SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menghadiri Seminar Nasional Sejarah Pancasila yang digelar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis (5/2/2026). Seminar ini diikuti oleh mahasiswa UNS dan menghadirkan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi.
Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BPIP dan Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah se-Indonesia (P3SI). Kerja sama ini bertujuan memperkuat pengarusutamaan nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan sejarah di perguruan tinggi.
Dalam sambutannya, Astrid menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar teks, melainkan jiwa, fondasi, dan kompas perjalanan bangsa Indonesia di tengah tantangan globalisasi, disrupsi teknologi, dan perubahan sosial yang terus berkembang.
“Perguruan tinggi bukan hanya pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga benteng pembentukan karakter dan agen pembudayaan nilai-nilai kebangsaan, terutama bagi generasi muda,” kata Astrid.
Ia menekankan pentingnya pendidikan sejarah dalam memahami Pancasila secara kontekstual. Menurutnya, sejarah Pancasila bukan narasi masa lalu yang usang, tetapi proses hidup yang harus dipahami secara kritis dan reflektif.
“Melalui pendekatan sejarah, Pancasila dapat dipahami sebagai kesadaran ideologis yang hidup dan relevan dalam setiap tindakan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala BPIP Yudian Wahyudi menyoroti pentingnya momen Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai tonggak sejarah bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan setelah perjuangan panjang.
Seminar nasional ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman historis dan konseptual Pancasila, serta mengonsolidasikan peran pendidikan sejarah dalam membentuk karakter generasi muda. Kegiatan ini juga menjadi ruang dialog antara pembuat kebijakan dan akademisi untuk merumuskan langkah kolaboratif dalam penguatan ideologi Pancasila.








