Pemprov Jateng Bidik Soloraya sebagai Aglomerasi Pertumbuhan Ekonomi

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membidik wilayah Soloraya sebagai kawasan aglomerasi pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Tengah. Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat membuka kegiatan Outlook Ekonomi Soloraya 2026 bertema “Sinergi Infrastruktur Ekonomi dan Inovasi untuk Akselerasi Pertumbuhan Regional Soloraya” di The Sunan Hotel Solo, Rabu (4/2/2026).

Gubernur Luthfi menyampaikan bahwa strategi percepatan ekonomi daerah ini diinisiasi oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Soloraya dan akan menjadi pilot project pertama di Jawa Tengah.

Luthfi menyebut Jawa Tengah memiliki luas wilayah sekitar 3,5 juta hektare, dengan sekitar 1,5 juta hektare merupakan kawasan pertanian yang menopang swasembada pangan nasional. Ke depan, potensi tersebut akan disinergikan dengan pengembangan industri nasional guna mendukung visi Indonesia Emas 2045.

“Bagaimana kecepatan masa depan Jawa Tengah, kita posisikan sebagai lumbung pangan nasional yang menopang industri nasional. Dari Solo kita mulai, agar target Indonesia Emas 2045 bisa tercapai,” tandas Luthfi.

Ia menegaskan, percepatan ekonomi Soloraya tidak hanya mengandalkan event tahunan seperti Solo Great Sale (SGS), tetapi melibatkan seluruh wilayah Soloraya dengan potensi masing-masing untuk bersama-sama menciptakan ekosistem ekonomi baru.

“Bagaimana Kadin Soloraya menginisiasi aglomerasi ini bukan hanya sebatas kegiatan great sale, tetapi menyatukan seluruh potensi wilayah Soloraya dengan Solo sebagai patokan untuk menumbuhkan ekonomi baru,” jelasnya.

Sebagai bentuk dukungan, Pemprov Jawa Tengah akan memfungsikan Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) sebagai sentral kegiatan pengembangan ekonomi aglomerasi. Seluruh potensi daerah di Soloraya akan terwadahi melalui Bakorwil sebagai perpanjangan tangan Gubernur.

“Ini akan menjadi pilot project pertama. Bakorwil akan menjadi pusat kegiatan agar seluruh Soloraya bisa terwadahi dan perkembangan ekonomi baru bisa tumbuh,” kata Luthfi.

Ia menambahkan, dalam struktur organisasi dan tata kelola (SOTK) terbaru, Bakorwil akan berperan strategis di berbagai wilayah, seperti Bakorwil Soloraya, Pekalongan Raya, Banyumas Raya, dan Kedu Raya, sebagai pusat pengembangan ekonomi aglomerasi.

“Nanti para bupati dan wali kota dengan Kadin masing-masing bisa memanfaatkan Bakorwil sebagai sentral pengembangan ekonomi baru. Tempatnya sudah kami siapkan di kawasan Gladag,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Luthfi menuturkan bahwa strategi percepatan ekonomi aglomerasi Soloraya juga melibatkan kalangan akademisi untuk mengkaji dan merumuskan konsep yang tepat, mengingat program ini merupakan yang pertama di Jawa Tengah.

Ke depan, model aglomerasi ini direncanakan akan dikembangkan ke wilayah lain di Jawa Tengah, seperti Pekalongan Raya, Kedu Raya, dan Banyumas Raya.

“Soloraya akan menjadi basis ekonomi baru yang pertama. Setelah itu, akan kita kembangkan ke wilayah-wilayah lain di Jawa Tengah,” pungkasnya.