UMS Kembangkan Greenhouse Hidroponik Tenaga Surya untuk Perkuat Kemandirian Pangan KWT di Sukoharjo

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS  – Tim dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan model pertanian terpadu berbasis greenhouse hidroponik yang terintegrasi dengan energi surya. Mode pertanian ini untuk mendukung kemandirian pangan dan meningkatkan produktivitas Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur di Desa Kudu, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.

Program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pertanian Terpadu Berbasis Greenhouse Hidroponik Tenaga Surya untuk Kemandirian Pangan Kelompok Wanita Tani Desa Kudu, Sukoharjo” tersebut dilaksanakan pada Jumat (7/8/2026) di Kantor Kepala Desa Kudu.

Kegiatan diikuti perangkat desa, 30 anggota KWT Subur Makmur, serta sejumlah pihak terkait. Tim pengabdian diketuai Dewi Novita Sari, S.Si., M.Sc., dosen Fakultas Geografi UMS. Ia berkolaborasi dengan Dr. Ir. Sri Hartati, M.P., dari Fakultas Pertanian Universitas Veteran Bangun Nusantara, serta Ir. Subroto, M.T., dan Ir. Sartono Putro, M.T., dari Fakultas Teknik UMS.

KWT Subur Makmur sebelumnya telah memiliki potensi dalam budidaya sayuran hidroponik, terutama selada dan pakcoy. Namun, pengembangan usaha masih menghadapi sejumlah kendala, di antaranya ketergantungan terhadap listrik PLN untuk mengoperasikan pompa air dan kapasitas produksi yang masih terbatas.

Dewi mengatakan penerapan teknologi tenaga surya diharapkan dapat membantu mengurangi biaya operasional sekaligus meningkatkan kapasitas produksi hidroponik.

“Program ini bertujuan untuk mengembangkan model pertanian terpadu berbasis greenhouse hidroponik yang terintegrasi dengan energi surya. Kami ingin meningkatkan kapasitas produksi sayuran hidroponik sekaligus menekan biaya operasional yang selama ini menjadi kendala utama mitra,” ujar Dewi, Senin (10/8/2026).

Menurut dia, program tersebut juga sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan melalui peningkatan produktivitas pangan dan SDG 7 mengenai Energi Bersih dan Terjangkau melalui pemanfaatan energi surya.

Program itu sekaligus mendukung Asta Cita ke-6 mengenai pembangunan dari desa untuk pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan serta Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) pada bidang pangan dan pertanian.

Tidak hanya hidroponik dan energi surya, tim pengabdian juga menerapkan konsep pertanian terpadu atau integrated farming. Sistem tersebut menggabungkan budidaya maggot, komposter Pupuk Organik Cair (POC), serta tanaman pendukung dalam satu kesatuan pengelolaan.

Limbah organik rumah tangga dan kotoran ternak dimanfaatkan sebagai bahan pakan maggot sekaligus bahan baku pembuatan pupuk organik. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan dapat diolah menjadi bagian dari sistem produksi pertanian.

Dr. Ir. Sri Hartati, M.P., mengatakan keterbatasan lahan akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman dan kawasan industri membuat petani harus beradaptasi dengan metode budidaya yang lebih efisien.

“Perubahan lahan pertanian menjadi pemukiman dan industri membuat lahan produktif semakin terbatas. Ke depan, sistem penanaman juga harus berbeda. Oleh karena itu, petani harus belajar hidroponik agar tetap bisa berproduksi meskipun di lahan yang sempit,” katanya.

Tim juga memberikan pelatihan kepada anggota KWT mengenai teknik budidaya hidroponik, manajemen nutrisi, hingga proses pemanenan dan sortasi. Pengelolaan nutrisi menjadi salah satu faktor penting karena berpengaruh terhadap kualitas sayuran dan nilai jual produk.

Sementara itu, Ir. Subroto, M.T., selaku koordinator pembuatan alat, mengatakan proses perancangan dan pembuatan perangkat berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi telah dilakukan selama beberapa bulan.

Sejumlah perangkat kemudian dihibahkan kepada mitra, di antaranya sistem panel surya, instalasi pompa air bertenaga surya, serta komposter untuk pengolahan limbah.

Melalui program tersebut, tim pengabdian UMS berharap KWT Subur Makmur semakin produktif dan mandiri dalam mengelola usaha hidroponik. Pemanfaatan teknologi tepat guna juga diharapkan mampu mengurangi biaya produksi, meningkatkan kualitas hasil panen, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan dan kesejahteraan ekonomi keluarga anggota KWT.