SOLO, MettaNEWS – Pentas Triwulan Catha Ambya 9 yang digelar oleh ISI Solo menghadirkan nuansa berbeda dengan suasana magis di Pamedan Pura Mangkunegaran, Sabtu (11/4/2026). Kegiatan ini berkolaborasi dengan tradisi Tingalan Wiyosan Setu Pon untuk memperingati hari kelahiran K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X.
Mengusung tema “Tubuh sebagai Kolaborasi dan Interaksi”, pentas ini menjadi ruang dialog budaya yang mempertemukan mahasiswa, seniman, dan masyarakat dalam satu panggung kebersamaan. Acara dimulai pukul 19.00 dengan alunan klenengan gamelan khas Mangkunegaran yang menciptakan suasana sakral dan memukau.
Di tengah pertunjukan, suasana semakin hangat dengan prosesi Boga Sambrama oleh para abdi dalem. Tradisi ini berupa pembagian aneka makanan kepada penonton sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan, memperkuat nilai keramahan dalam budaya Jawa.
Pentas menghadirkan lima sajian tari yang sarat makna. Sajian pembuka adalah Tari Gambyong Maduretno karya Pujiyani, yang menonjolkan unsur vokal pesindhen dalam balutan gerak yang anggun. Selanjutnya, Tari Jemparingan karya Sunarno Purwalelono dibawakan oleh penari dari Sanggar Soerya Soemirat, menggambarkan ketangkasan prajurit dalam berlatih.
Penampilan berlanjut dengan Tari Bedhaya Mustika yang dibawakan mahasiswa ISI Solo, menyuguhkan harmoni gerak dan doa untuk kelestarian alam semesta. Kemudian, Tari Langen Asmara menghadirkan nuansa romantika dengan perpaduan gaya Surakarta dan Yogyakarta yang lembut dan anggun.
Sebagai puncak acara, ditampilkan Tari Beksan Bandayuda, tarian klasik gagah gaya Surakarta yang menggambarkan pertarungan sebagai simbol pengendalian diri manusia. Sajian ini ditutup dengan gerakan yang penuh makna dan disiplin tinggi.
Sebelumnya, sambutan hangat juga disampaikan oleh Ancillasura Marina Sudjiwo yang akrab disapa Gusti Sura, menyambut para tamu dan peserta yang hadir.
Pentas Triwulan Catha Ambya 9 tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, tetapi juga ruang kolaborasi lintas generasi yang menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi. Harmoni gerak, musik, dan suasana sakral Setu Pon menjadikan acara ini sebagai momentum penting dalam merawat dan mengembangkan kebudayaan Jawa.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin koneksi yang lebih erat antara kampus, keraton, dan masyarakat, sekaligus membuka ruang-ruang kreatif baru yang memperkuat eksistensi budaya di tengah perkembangan zaman.







