Priority Scholarship (IPS) berkat prestasi akademiknya.

Ia memilih Program Studi Fisioterapi UMS karena melihat perkembangan program studi tersebut serta kesempatan memperoleh pengalaman praktik yang menjadi bagian penting dalam penguasaan ilmu fisioterapi.

Selama menempuh pendidikan, Asem menjalani praktik di sejumlah klinik dan rumah sakit di Solo. Ia juga mengikuti internship selama satu bulan di klinik fisioterapi, terutama dalam pelayanan rehabilitasi dan pendampingan pasien setelah operasi.

“Pengalaman yang saya dapat sangat akan bermanfaat nanti pas saya balik ke Yaman sana,” tuturnya.

Pengalaman praktik itu tidak berhenti setelah Asem menyelesaikan S1. Saat ini, ia masih aktif mengembangkan keterampilan melalui kegiatan homecare bagi warga Arab di Indonesia serta menjalani internship di sebuah klinik di Boyolali.

Sejumlah layanan fisioterapi juga telah dipraktikkannya, antara lain akupunktur dan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS).

Kini, Asem memasuki pekan ketiga studi S2 Fisioterapi UMS melalui skema beasiswa. Baginya, melanjutkan pendidikan bukan sekadar mengejar gelar, tetapi menjadi bagian dari persiapan untuk kembali memberikan kontribusi di negara asalnya.
Ingin Jadi Dosen di Yaman

Asem memiliki cita-cita menjadi dosen di Universitas Teknologi Yaman setelah menyelesaikan studi S2. Ia ingin mentransfer ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama belajar di UMS untuk ikut mengembangkan pendidikan fisioterapi di Yaman.

“Insyaallah jadi dosen di sana biar ilmunya pindah. Jadi kita mau bawa UMS juga ke sana,” ujarnya.

Rencana tersebut juga berkaitan dengan kerja sama yang telah terjalin antara UMS dan University of Science and Technology Yemen (USTY). Asem berharap pengalamannya selama belajar di UMS dapat menjadi jembatan untuk memperkuat hubungan akademik antara kedua perguruan tinggi.

Ia juga mencermati berbagai fasilitas pembelajaran dan praktik fisioterapi yang tersedia di UMS. Berbagai pengalaman tersebut ingin dibawanya sebagai referensi ketika kelak kembali ke Yaman.

Perjalanan Asem menunjukkan bagaimana pendidikan bagi mahasiswa internasional tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Interaksi dengan masyarakat, pengalaman praktik, serta kehidupan di lingkungan baru turut menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya sebagai calon tenaga profesional sekaligus akademisi.

Ia berharap UMS terus berkembang dan memperluas kiprahnya di tingkat nasional maupun internasional.

“Harapan saya untuk kampus UMS, maju terus sampai target nomor satu di seluruh Indonesia, dan sampai internasional insyaallah,” tambah Asem.

Sementara itu, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno menekankan bahwa pendidikan tidak seharusnya berhenti ketika seseorang memperoleh gelar akademik.

Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan harus diwujudkan dalam tindakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Jangan berhenti belajar, jangan berhenti pada gelar. Teruslah belajar, jadilah pembelajar sepanjang hayat. Karena ilmu yang hanya disimpan akan menjadi pengetahuan, ilmu itu harus diamalkan supaya menjadi manfaat,” jelasnya.

Prof. Harun juga menekankan pentingnya pengalaman mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu sekaligus hidup berdampingan dengan masyarakat.

“Knowing itu penting, tetapi doing itu penting, yang lebih penting lagi adalah living together,” tuturnya.