Ipemi PD Solo Hadirkan Jenang Tiwul Merah Putih di Festival Jenang 2026, Merajut Kebersamaan di HUT Solo ke-281

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-281 Kota Surakarta, Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (Ipemj) PD Solo turut ambil bagian dalam Festival Jenang Solo 2026.

Ketua Umum Ipemi PD Solo Atik Puji Lestari mengungkapkan keikutsertaan ini menjadi momentum bagi Ipemi PD Solo untuk mengangkat kearifan lokal sekaligus mempererat kebersamaan antaranggota dan masyarakat.

Pada festival tersebut, Ipemi PD Solo menghadirkan aneka jenang tradisional dengan menu utama Jenang Tiwul yang terbilang jarang ditemui di pasaran.

Jenang Tiwul yang disajikan terdiri dari dua varian, yakni tiwul merah dan tiwul putih. Selain itu, Ipemi PD Solo juga menyuguhkan berbagai jenis jenang lainnya seperti jenang mutiara, jenang grendul, serta jenang pati telo.

Atik, menjelaskan bahwa pemilihan Jenang Tiwul dilakukan karena memiliki nilai kearifan lokal yang kuat.

“Kami memilih Jenang Tiwul yang jarang sekali kita temui di pasaran. Kita mengangkat kearifan lokal dengan bahan baku singkong,” ujarnya.

Jenang Tiwul karya dari Ipemi PD Solo | MettaNEWS / Puspita

Ketua Panitia Ruri menjelaskan seluruh proses memasak dan persiapan. Ruri mengatakan prosea memasak dilakukan langsung oleh anggota Ipemi PD Solo, dengan total sekitar 400 takir jenang yang dibagikan kepada masyarakat.

Ruri menuturkan, persiapan telah dimulai sejak pukul 01.00 WIB dini hari. Untuk Jenang Tiwul Merah, proses memasaknya dilakukan hingga tiga kali.

“Mulai dari direndam air, kemudian dikukus, baru diberi santan dan air gula. Kami membuat dua warna, merah dan putih, sebagai simbol bendera Merah Putih untuk memperingati Hari Jadi Kota Solo,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ruri mengungkapkan bahwa tiwul memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Solo. Dahulu, tiwul menjadi makanan pokok dengan bahan baku singkong yang sederhana namun menyehatkan.

“Rasanya unik, gluten free, sehingga aman dikonsumsi, termasuk bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Bahan singkong ini lebih sehat dan rasanya tidak kalah dengan jenang berbahan tepung,” tambahnya.

Sekretaris Ipemi PD Solo, Alin, menyampaikan bahwa keikutsertaan ini merupakan pengalaman pertama Ipemi PD Solo dalam Festival Jenang yang rutin digelar setiap tahun.

“Ini bentuk kepedulian kami, sekaligus untuk menunjukkan bahwa Ipemi itu ada. Jika ada masyarakat yang ingin bergabung, ini juga menjadi sarana promosi Ipemi,” ujarnya.

Sementara itu, Bidang IT Ipemi PD Solo, Anisa, menambahkan bahwa festival ini juga menjadi ajang memasyarakatkan makanan tradisional dan budaya Jawa.

“Semua peserta stand memakai baju kebaya. Jadi selain memasyarakatkan jenang, kita juga memasyarakatkan budaya, mulai dari makanan hingga busana kebaya yang mencerminkan Jawa Tengah, khususnya Solo,” tuturnya.

Senada dengan itu, Bidang Humas Ipemi PD Solo, Suryani, menegaskan bahwa kontribusi Ipemi PD Solo dalam Festival Jenang merupakan wujud nyata kepedulian terhadap pelestarian budaya.

“Ini adalah bagian dari upaya nguri-nguri makanan tradisional di Solo. Sekaligus lebih memperkenalkan Ipemi Solo dan memberi manfaat bagi masyarakat,” paparnya.

Melalui Festival Jenang Solo, Ipemi PD Solo berharap kebersamaan antaranggota semakin rekat, layaknya tekstur jenang yang menyatukan.