SOLO, MettaNEWS – Sebanyak 21 kepala sekolah dari Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, melakukan studi tiru di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo, Jawa Tengah, Senin (6/7/2026). Kunjungan tersebut bertujuan mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) serta berbagai inovasi pembelajaran yang telah diterapkan sekolah model Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial (PM & KKA) tersebut.
Ketua Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan (PKB) Korwil Bidang Pendidikan Kecamatan Karangdowo, Ita Tri Lestari, mengatakan SD Muhammadiyah 1 Ketelan dipilih karena dikenal memiliki banyak praktik baik yang dapat menjadi referensi bagi sekolah-sekolah di Kecamatan Karangdowo.
“Kami ingin mempelajari pengelolaan administrasi sekolah yang efektif, tertib, dan akuntabel, termasuk implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan,” ujar Ita.
Selain itu, rombongan juga mempelajari strategi membangun budaya sekolah yang positif, religius, nyaman, dan berkarakter, sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang unggul sehingga mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.
Menurut Ita, aspek lain yang menjadi perhatian adalah pengelolaan program-program sekolah yang mampu meningkatkan mutu, citra, dan daya saing sekolah. Penguatan kemitraan antara sekolah dengan orang tua, komite sekolah, serta berbagai pemangku kepentingan juga menjadi salah satu fokus pembelajaran dalam studi tiru tersebut.
Dalam sesi berbagi praktik baik, Kepala SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo, Sri Sayekti, menekankan bahwa kepemimpinan sekolah bukan sekadar soal jabatan, melainkan amanah untuk menciptakan perubahan yang berdampak bagi peserta didik.
“Pemimpin hebat bukan yang paling berkuasa, tetapi yang mampu memberdayakan. Kepemimpinan adalah amanah untuk membentuk masa depan. Jabatan kepala sekolah bukan tentang kekuasaan, melainkan niat lurus untuk melahirkan kebijakan yang adil dan menjadikan sekolah sebagai tempat bertumbuhnya generasi berkarakter,” katanya.
Sri Sayekti juga mengajak para kepala sekolah untuk memulai transformasi dari program yang paling mendesak, memiliki dampak luas, dan dapat dijalankan dengan sumber daya yang tersedia. Menurutnya, keteladanan pemimpin menjadi fondasi utama dalam membangun budaya sekolah yang positif.
Ia menambahkan, setiap kebijakan sekolah harus berpihak pada kepentingan murid dengan mengedepankan komunikasi yang terbuka, kolaboratif, dan penuh empati terhadap guru maupun seluruh warga sekolah.
“Jabatan adalah amanah, bukan sekadar kekuasaan. Jadilah pembelajar sepanjang hayat yang siap menghadapi perubahan dan terus meningkatkan kualitas diri. Kelola sekolah dengan data dan hati, gunakan fakta empiris tanpa kehilangan sisi kemanusiaan,” pungkasnya.
Melalui studi tiru ini, para kepala sekolah di Kecamatan Karangdowo diharapkan dapat mengadopsi berbagai praktik baik yang diterapkan SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan serta memperkuat tata kelola sekolah di lingkungan masing-masing.








