Kolaborasi Kagura Jepang dan Tari Klasik Solo di Ndalem Joyokusuman, Wawali Astrid Sebut Seni Jadi Jembatan Persahabatan

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, menghadiri pertunjukan seni kolaborasi Japan–Indonesia di Ndalem Joyokusuman, Sabtu (21/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pertukaran budaya antara komunitas Sousei Kagura Jepang dan Sanggar Semarak Candra Kirana.

Sebanyak 24 anggota komunitas Sousei Kagura hadir di Solo dalam program pertukaran budaya yang berlangsung selama lima hari sejak 18 Februari. Rombongan tersebut dipimpin oleh guru Kagura generasi ke-80. Sousei Kagura merupakan bagian dari tradisi Kagura, tarian sakral kuno Jepang yang telah hidup ratusan tahun dan berakar pada ritual Shinto sebagai bentuk persembahan kepada para dewa (kami).

Secara historis, Kagura berkembang dari ritual istana (mikagura) hingga menyebar ke berbagai daerah (satokagura). Pertunjukan ini memadukan unsur tari, musik tradisional seperti taiko (gendang), seruling, serta nyanyian ritual, dan kerap mengangkat kisah mitologi Jepang, termasuk legenda Dewi Matahari Amaterasu. Seiring waktu, Kagura tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga warisan seni pertunjukan yang dijaga lintas generasi.

Dalam sambutannya, Astrid menyampaikan bahwa Surakarta merupakan kota yang hidup sebagai penjaga tradisi dan warisan budaya.

“Melalui kolaborasi istimewa ini, yang mempertemukan kesakralan tradisi Kagura Jepang dan keanggunan tari klasik Indonesia, kita tidak hanya menyaksikan sebuah pertunjukan seni, tetapi juga terlibat dalam dialog budaya yang mendalam dan penuh makna,” tutur Astrid.

Ia menegaskan bahwa seni adalah bahasa universal yang melampaui batas negara, bahasa, dan perbedaan. Kolaborasi ini, menurutnya, menjadi jembatan penting dalam mempererat persahabatan Indonesia dan Jepang.

“Atas nama Pemerintah Kota Surakarta, kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Komunitas Sousei Kagura dan Sanggar Semarak Candra Kirana atas dedikasi dan komitmennya menghadirkan pertunjukan luar biasa ini,” katanya.

Pada malam tersebut juga digelar jamuan makan malam bersama seluruh peserta pertukaran budaya. Suasana semakin khidmat dengan penampilan tari dari kedua negara. Dari Indonesia ditampilkan Tari Srimpi yang sarat kelembutan dan filosofi keraton, sedangkan dari Jepang dipentaskan Tari Kaguya, bagian dari repertoar Kagura yang mengangkat kisah klasik Putri Kaguya dalam balutan gerak simbolik dan musik tradisional.

Astrid berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada satu momentum, melainkan menjadi awal kemitraan budaya yang berkelanjutan melalui pertunjukan, lokakarya, pertukaran seniman, hingga program edukasi bagi generasi muda.

“Semoga kolaborasi ini semakin memperdalam ikatan persahabatan Jepang dan Indonesia, sekaligus memperkuat komitmen kita untuk menjaga dan merayakan tradisi yang menjadi identitas budaya kita,” pungkasnya.

Selama berada di Solo, rombongan Sousei Kagura juga mengunjungi sejumlah lokasi spiritual dan budaya, seperti Taman Makam Pahlawan, Candi Sukuh, Keraton Surakarta, Umbul Ngabean Pengging, Sanggar Semarak Candra Kirana, hingga Ndalem Joyokusuman.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Federation of Kagura Traditions, Hiroaki Omote, serta pendiri Sanggar Semarak Candra Kirana, dr. R. Ay. Irawati Kusumorasri.