SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta, menegaskan pentingnya kaderisasi wartawan dan penguatan peran pers di tengah derasnya arus informasi digital saat membuka Konferensi (PWI) Surakarta periode 2026-2030 di , Sabtu (20/6/2026).
Di hadapan anggota PWI dan tamu undangan, Astrid menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi insan pers, khususnya PWI Surakarta, yang selama ini dinilai turut mendukung pembangunan daerah sekaligus menjaga kualitas demokrasi di Kota Solo.
Menurut Astrid, perkembangan teknologi dan munculnya berbagai platform media menghadirkan tantangan baru bagi dunia jurnalistik. Karena itu, organisasi profesi seperti PWI memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi wartawan yang mampu beradaptasi tanpa meninggalkan nilai profesionalisme dan etika jurnalistik.
“Saya titip kepada penerus kepemimpinan PWI Surakarta agar kaderisasi terus dikembangkan. Saat ini media sudah berkembang dengan begitu banyak platform, sehingga organisasi harus mampu menyiapkan generasi wartawan yang adaptif dan profesional,” tutur Astrid.
Astrid mengaku telah mengikuti perjalanan PWI Surakarta selama bertahun-tahun, termasuk saat dipimpin .
“Saya menjadi saksi perjalanan Mas Anas selama 10 tahun membersamai PWI Surakarta. Organisasi ini mampu tetap relevan dengan perkembangan zaman,” katanya.
Dalam sambutannya, Astrid juga menyoroti posisi strategis pers di tengah transformasi digital yang berlangsung cepat. Menurutnya, media tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kualitas ruang publik.
“Pers tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sarana edukasi, kontrol sosial, menjaga kepercayaan publik, dan menjaga situasi tetap kondusif di tengah maraknya hoaks,” katanya.
Ia menilai keberadaan media yang profesional menjadi salah satu kunci dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang beredar. Di tengah banjir informasi dan maraknya disinformasi, peran wartawan yang bekerja berdasarkan fakta dan kode etik semakin dibutuhkan.
Karena itu, Astrid berharap hubungan baik antara pemerintah daerah dan insan pers dapat terus diperkuat melalui kolaborasi yang sehat dan konstruktif.
“Kami berharap sinergi antara media, pemerintah, dan stakeholder terus terjalin demi kemajuan masyarakat dan Pemerintah Kota Surakarta,” imbuhnya.
Konferensi PWI Surakarta sendiri merupakan forum tertinggi organisasi wartawan tingkat kota yang digelar untuk memilih kepemimpinan baru sekaligus menentukan arah organisasi ke depan. Pemilihan sebagai lokasi kegiatan juga memiliki nilai historis karena menjadi tempat lahirnya PWI pada 9 Februari 1946.
Konferensi tersebut turut mendapat perhatian dari PWI Pusat. Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, hadir bersama Ketua Bidang Pembinaan Daerah PWI Pusat, untuk mengawal jalannya agenda organisasi tersebut.
Dalam kesempatan itu, Zulkifli menjelaskan konferensi digelar lebih awal karena Anas Syahirul Alim akan mengemban tugas di tingkat pusat sehingga diperlukan proses regenerasi kepemimpinan sesuai aturan organisasi.
Sementara itu, Ketua Panitia Konferensi PWI Surakarta, mengatakan pemilihan Monumen Pers Nasional sebagai lokasi konferensi menjadi pengingat akan tanggung jawab besar insan pers dalam menjaga profesionalisme dan integritas jurnalistik.
Melalui konferensi tersebut, PWI Surakarta diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan baru yang dapat menjawab tantangan dunia jurnalistik sekaligus memperkuat kualitas wartawan di era digital.








