SOLO, MettaNEWS — Suasana hangat penuh apresiasi terasa di Ndalem Wuryoningrat saat berbagai lukisan, kerajinan tangan, hingga karya seni anak-anak penyandang disabilitas dipamerkan dalam fellowship dan showcase karya kreatif binaan Rotary Club Solo Sriwedari bersama Rotary International, Minggu (10/5).
Di tengah pameran tersebut, Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menegaskan komitmen Kota Solo untuk terus tumbuh sebagai kota inklusif yang memberikan ruang setara bagi seluruh warganya, termasuk penyandang disabilitas.
Menurut Astrid, kegiatan itu bukan sekadar ajang memamerkan hasil karya, tetapi juga menjadi bentuk nyata penghormatan terhadap potensi dan kreativitas anak-anak disabilitas.
“Anak-anak disabilitas memiliki potensi luar biasa yang harus diberi ruang untuk berkembang. Kota yang maju bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi bagaimana semua warganya merasa dilibatkan dan dihargai,” tuturnya.
Astrid mengapresiasi konsistensi Rotary Solo dan Rotary International dalam membangun gerakan sosial berbasis inklusivitas di Surakarta. Berbagai program pemberdayaan telah dijalankan, mulai dari showcase kreativitas anak disabilitas, kegiatan seni dan edukasi inklusif, hingga pendampingan komunitas difabel di Kota Solo.
Selain itu, Rotary Club Solo Sriwedari juga aktif berkolaborasi dengan berbagai komunitas dan lembaga pendidikan inklusif di Surakarta. Sejumlah program yang pernah dilakukan antara lain lomba seni dan kreativitas anak disabilitas, dukungan alat bantu komunikasi bagi anak berkebutuhan khusus di UPT Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif Surakarta, hingga kegiatan sosial bersama yayasan pendamping anak berkebutuhan khusus.
Bagi Pemerintah Kota Surakarta, sinergi lintas komunitas seperti itu dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem kota inklusif.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pemkot Surakarta memang terus mendorong berbagai kebijakan ramah disabilitas, mulai dari penguatan layanan inklusi, peningkatan akses fasilitas publik, hingga pemberdayaan ekonomi dan ruang kreativitas bagi penyandang disabilitas.
Astrid menegaskan, pemerintah kota membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi organisasi sosial dan komunitas kemanusiaan untuk memperkuat gerakan inklusi di Kota Solo.
“Semangat gotong royong dan kepedulian seperti ini penting dijaga bersama. Karena kota yang inklusif lahir dari kolaborasi, bukan hanya pemerintah, tetapi juga komunitas dan masyarakat,” tegasnya.
Acara fellowship dan showcase karya kreatif tersebut berlangsung penuh kehangatan dan antusiasme. Berbagai karya seni yang dipamerkan menjadi simbol bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya, berekspresi, dan mengambil peran di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan itu, semangat inklusivitas di Kota Solo kembali diperkuat, sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap warga memiliki hak yang sama untuk tumbuh, dihargai, dan berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya.








