JAKARTA, MettaNEWS — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) membuka Bulan Literasi Kripto (BLK) 2026 sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap aset keuangan digital, khususnya kripto, agar dimanfaatkan secara bijak dan bertanggung jawab.
Dalam pembukaan yang digelar di Jakarta, Selasa, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menekankan pentingnya keseimbangan dalam berinvestasi kripto dengan berbasis pada analisis fundamental yang kuat.
“Kita bertransaksi kripto harus seimbang, berbasis pada fundamental analisis data yang kuat dan melihat potensi peluang ke depan,” ujar Adi.
Menurut Adi, perdagangan aset kripto kini telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, OJK terus mendorong penguatan tata kelola industri serta perlindungan konsumen demi menjaga keberlanjutan ekosistem.
Selain itu, aset kripto dinilai memiliki potensi besar sebagai masa depan pasar keuangan (the future of financial market), termasuk kontribusinya terhadap penerimaan negara. Data Direktorat Jenderal Pajak mencatat, penerimaan pajak dari aset kripto mencapai Rp796,73 miliar pada 2025 dan meningkat menjadi Rp1,96 triliun hingga Februari 2026.
Dari sisi transaksi, OJK mencatat nilai perdagangan aset kripto sepanjang 2025 mencapai Rp482,23 triliun, menurun dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp650,61 triliun. Penurunan ini dipengaruhi faktor global serta siklus pasar kripto. Meski demikian, tingkat adopsi di Indonesia tetap tinggi, dengan posisi ke-7 dalam Global Crypto Adoption Index 2025.
Sementara itu, Ketua ABI, Robby, menyampaikan bahwa industri aset keuangan digital di Indonesia memiliki fondasi yang kuat dan mampu bersaing di tingkat global. Ia menegaskan pentingnya menjaga integritas ekosistem di bawah pengawasan OJK.
“Ekosistem kripto di Indonesia sendiri ditopang oleh tiga pilar utama, yakni bursa sebagai infrastruktur transaksi, pedagang sebagai akses investor ritel, serta kliring dan kustodi sebagai penjamin keamanan aset,” terang Robby.
Program BLK 2026 akan diselenggarakan di berbagai kota seperti Jakarta, Surakarta, Yogyakarta, dan Manado. Kegiatan ini mencakup tiga program utama, yaitu literasi kripto untuk masyarakat umum, literasi blockchain bagi mahasiswa dan pengembang, serta literasi bagi aparat penegak hukum.
Hingga Februari 2026, jumlah akun konsumen kripto di Indonesia telah mencapai 21,07 juta, menunjukkan tren peningkatan partisipasi masyarakat seiring berkembangnya ekosistem digital.
Pembukaan BLK 2026 juga dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan, termasuk anggota Komisi XI DPR RI, Eric Hermawan, serta Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi, Tirta Karma Senjaya, bersama para pelaku industri aset keuangan digital dan kripto.







