KEBUMEN, MettaNEWS – Ribuan pelari dari berbagai daerah menjelajahi keindahan bentang alam Kebumen melalui ajang Kebumen Geopark Trail Run (KGTR) 2026, Minggu (28/6/2026). Event sport tourism yang memasuki penyelenggaraan tahun kedua ini menawarkan pengalaman berbeda dengan lintasan yang memadukan panorama pantai, perbukitan, sungai, pasir, hingga menyusuri kawasan gua.
Sebanyak lebih dari 1.500 peserta ambil bagian dalam empat kategori lomba, yakni 7 kilometer, 17 kilometer, 30 kilometer, dan 50 kilometer.
Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, yang mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, turut mengikuti kategori 17 kilometer. Ia melakukan flag off di Pantai Karangbolong pukul 05.00 WIB dan berhasil menyelesaikan lintasan sekitar pukul 09.27 WIB.
Usai finis, Sumarno mengaku terkesan dengan karakter lintasan yang dinilai berbeda dibandingkan trail run pada umumnya.
“Ini menyuguhkan rute dan pemandangan yang luar biasa. Trail run mungkin tidak banyak yang bisa di rute sambil melihat laut. Ini luar biasa,” katanya.
Menurutnya, KGTR menjadi salah satu media efektif untuk memperkenalkan kekayaan alam Kebumen yang merupakan bagian dari kawasan geopark.
“Tadi masuk gua juga. Geopark ini adalah warisan kekayaan dan destinasi wisata bukan buatan. Kita tidak bisa membuat ini. Itu ciptaan Allah, mari kita cintai, kita jaga, dan kita lestarikan,” ujarnya.
Selain menjadi ajang olahraga, Sumarno menilai event tersebut mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Ia mendorong warga memanfaatkan peluang dengan mengembangkan rumah tinggal menjadi homestay untuk menampung wisatawan maupun peserta event.
“Teman-teman di Kebumen harus berkreasi. Untuk event-event seperti ini mau tidak mau harus menggandeng masyarakat. Rumah-rumah masyarakat nanti bisa diajak, dilatih, diajari agar bisa disewakan kepada para peserta,” jelasnya.
Ia mencontohkan konsep homestay berbasis masyarakat yang telah berhasil diterapkan di kawasan Borobudur, sehingga manfaat sektor pariwisata dapat dirasakan langsung oleh warga.
Sementara itu, Race Director KGTR 2026, Leonardus Bagus, mengatakan event tahun ini menghadirkan empat kategori lomba dengan karakter lintasan yang unik.
Menurutnya, kategori 50 kilometer menjadi tantangan paling ekstrem karena peserta harus melewati dua gua, yakni Gua Petruk sepanjang sekitar 300 meter dan Gua Wora-Wari di kawasan Pantai Lampon sepanjang 187 meter.
“Yang membuat event ini berbeda, rutenya paling komplet. Pelari mendapatkan rute pantai, gunung, pasir, sungai, sampai gua. Ini satu-satunya event di Indonesia yang ada segmen masuk gua,” ujarnya.
Adapun peserta kategori 17 kilometer melintasi sejumlah destinasi wisata, mulai Pantai Karangbolong, Sagara, Watubalang, Surumanis, Lampon hingga Pantai Pecaron.
Tingginya minat peserta membuat panitia harus membatasi jumlah pendaftar. Salah satu alasannya adalah kapasitas penginapan di sekitar lokasi yang masih terbatas.
“Kita sampai menolak peserta. Salah satu pertimbangannya adalah daya tampung homestay belum cukup banyak. Demi kenyamanan peserta kita batasi,” kata Leonardus.
Dari sisi ekonomi, penyelenggaraan KGTR 2026 diperkirakan menghasilkan perputaran uang hingga sekitar Rp1,5 miliar. Nilai tersebut berasal dari biaya pendaftaran sekitar Rp900 juta ditambah belanja peserta untuk akomodasi, konsumsi, dan berbagai kebutuhan selama mengikuti event.
“Ini jauh lebih tinggi dari tahun kemarin,” ujarnya.
Bagi para peserta, tantangan lintasan justru menjadi daya tarik utama. Raivan Gustian Santiko asal Purworejo yang menjadi juara pertama kategori 17 kilometer mengaku terpukau dengan pengalaman trail run pertamanya.
“Sangat menakjubkan. Pertama kali ikut trail run langsung kagum. Medannya menantang, tapi pemandangannya luar biasa,” katanya.
Ia menambahkan, dukungan masyarakat di sepanjang lintasan menjadi penyemangat ketika tenaga mulai terkuras.
“Walaupun capek, ada supporter yang memberi semangat. Jadi lebih bergairah lagi,” ujarnya.
Kesan serupa disampaikan peserta kategori 7 kilometer asal Solo, Elang Arya. Menurutnya, panorama laut yang tersaji di sepanjang lintasan menjadi obat lelah saat menghadapi tanjakan.
“Pemandangannya indah banget. Kalau lagi capek, lihat laut jadi semangat lagi,” ucapnya.








