Hari Jadi ke-81 Jateng: Program Speling Bawa Dokter Spesialis Lebih Dekat ke Desa

oleh
oleh

SEMARANG, MettaNEWS – Jarak menuju rumah sakit bukan lagi menjadi hambatan utama bagi warga desa di Jawa Tengah untuk mendapatkan layanan dokter spesialis.

Melalui Program Dokter Spesialis Keliling (Speling), Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menghadirkan layanan kesehatan langsung ke desa-desa, termasuk wilayah yang selama ini terkendala akses, transportasi dan biaya.

Program yang mulai berjalan sejak Maret 2025 tersebut menjadi salah satu bentuk transformasi pelayanan kesehatan Jawa Tengah. Menjelang Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah, Speling telah menjangkau ribuan desa dan memberikan layanan kesehatan gratis kepada masyarakat.

Salah satu warga yang merasakan manfaatnya adalah Retno, warga Desa Kapulogo, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo. Desa tempat tinggalnya berada di wilayah timur Kabupaten Wonosobo dan berbatasan dengan Kabupaten Magelang.

Untuk mendapatkan layanan rumah sakit, Retno harus menempuh perjalanan sekitar 36 kilometer. Persoalan menjadi semakin berat karena dirinya tidak memiliki kendaraan.

Kondisi tersebut sempat membuat pengobatan anaknya terhenti. Sang anak mengalami gangguan pembekuan darah di otak dan membutuhkan pemeriksaan rutin dari dokter spesialis saraf.

Kesempatan kembali mendapatkan layanan kesehatan datang ketika Program Speling hadir di balai desa pada Kamis (30/7/2026). Retno dan anaknya dapat berkonsultasi serta mendapatkan pemeriksaan dokter spesialis tanpa harus menempuh perjalanan puluhan kilometer.

“Saya terbantu. Kendala kami memang tidak punya kendaraan, jadi sempat berhenti berobat. Dari sini kami bisa berobat lagi,” tutur Retno.

Dari Wonosobo hingga Kendal

Kisah Retno bukan satu-satunya. Di Desa Pidodo Kulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jamsari juga memanfaatkan layanan Speling.

Pria tersebut telah hidup dengan diabetes selama sekitar 15 tahun. Ia mengaku sempat lalai melakukan kontrol kesehatan karena biaya yang harus dikeluarkan cukup besar.

“Sekali kontrol sekitar Rp450 ribu. Saya kira sudah sembuh, ternyata kaki sampai luka karena efek gula,” ujarnya.

Melalui Speling, Jamsari kembali memperoleh kesempatan berkonsultasi dengan dokter spesialis tanpa harus terbebani biaya pelayanan.

Manfaat Speling juga tidak hanya dirasakan warga yang mengalami gangguan kesehatan fisik. Di Banyumas, Feni Anindya (16), siswi SMA Negeri 2 Purwokerto, memanfaatkan layanan kesehatan jiwa dalam program tersebut.

Feni saat itu tengah mengalami kebingungan menentukan pilihan pendidikan setelah lulus SMA. Melalui konsultasi dengan psikolog, ia mendapatkan ruang untuk berdiskusi mengenai pilihan jurusan kuliah dan rencana masa depannya.

“Alhamdulillah setelah berkonsultasi jadi lebih ada gambaran. Saya berharap program ini bisa dilaksanakan lagi,” katanya.

Tiga kisah tersebut menunjukkan bagaimana Speling hadir dengan pendekatan jemput bola. Warga tidak perlu selalu mendatangi rumah sakit untuk mendapatkan akses konsultasi dan pemeriksaan dokter spesialis.

Program ini digulirkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen untuk memperluas pemerataan layanan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang terkendala jarak, biaya maupun akses transportasi.

1.553 Kali Digelar, Jangkau 128 Ribu Warga

Sejak pertama kali diluncurkan pada Maret 2025, Speling terus diperluas ke berbagai wilayah di Jawa Tengah.

Hingga 13 Agustus 2026, program tersebut telah dilaksanakan sebanyak 1.553 kali di 1.378 desa, yang tersebar di 465 kecamatan pada 35 kabupaten/kota.

Sebanyak 128.109 warga telah mendapatkan layanan kesehatan secara langsung melalui program tersebut.

Speling memiliki sedikitnya lima layanan utama, yakni skrining tuberkulosis (TBC), pemeriksaan kanker serviks, layanan kesehatan jiwa, pemeriksaan ibu hamil, serta pelayanan kesehatan balita, khususnya untuk mendukung percepatan penurunan stunting.

