Gala Premier Film Istimewa di Solo, Wawali Astrid Ikut Nonbar, Tegaskan Penyandang Disabilitas Berhak Dapat Kesempatan yang Sama

oleh
oleh
Film Istimewa akan tayang serentak di bioskop Indonesia, 17 September 2026 | MettaNEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menegaskan penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk mendapatkan ruang, kesempatan, serta berkontribusi dalam kehidupan masyarakat. Pesan tersebut disampaikan dalam acara Special Screening Film Istimewa di XXI Solo Paragon Surakarta, Kamis (13/8/2026).

Pemerintah Kota Surakarta memberikan apresiasi terhadap film Istimewa yang dinilai tidak hanya menjadi bagian dari perkembangan perfilman nasional, tetapi juga membawa pesan kemanusiaan mengenai kesetaraan dan inklusi.

Menurut Astrid, film Istimewa mengangkat kisah inspiratif mengenai kehidupan penyandang disabilitas sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki potensi, hak, martabat, dan kesempatan yang sama untuk berkembang serta berkarya.

“Kesetaraan dan inklusi bukan sekadar sebuah slogan, melainkan nilai yang harus kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” pesan Astrid dalam sambutannya.

Ia menegaskan, penyandang disabilitas tidak seharusnya dipandang sebagai kelompok yang hanya membutuhkan rasa kasihan. Mereka merupakan bagian yang setara dari masyarakat dan memiliki kemampuan, prestasi, serta hak untuk memperoleh ruang dan kesempatan.

Astrid menilai, karya perfilman yang mengangkat isu disabilitas memiliki peran penting dalam mengubah cara pandang masyarakat. Film dinilai mampu menyampaikan pesan sosial dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus menyentuh sisi emosional penonton.

Melalui film Istimewa, Pemkot Surakarta berharap masyarakat mendapatkan perspektif yang lebih luas mengenai kehidupan penyandang disabilitas. Film tersebut diharapkan dapat membuka ruang dialog, menumbuhkan empati, serta mengurangi stigma dan diskriminasi.

Kesetaraan Disabilitas Harus Didorong di Berbagai Bidang

Astrid mengatakan, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk terus mendorong terwujudnya kesetaraan kesempatan bagi penyandang disabilitas. Kesetaraan tersebut harus diwujudkan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pekerjaan, pelayanan publik, ekonomi, olahraga, seni hingga kebudayaan.

Namun, menurutnya, upaya menciptakan masyarakat inklusif tidak dapat hanya dilakukan pemerintah.

Kolaborasi diperlukan dengan berbagai pihak, mulai dari dunia usaha, komunitas, insan perfilman, media, lembaga pendidikan hingga masyarakat secara luas.

“Upaya tersebut tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri,” tegasnya.

Astrid menjelaskan, persoalan kesetaraan dan inklusi memiliki cakupan luas. Kebijakan pemerintah saja tidak cukup apabila tidak dibarengi perubahan cara pandang dan sikap masyarakat terhadap penyandang disabilitas.

Dalam konteks tersebut, seni dan perfilman dapat mengambil peran strategis sebagai media komunikasi sekaligus edukasi publik.

Film mampu menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehingga pesan mengenai kemanusiaan, keberagaman, dan kesetaraan dapat lebih mudah diterima berbagai lapisan masyarakat.

Film Istimewa Diharapkan Bantu Hapus Stigma

Pemkot Surakarta menilai kegiatan Special Screening Film Istimewa patut mendapatkan dukungan. Kehadiran film yang mengangkat kehidupan penyandang disabilitas diharapkan memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menghormati keberagaman.

Astrid juga berharap semakin banyak film Indonesia yang berani mengangkat cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk kisah kelompok yang selama ini belum mendapatkan ruang cukup dalam narasi publik.

Menurutnya, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi untuk membangun masyarakat yang lebih toleran, setara, dan inklusif.

“Jangan kita jadikan pesan dalam film hanya sebagai sesuatu yang kita lihat dan kita rasakan saat berada di ruang pemutaran. Mari menjadikannya inspirasi untuk menghadirkan tindakan nyata,” ujarnya.

Pesan Kesetaraan Jangan Berhenti di Bioskop

Lebih jauh, Astrid berharap pesan kesetaraan dan inklusi yang disampaikan melalui film Istimewa tidak berhenti ketika penonton keluar dari ruang bioskop.

Masyarakat diajak menerjemahkan pesan tersebut dalam kehidupan sehari-hari dengan memberikan kesempatan yang setara, menghormati keberagaman, serta memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.

Dengan demikian, film tidak hanya menjadi karya seni yang dinikmati penonton, tetapi juga dapat menjadi pemantik perubahan cara pandang dan perilaku masyarakat.

Pemkot Surakarta Apresiasi Film Istimewa

Pada kesempatan tersebut, Pemkot Surakarta juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim produksi film Istimewa. Astrid memberikan ucapan selamat dan berharap film tersebut mendapatkan sambutan luas dari masyarakat Indonesia.

Ia menilai karya perfilman yang mengangkat nilai kemanusiaan menjadi bagian penting dalam membangun ruang publik yang semakin terbuka terhadap keberagaman.

Film dengan pesan sosial seperti Istimewa juga diharapkan memperkuat kesadaran bahwa setiap orang, termasuk penyandang disabilitas, memiliki hak yang sama untuk berkembang, berkarya, dan mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

Special Screening Film Istimewa di Solo akhirnya bukan sekadar momentum untuk mengapresiasi karya perfilman Indonesia. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa kesetaraan dan inklusi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

Melalui film Istimewa, pesan untuk menghapus stigma, memberikan kesempatan yang setara, menghormati keberagaman, dan membangun kehidupan sosial yang inklusif diharapkan semakin luas diterima masyarakat.