SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, menghadiri Festival Kasih Bumi 2026 yang diinisiasi oleh INLA (International Nature Loving Association) Surakarta di Solo Square, Minggu (19/4/2026).
Kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi seni, budaya, dan edukasi lingkungan yang melibatkan masyarakat, termasuk anak-anak dan generasi muda.
Dalam sambutannya, Astrid menekankan pentingnya membangun kesadaran lingkungan sejak dini. Ia mengapresiasi kreativitas peserta festival yang mampu mengolah sampah menjadi karya bernilai, seperti topi dari bahan daur ulang.
“Festival ini bukan hanya pergelaran seni dan budaya, tetapi juga wujud nyata kepedulian kita terhadap kelestarian lingkungan,” ujarnya di hadapan peserta.
Soroti Cuaca Ekstrem dan Dampak Lingkungan
Astrid juga menyinggung kondisi cuaca ekstrem yang belakangan terjadi di Surakarta. Ia mengingatkan adanya peningkatan risiko hidrometeorologi, termasuk hujan berkepanjangan hingga April yang berdampak pada banjir di sejumlah wilayah.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peringatan penting agar masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan, dimulai dari hal kecil di rumah.
Tiga Langkah Penting Pengelolaan Sampah
Dalam kesempatan tersebut, Astrid menyampaikan tiga pesan utama kepada masyarakat yakni pemilahan sampah dari rumah.
“Edukasi dan sosialisasi akan terus dilakukan oleh Pemerintah Kota bersama komunitas untuk mendorong praktik pengelolaan sampah yang baik,” ujarnya.
Ia juga menekankan akan pentingnya penerapan konsep 3M (Reduce, Reuse, Recycle). Masyarakat diimbau mengurangi konsumsi berlebihan, memanfaatkan kembali barang, serta mendaur ulang sampah untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA).
“Pengurangan penggunaan plastik perlu dilakukan. Kami mendorong penggunaan tas dan kantong kain serta mengurangi wadah plastik sekali pakai secara bertahap,” ujarnya.
Selain itu, Astrid mengajak masyarakat untuk menanam dan merawat tanaman, termasuk melalui konsep urban farming di lahan terbatas.
Kolaborasi Komunitas Jadi Kunci
Festival Kasih Bumi dinilai menjadi contoh nyata sinergi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam membangun gerakan cinta lingkungan secara berkelanjutan.
“Peran komunitas sangat penting untuk menggerakkan kesadaran kolektif. Kami berharap kegiatan ini menjadi inspirasi, khususnya bagi generasi muda, untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” tambahnya.
Sebagai kota budaya, Surakarta dinilai memiliki potensi besar menjadikan seni dan tradisi sebagai media edukasi lingkungan.
Festival ini pun diharapkan mampu memperkuat keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam.
Kegiatan berlangsung meriah dengan berbagai pertunjukan seni, edukasi lingkungan, serta partisipasi aktif masyarakat dari berbagai kalangan.







