JAKARTA, MettaNEWS — Satgas Penegakan Hukum (Gakkum) Penyelundupan Bareskrim Polri berhasil membongkar praktik impor ilegal komoditas pangan dalam jumlah besar di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
Dalam operasi ini, polisi menyita sekitar 23 ton bawang serta sejumlah bahan pangan lain yang masuk tanpa dokumen resmi.
Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Tipideksus) Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Ade Safri Simanjuntak, mengungkapkan bahwa pengungkapan kasus dilakukan di dua lokasi berbeda di Pontianak Selatan pada Senin (13/4/2026).
Di lokasi pertama, Jalan Budi Karya No. 5, petugas menemukan 10,35 ton bawang yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, dan bawang bombay kuning. Sementara di lokasi kedua, Komplek Pontianak Square, polisi kembali menyita 12,796 ton bawang bombay serta tambahan barang bukti berupa cabai kering.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, komoditas ini berasal dari luar negeri. Bawang merah diduga dari Thailand, bawang putih dan cabai kering dari China, serta bawang bombay dari Belanda,” ujar Ade Safri, Jumat (17/4/2026).
Dari hasil penyelidikan sementara, diketahui bahwa barang-barang ilegal tersebut masuk ke Indonesia melalui jalur Malaysia sebelum diedarkan di wilayah Kalimantan Barat.
Polisi menyebutkan bahwa pemilik toko maupun gudang di lokasi penemuan hanya berperan sebagai penerima atau pembeli, bukan pelaku utama. Saat ini, lokasi penyimpanan telah dipasangi garis polisi untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut.
Satgas Gakkum Bareskrim Polri kini terus mengembangkan kasus ini guna mengungkap jaringan utama di balik penyelundupan lintas negara tersebut.
Penindakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan serta melindungi masyarakat dari produk ilegal yang tidak terjamin kualitas dan keamanannya.
Polri juga mengimbau para pelaku usaha untuk mematuhi aturan impor yang berlaku demi mendukung kedaulatan pangan nasional.
“Saat ini, jaringan pemasok utama masih dalam pengejaran. Kami tidak akan memberi ruang bagi praktik penyelundupan yang merugikan petani dan perekonomian negara,” tegasnya.







