Dokter RS UNS Ingatkan Bahaya Preeklamsia pada Ibu Hamil, Kenali Gejala dan Lakukan Deteksi Dini

oleh
oleh
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS UNS, Dr. Hafi Nurinasari, dr., Sp.OG., M.Kes.

SOLO, MettaNEWS – Preeklamsia menjadi salah satu komplikasi kehamilan yang perlu diwaspadai karena dapat membahayakan keselamatan ibu maupun janin. Kondisi ini umumnya muncul setelah usia kehamilan memasuki 20 minggu dan ditandai dengan meningkatnya tekanan darah disertai adanya protein dalam urine (proteinuria).

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (RS UNS), Dr. Hafi Nurinasari, dr., Sp.OG., M.Kes., mengingatkan pentingnya deteksi dini melalui pemeriksaan kehamilan secara rutin agar preeklamsia dapat ditangani sebelum berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat.

“Preeklamsia merupakan kondisi yang harus dikenali sejak dini. Pemeriksaan kehamilan secara rutin menjadi kunci untuk mendeteksi dan menangani kondisi ini sebelum berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat,” ujar Dr. Hafi, dikutip dari laman RS UNS.

Menurutnya, preeklamsia tidak hanya menyebabkan tekanan darah tinggi, tetapi juga dapat mengganggu fungsi berbagai organ penting, seperti ginjal, hati, paru-paru, otak, hingga plasenta. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi eklamsia yang ditandai dengan kejang dan berisiko mengancam nyawa ibu maupun janin.

Dr. Hafi menjelaskan, ibu hamil perlu mengenali sejumlah gejala yang dapat menjadi tanda awal preeklamsia. Di antaranya tekanan darah tinggi, sakit kepala atau pusing yang menetap, pembengkakan pada wajah, tangan, dan kaki, pandangan kabur atau gangguan penglihatan, nyeri di ulu hati, serta tubuh yang terasa lemas atau tidak nyaman.

Apabila mengalami satu atau beberapa gejala tersebut, ibu hamil dianjurkan segera memeriksakan diri ke dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin.

Selain gejala, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklamsia. Faktor tersebut meliputi obesitas, usia ibu hamil di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun, riwayat hipertensi maupun preeklamsia pada kehamilan sebelumnya, kehamilan pertama, diabetes melitus, penyakit ginjal, paparan asap rokok, konsumsi garam berlebihan, hingga kurangnya kepatuhan menjalani pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC).

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan, mulai dari pengukuran tekanan darah secara berkala, pemeriksaan urine untuk mendeteksi protein, tes darah guna menilai fungsi ginjal, hati, serta jumlah trombosit, hingga pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk memantau kondisi janin dan aliran darah menuju plasenta.

Penanganan preeklamsia akan disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi dan usia kehamilan. Pasien akan dipantau secara ketat melalui pemeriksaan rutin, pengendalian tekanan darah, serta pembatasan aktivitas atau istirahat sesuai kondisi masing-masing.

Selain itu, dokter dapat memberikan terapi berupa obat antihipertensi, kortikosteroid untuk membantu pematangan paru-paru janin apabila diperlukan persalinan lebih awal, serta magnesium sulfat untuk mencegah terjadinya kejang sesuai indikasi medis.

Dr. Hafi mengingatkan bahwa preeklamsia yang tidak ditangani dengan baik dapat memicu berbagai komplikasi serius, seperti eklamsia, sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver Enzymes, Low Platelets), persalinan prematur, solusio plasenta atau lepasnya plasenta sebelum waktunya, hingga kerusakan organ vital seperti ginjal, hati, dan otak.

Karena itu, ia mengimbau ibu hamil menerapkan pola hidup sehat selama masa kehamilan. Langkah tersebut antara lain dengan menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi konsumsi garam, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, menjaga berat badan ideal, serta melakukan aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki, senam hamil, atau yoga prenatal sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Selain itu, ibu hamil juga diminta segera memeriksakan diri apabila tekanan darah mencapai lebih dari 140/90 mmHg atau mengalami gejala yang mengarah pada preeklamsia.

“Jangan mengabaikan tanda-tanda preeklamsia dan selalu lakukan pemeriksaan kehamilan secara berkala. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi serta meningkatkan keselamatan ibu dan bayi hingga proses persalinan,” pungkas Dr. Hafi.