SOLO, MettaNEWS – Inovasi kreatif lahir dari kolaborasi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dengan Ikatan Komikus Solo (IKILO) hadirkan Pikolo. Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026, Pikolo (Kompilasi Komik Solo) Edisi ke-6, sebuah komik bertema petualangan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi media navigasi wisata pertama di Kota Solo.
Mengangkat latar berbagai destinasi wisata di Kota Solo, Pikolo-6 dirancang sebagai panduan wisata yang dikemas dalam alur cerita komik. Pembaca diajak menjelajahi berbagai sudut kota melalui kisah eksplorasi yang dipadukan dengan informasi budaya dan atraksi urban.
Ketua Tim PISN 2026 sekaligus dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) ISI Solo, M. Harun Rosyid Ridlo, M.Sn, mengatakan program tersebut menjadi bukti bahwa perguruan tinggi seni mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Melalui program ini, kami dosen dan mahasiswa ISI Solo secara proaktif berkolaborasi dengan komunitas kreatif Ikatan Komikus Solo (IKILO), sebuah wadah kolektif yang menghimpun para kreator komik berbakat di Kota Solo,” ujarnya.
Selain Harun, tim dosen terdiri atas Rendya Adi Kurniawan, M.Sn., Alfiandi Eka Kusuma, M.Sn. dari Program Studi DKV, serta Pratita Rara Raina, S.H., M.B.A. dari Program Studi Destinasi Pariwisata. Program ini juga melibatkan tiga mahasiswa DKV, yakni Mufida Qonita, Reyhan Jovansa, dan Naufal Ahmad Nuril Anwar.
Harun menilai ekosistem komik di Solo memiliki kualitas ilustrasi dan kemampuan bercerita yang sangat kuat. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi para komikus adalah bagaimana mengembangkan karya agar tidak berhenti sebagai ekspresi personal, melainkan memiliki manfaat publik sekaligus nilai ekonomi.
“Di sinilah letak urgensi kehadiran kami berkolaborasi bersama IKILO,” katanya.
Komik Sekaligus Navigasi Wisata
Melalui kolaborasi tersebut, tim ISI Solo tidak mengubah gaya visual maupun identitas para komikus. Pendampingan difokuskan pada peningkatan kualitas karya agar lebih kompetitif dan memiliki nilai tambah.
Pendampingan pertama dilakukan melalui pelatihan mengenai perancangan karakter orisinal (original character) yang berpotensi menjadi Intellectual Property (IP) serta pengembangan karakter berciri khas lokal. Kegiatan tersebut berlangsung pada 26 Juli 2026 di Twins Cafe.
Selanjutnya, tim juga memberikan pendampingan manajemen proyek berupa penyusunan standar operasional prosedur (SOP) dalam proses perancangan hingga produksi komik. Pendampingan ini dilakukan sepanjang Juni hingga Juli 2026 bersamaan dengan proses penyusunan Pikolo-6.
Hasilnya, Pikolo edisi ke-6 hadir sebagai komik yang tidak hanya menyuguhkan cerita menarik, tetapi juga berfungsi sebagai media promosi wisata budaya Kota Solo yang edukatif, estetik, dan mudah dinikmati wisatawan.
Untuk memastikan kualitas isi dan penyajiannya, tim dosen ISI Solo bersama IKILO akan melaksanakan uji keterbacaan pada 8–9 Agustus 2026. Setelah dinyatakan layak, Pikolo-6 akan diterbitkan dalam versi cetak maupun digital serta dipromosikan lebih luas melalui berbagai strategi publikasi.
Komik tersebut juga dijadwalkan tampil dalam ajang Comipara 2026, sebagai upaya memperkenalkan inovasi kreatif Kota Solo kepada publik yang lebih luas.
Dorong Hilirisasi Industri Kreatif
Harun menjelaskan, kolaborasi ini menjadi ruang pembelajaran yang saling menguntungkan. Bagi IKILO, program ini membuka wawasan mengenai hilirisasi karya kreatif sehingga komik dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung branding Kota Solo sebagai kota kreatif.
Sementara bagi sivitas akademika ISI Solo, komunitas komikus menjadi laboratorium nyata untuk menguji penerapan teori desain komunikasi visual dalam menyelesaikan persoalan di masyarakat.
Menurutnya, komik tidak lagi dipandang sekadar karya seni visual, tetapi juga dapat menjadi media komunikasi, promosi wisata, hingga pemberdayaan komunitas kreatif.
“Oleh karena itu, kolaborasi ISI Solo dengan IKILO ini menjadi ruang yang perlu terus dipertahankan. Tantangannya adalah keberlanjutan yang membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari akademisi, komunitas, pemerintah daerah hingga pemangku kepentingan di bidang pariwisata,” pungkas Harun.








