SEMARANG, MettaNEWS – Jawa Tengah tengah menyiapkan langkah besar untuk mengembalikan kejayaan olahraga dayung. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Jateng memperkuat pembinaan atlet, sarana latihan hingga memperbanyak kompetisi.
Momentum kebangkitan itu salah satunya akan dimulai dari Rawa Pening, Kabupaten Semarang, yang bakal menjadi arena pertandingan dayung pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah awal Oktober 2026.
Tak hanya mengejar prestasi, pemanfaatan Rawa Pening sebagai venue olahraga juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Pengurus Provinsi PODSI Jawa Tengah membahas strategi pengembangan olahraga dayung dalam pertemuan di Semarang, Rabu (2/9/2026).
Ketua Pengprov PODSI Jawa Tengah, Maryadi Utama, mengatakan Jateng memiliki modal alam yang sangat besar untuk membangun olahraga dayung.
Sejumlah bendungan, rawa, sungai hingga banjir kanal dinilai dapat dimanfaatkan sebagai lokasi latihan maupun penyelenggaraan kejuaraan.
“Potensi olahraga dayung kita sangat luar biasa. Dari segi sarana kita punya banyak bendungan, rawa, hingga banjir kanal atau sungai. Daerah tidak kekurangan atlet, cuma kurang pembinaan maupun peralatan,” kata Maryadi.
Bukan Kekurangan Atlet, Tapi Pembinaan dan Peralatan
Menurut Maryadi, tantangan utama dayung Jawa Tengah saat ini bukan terletak pada minimnya potensi atlet. Persoalannya lebih pada pembinaan yang belum maksimal serta keterbatasan peralatan.
Prestasi dayung Jateng dalam beberapa tahun terakhir dinilai belum kembali ke level terbaik. Pada PON XXI Aceh-Sumut 2024, misalnya, atlet asal Blora, Rifki Bagus Winoyo, menjadi salah satu atlet yang masih mampu menyumbangkan medali dengan meraih perunggu.
Karena itu, PODSI Jateng mendorong pembinaan dilakukan secara berkelanjutan sejak tingkat kabupaten/kota.
Selain peralatan, frekuensi kompetisi juga perlu ditingkatkan. Kejuaraan berjenjang diyakini dapat memberikan pengalaman bertanding sekaligus menjadi ajang pencarian bibit atlet baru.
“Sinergisitas dalam pembinaan dan dukungan fasilitas seperti peralatan serta lebih banyak kejuaraan tingkat kabupaten/kota dan provinsi menjadi penting,” ujarnya.
Rawa Pening Jadi Panggung Kebangkitan
Dalam waktu dekat, perhatian PODSI Jateng tertuju pada Porprov Jawa Tengah yang dijadwalkan berlangsung awal Oktober 2026.
Cabang olahraga dayung akan dipertandingkan di Rawa Pening. Persiapan venue pun dilakukan melalui koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), terutama untuk menangani eceng gondok yang berpotensi mengganggu arena pertandingan.
Namun, bagi PODSI, Rawa Pening bukan sekadar tempat pertandingan.
Maryadi melihat penyelenggaraan Porprov dapat menjadi pintu masuk untuk menggabungkan olahraga, pariwisata dan perekonomian masyarakat.
“Rawa Pening itu potensi wisatanya sangat besar. Jadi selain olahraga dan prestasi, juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar melalui pariwisatanya. Orang berdatangan tentunya akan belanja, minum dan makan, ekonomi akan bergerak,” katanya.
Kehadiran atlet, ofisial, keluarga dan penonton diharapkan memberikan efek berantai bagi masyarakat sekitar. Mulai dari pelaku UMKM, usaha kuliner, transportasi, jasa hingga sektor pariwisata berpotensi ikut merasakan dampaknya.
Bukan Cuma Porprov, Ada Kejurprov Perebutkan Piala Gubernur
Selain menyiapkan Porprov, PODSI Jateng juga melaporkan kesiapan menghadapi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Tengah.
PODSI juga merencanakan Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Dayung untuk memperebutkan Piala Gubernur Jawa Tengah.
Rangkaian kompetisi tersebut diharapkan menjadi bagian dari sistem pembinaan yang lebih berkelanjutan. Atlet muda memiliki lebih banyak kesempatan untuk berkompetisi, sementara pelatih dapat memantau perkembangan dan mencari talenta potensial.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan dukungannya terhadap upaya PODSI mengembalikan prestasi dayung Jateng.
Ia meminta koordinasi lintas sektor diperkuat agar program pembinaan dapat berjalan lebih terarah.
“Koordinasikan dengan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah dan KONI,” ujar Ahmad Luthfi.
Venue Dayung Butuh Kolaborasi Banyak Pihak
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah, Chandra Destianto, mengatakan PODSI selama ini konsisten melakukan pembinaan atlet.
Namun, pengembangan olahraga dayung memang membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Sebab, venue latihan maupun pertandingan berada di kawasan perairan yang pengelolaannya melibatkan berbagai instansi.
“Koordinasi tersebut tidak hanya pembinaan atlet dan kejuaraan. Kami juga berupaya berkoordinasi dan kolaborasi dengan BBWS dan pihak terkait, karena tempatnya seperti sungai dan rawa itu wewenangnya ada di BBWS dan kabupaten. Ini harus dilakukan bersama-sama,” katanya.
Dengan banyaknya potensi bendungan, rawa dan sungai yang tersebar di berbagai wilayah, Jawa Tengah sejatinya memiliki modal kuat untuk membangun pusat-pusat pembinaan dayung.
Kini pekerjaan rumahnya adalah memastikan potensi tersebut diikuti dengan pembinaan yang konsisten, peralatan yang memadai, kompetisi berjenjang dan dukungan lintas sektor.
Porprov di Rawa Pening diharapkan menjadi salah satu titik awal kebangkitan dayung Jawa Tengah. Dari arena pertandingan, diharapkan lahir atlet-atlet berprestasi sekaligus tercipta efek ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Dengan demikian, dayung tak hanya menjadi olahraga pencetak medali, tetapi juga dapat menjadi penggerak pariwisata dan ekonomi daerah.








