KENDAL, MettaNEWS – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan program tali asih Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak hanya diperuntukkan bagi hafiz Al-Qur’an, tetapi terbuka bagi seluruh penghafal kitab suci dari semua agama.
Hal tersebut disampaikan Taj Yasin saat menghadiri Haflah Haul dan Khotmil Qur’an di Pondok Pesantren Hidayatul Muttaqin, Lanji, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Minggu (28/6/2026).
“Program tali asih ini bukan khusus Al-Qur’an. Tetapi bagi orang-orang yang menghafalkan kitab suci sesuai agamanya. Namun belum pernah ada mengajukan, baik Injil, Taurat atau yang lainnya,” jelas pria yang akrab disapa Gus Yasin itu.
Dalam sehari, Gus Yasin berkeliling ke tiga pondok pesantren di Kabupaten Kendal untuk menyerahkan tali asih kepada 25 penghafal 30 juz Al-Qur’an. Program tersebut menjadi bentuk apresiasi pemerintah terhadap para santri yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an.
Sebanyak 12 hafiz menerima tali asih di Pondok Pesantren Hidayatul Muttaqin, Kecamatan Patebon. Kemudian enam hafiz menerima penghargaan di Pondok Pesantren Fatkhu Ulumil Qur’an, Desa Botomulyo, Kecamatan Cepiring.
Sementara tujuh hafiz lainnya menerima tali asih dalam rangkaian Wisuda Khotmil Qur’an ke-4 dan Haul Para Masyayikh Pondok Pesantren Daar Al-Qur’an Pucakwangi, Kecamatan Pageruyung.
Masing-masing penghafal Al-Qur’an menerima tali asih sebesar Rp1 juta dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Menurut Gus Yasin, penghargaan tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah kepada masyarakat yang menjaga kitab suci dengan menghafalkan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menegaskan bahwa program tali asih tersebut tidak membedakan agama. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, kata dia, memberikan ruang yang sama bagi siapa saja yang mampu menghafalkan kitab sucinya.
“Kami ingin memberikan penghormatan kepada siapa saja yang menjaga kitab sucinya. Program ini terbuka untuk semua penghafal kitab suci,” tegasnya.
Selain menyerahkan tali asih, Gus Yasin juga memberikan apresiasi kepada para pengasuh pondok pesantren yang dinilai memiliki peran penting dalam mencetak generasi Qurani.
Menurutnya, pemahaman terhadap Al-Qur’an menjadi bekal penting bagi masa depan para santri, tidak hanya dalam kehidupan spiritual tetapi juga sosial kemasyarakatan.
Ia pun berpesan kepada para hafiz agar tidak berhenti setelah berhasil menghafal 30 juz, melainkan terus menjaga hafalan dan memperbanyak membaca Al-Qur’an.
“Semoga semakin semangat menghafal, semakin sering khatam Al-Qur’an,” pesannya.
Di hadapan para ulama, santri, dan masyarakat, Gus Yasin juga memohon doa agar jalannya pemerintahan di Jawa Tengah senantiasa diberi kelancaran dan keberkahan sehingga mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Kami mohon doa untuk Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, semoga jalannya pemerintahan selalu mendapatkan barokah dari Al-Qur’an,” pungkasnya.