Seluruh layanan diberikan secara gratis. Masyarakat cukup menunjukkan kartu identitas untuk mendapatkan pelayanan.

Kehadiran layanan di balai desa juga memangkas biaya transportasi yang selama ini menjadi salah satu hambatan warga untuk mendapatkan layanan dokter spesialis.

Namun, keberhasilan Speling tidak hanya diukur dari jumlah desa yang dikunjungi maupun warga yang datang berobat. Program tersebut juga berperan dalam menemukan berbagai persoalan kesehatan sejak dini sehingga dapat segera ditindaklanjuti.

Ribuan Kasus Ditemukan Lewat Skrining

Salah satu fokus utama Speling adalah kesehatan ibu dan anak. Hingga awal Agustus 2026, pemeriksaan antenatal care telah dilakukan terhadap 15.848 ibu hamil.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 12.537 ibu hamil dinyatakan dalam kondisi normal. Sementara 3.311 ibu hamil lainnya memerlukan pemantauan dan penanganan lebih lanjut.

Untuk penanggulangan TBC, skrining telah menjangkau 53.463 warga. Dari pemeriksaan tersebut, ditemukan warga yang masuk kategori suspek TBC maupun membutuhkan pemeriksaan lanjutan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) dan uji Mantoux.

Layanan kesehatan jiwa juga menjadi bagian penting dari Speling. Sebanyak 37.605 warga telah mengikuti skrining kesehatan mental. Dari jumlah tersebut, 1.358 orang teridentifikasi membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Sementara pemeriksaan kanker serviks telah menjangkau 5.915 perempuan, dengan 497 kasus yang membutuhkan tindak lanjut medis.

Data tersebut menunjukkan bahwa pendekatan jemput bola tidak hanya membuat layanan kesehatan lebih mudah dijangkau, tetapi juga membantu menemukan masalah kesehatan masyarakat yang sebelumnya mungkin belum terdeteksi.

Terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis

Program Speling juga bersinergi dengan program kesehatan nasional, salah satunya Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas pemerintah pusat.

Integrasi tersebut memungkinkan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan yang lebih menyeluruh dalam satu kesempatan.

Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Jawa Tengah bahkan mencatat capaian CKG tertinggi di Indonesia. Sebanyak 14.248.868 masyarakat telah mengikuti program tersebut atau sekitar 37,4 persen dari total sasaran nasional.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, menegaskan bahwa Speling tidak berhenti pada proses skrining.

“Kami tidak akan berhenti pada deteksi dini, tetapi berlanjut untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Jawa Tengah secara holistik,” ujar Zulfachmi.

Ia menjelaskan, setiap temuan yang diperoleh dari lapangan akan ditindaklanjuti melalui sistem rujukan dan pendampingan. Dengan demikian, warga tidak hanya mengetahui kondisi kesehatannya, tetapi juga mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan.

Ahmad Luthfi: Layanan Kesehatan Harus Sampai Desa

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai kesehatan merupakan salah satu fondasi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendukung upaya pengentasan kemiskinan.

Karena itu, pelayanan kesehatan tidak boleh hanya terpusat di rumah sakit maupun puskesmas. Layanan dokter spesialis harus mampu menjangkau masyarakat hingga pelosok desa.

“Jadi kita dorong tidak hanya pelayanan di rumah sakit tapi juga di desa. Masyarakat desa akan senang mereka dapat layanan kesehatan gratis, bisa periksa kesehatan ke dokter spesialis, anaknya yang stunting juga ditangani, termasuk kesehatan jiwa dan sebagainya,” tegas Luthfi.

Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan tidak ada masyarakat yang kehilangan kesempatan memperoleh layanan kesehatan hanya karena persoalan jarak dan biaya.

Pemprov Jawa Tengah pun menargetkan jangkauan Speling terus diperluas. Hingga akhir 2026, program tersebut ditargetkan mampu melayani 284 ribu masyarakat melalui pelaksanaan di seluruh kabupaten dan kota.

Target tersebut bukan sekadar mengejar jumlah penerima layanan. Lebih jauh, Speling diharapkan memastikan semakin banyak masyarakat Jawa Tengah, terutama warga di wilayah yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan, dapat bertemu dokter spesialis tanpa harus terbebani perjalanan jauh maupun biaya transportasi.

Bagi Retno di Wonosobo, Jamsari di Kendal dan Feni di Banyumas, Speling telah membuktikan bahwa pelayanan kesehatan yang datang mendekati warga mampu membuka kembali harapan.

Di tengah peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah, program tersebut menjadi gambaran bahwa pemerataan pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang memastikan layanan dasar seperti kesehatan dapat dirasakan hingga pelosok desa.