Solo Peringkat Kedua Temuan Kasus HIV di Jateng, Wali Kota Respati Perkuat Edukasi dan Skrining Aktif

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Kota Surakarta tercatat sebagai daerah dengan temuan kasus HIV/AIDS baru tertinggi kedua di Jawa Tengah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah yang dirilis pada awal Maret 2026, Kota Solo mencatat 412 kasus HIV/AIDS baru.

Tingginya angka tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Surakarta. Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menegaskan bahwa upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah.

“Ini menjadi keseriusan bagi kami, komitmen terhadap pemberantasan AIDS. Akan kita selesaikan, kita sosialisasikan ke masyarakat dan lebih kita perhatikan terkait penyakit masyarakat,” tandas Respati, Sabtu (30/5/2026).

Respati menyampaikan langkah utama yang akan diperkuat adalah edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya HIV/AIDS melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal. Pemkot juga akan melibatkan Komisi Penanggulangan AIDS untuk turun langsung ke masyarakat guna meningkatkan kesadaran dan pemahaman warga.

Selain itu, Pemkot Solo berencana mengoptimalkan program Kelurahan Peduli AIDS serta memperkuat edukasi di lingkungan sekolah. Kelompok usia praremaja dan remaja menjadi sasaran utama program pencegahan karena dinilai rentan terhadap berbagai faktor risiko penularan.

“Kami akan lebih sering melakukan langkah pencegahan. Kelurahan Peduli AIDS akan lebih dioptimalkan lagi. Terobosan yang akan kami lakukan adalah penekanan edukasi di sekolah-sekolah, terutama bagi anak-anak usia praremaja dan remaja,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, dr. Retno Erawati Wulandari, menjelaskan bahwa tingginya angka temuan kasus HIV/AIDS di Solo tidak serta-merta menunjukkan tingginya tingkat penularan di dalam kota. Menurutnya, capaian tersebut juga dipengaruhi oleh masifnya program skrining dan deteksi dini yang dilakukan Dinas Kesehatan.

Retno mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen kasus HIV/AIDS yang ditemukan di Solo berasal dari warga luar daerah, sedangkan warga Kota Solo hanya sekitar 20 persen dari total kasus yang terdeteksi.

“Dari kasus yang ditemukan di Solo, hanya 20 persen yang warga Solo, sisanya warga luar Solo,” ujarnya.

Ia menambahkan, Kota Solo sejak lama menjadi salah satu daerah dengan temuan kasus HIV/AIDS tertinggi di Jawa Tengah karena aktif melakukan pemeriksaan dan penemuan kasus secara dini. Menurutnya, semakin banyak kasus yang ditemukan, semakin cepat pula pasien dapat memperoleh pengobatan sehingga risiko penularan kepada orang lain dapat ditekan.

“Dulu ketika skrining belum digencarkan, angka HIV terlihat rendah karena banyak kasus yang belum terdeteksi. Tingginya angka temuan saat ini juga menunjukkan upaya deteksi yang semakin optimal,” jelas Retno.

Fasilitas kesehatan yang lengkap di Kota Solo juga menjadi alasan banyak warga dari daerah sekitar memilih melakukan pemeriksaan di kota ini. Selain kualitas layanan yang memadai, faktor kenyamanan dan privasi menjadi pertimbangan penting bagi pasien.

Dalam upaya pencegahan, Dinas Kesehatan Kota Surakarta terus bersinergi dengan berbagai pihak, mulai dari Komisi Penanggulangan AIDS, Warga Peduli AIDS, Dinas Pendidikan hingga DP3AP2KB.

Edukasi dilakukan melalui penyuluhan kesehatan reproduksi, bahaya narkoba, pentingnya kesetiaan dalam hubungan, serta pemeriksaan HIV bagi ibu hamil.
Retno menegaskan bahwa seluruh puskesmas di Kota Surakarta kini telah menjadi klinik Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) bagi Orang dengan HIV (ODHIV). Penguatan jejaring layanan dengan lembaga swadaya masyarakat juga terus dilakukan untuk mencegah pasien putus berobat dan memperluas akses konseling serta tes HIV bagi kelompok berisiko.

Melalui berbagai langkah tersebut, Pemkot Surakarta berharap penanganan HIV/AIDS dapat berjalan lebih efektif, terarah, dan berkelanjutan. Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap ODHIV agar semakin banyak warga yang berani melakukan pemeriksaan dan memperoleh pengobatan sejak dini.