SEMARANG, MettaNEWS — Forum Santri Anak Jawa Tengah (Forsan Jateng) mulai menyiapkan berbagai program penguatan perlindungan anak dan pencegahan kekerasan di lingkungan pesantren setelah resmi terbentuk pada akhir 2025 lalu.
Komitmen tersebut disampaikan pengurus Forsan Jateng saat audiensi bersama Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Jawa Tengah di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (25/5/2026).
Ketua Forsan Jateng, Farel Alfariz dari Pesantren Darul Falah Jepara, mengatakan forum tersebut dibentuk untuk memperjuangkan hak-hak anak dan santri di lingkungan pondok pesantren, mulai dari hak pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan dari kekerasan dan perundungan.
“Forum ini menjadi pelopor dan pelapor. Karena kalau tidak ada yang memulai, maka tidak akan bergerak. Insya Allah forum ini akan menjadi wadah aspirasi santri terkait berbagai problematika di pondok pesantren,” paparnya.
Forsan Jateng resmi dibentuk pada 19–20 Desember 2025 di Asrama Haji Islamic Center Semarang melalui fasilitasi Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah, DP3AP2KB Jateng, Lembaga Perlindungan Anak, dan Forum Anak Jawa Tengah.
Wakil Ketua Forsan Jateng, Nabila dari Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, menjelaskan forum tersebut menjadi Forum Santri Anak pertama di Indonesia di tingkat provinsi.
Nabila menuturkan, para pengurus sebelumnya telah mendapatkan pembekalan terkait konvensi hak anak, pendidikan keterampilan hidup, hingga konsep pelopor dan pelapor dalam perlindungan anak.
Dalam audiensi tersebut, Forsan Jateng juga memaparkan sejumlah program kerja periode 2026–2027. Untuk program internal, forum akan fokus pada pengukuhan kepengurusan dan peningkatan kapasitas anggota melalui seminar serta pelatihan daring maupun luring.
Sementara untuk program eksternal, Forsan Jateng menargetkan pembentukan Forum Santri Anak di 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah.
Selain itu, mereka juga menyiapkan program Safari Santri atau “Forsan Goes to School”, survei anak santri Jawa Tengah (SAKJATENG), hingga edukasi melalui siaran langsung media sosial dan webinar.
“Nanti kami akan berkunjung ke pesantren-pesantren untuk saling mengedukasi tentang pesantren ramah anak dan pencegahan bullying maupun kekerasan,” kata Nabila.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin menyambut positif terbentuknya forum tersebut. Menurutnya, keberadaan Forum Santri Anak menjadi langkah penting dalam memperkuat perlindungan anak di lingkungan pesantren.
Ia menilai kasus kekerasan terhadap anak kini semakin kompleks dan dapat terjadi di berbagai lingkungan, termasuk sekolah dan pesantren.
“Kekerasan anak sekarang muncul di banyak tempat, bahkan sampai tingkat TK dan SD. Ini juga tidak menutup kemungkinan terjadi di pondok pesantren,” tandas Taj Yasin.
Pria yang akrab disapa Gus Yasin itu berharap Forsan Jateng dapat menjadi mitra pemerintah dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan ramah anak.
Ia juga mendorong forum tersebut memperluas jaringan hingga seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah serta membangun kolaborasi dengan organisasi kepesantrenan lainnya.
“Dengan adanya Forum Santri Anak ini, saya berharap pesantren-pesantren bisa semakin aktif mencegah kekerasan dan membangun budaya saling menjaga antar-santri,” pungkasnya.








