Menarik, Solo Art Market #13 Suguhkan Produksi Kreasi Unik Secara Langsung

oleh
Pengunjung mencoba membuat produksi tenun kartu di Solo Art Market #13, Ngarsapura, Minggu (27/3/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Solo Art Market (SAM) seri 13 menggandeng 46 artisan yang ikut berkreasi secara langsung di koridor Pedestrian Ngarsapura, Minggu (27/3). Dengan menyuguhkan proses pembuatan beragam kreasi langsung dari kreatornya, pengunjung juga bisa mencoba ikut berkreasi.

Salah satu suguhan produksi menarik adalah kreator tenun kartu bernama Anastasya Ika. Dalam suguhan produksi Solo Art Market ia menampilkan pertunjukan yang tak kalah apiknya. Pada aksi pertunjukkan produksi tenun kartu nampak beberapa pengunjung mencoba belajar membuat tenun kartu di lapaknya. Ika menyebut, tenun kartu yang ia pejalari sejak 2018 lalu merupakan salah satu jenis tenun yang jarang ditemukan di Indonesia.

“Kalau kita di Indonesia hanya ada di satu daerah di Mamasa, Sulawesi Barat. Kita memiliki perbedaan di pembuatan motifnya yakni menggunakan kartu, jadi perputaran kartunya itu akan menentukan motifnya,” katanya Minggu (27/3/2022) lalu.

Sebagai seni yang tak mudah ditemukan, Ika berusaha mengenalkan kreasi tersebut di Kota Solo melalui Solo Art Market. Ika yang sudah mengikuti event ini sebanyak 5 kali menyebut tenun kartunya mampu menarik pengunjung untuk belajar serius menekuni tenun kartu.

“Mereka sangat tertarik untuk mencobannya, lalu ada beberapa orang yang akhirnya pengin belajar secara serius, mereka sangat antusias,” tutupnya.

Sementara itu kreasi ecological print dari Karanganyar juga mampu menatik perhatian pengunjung untuk mencobanya.

Owner New Coral Ecofriendly, Denny Djoko Novianto menjelaskan karyanya yang bertajuk News Coral Ecofriendly ini merupakan kreasi pakaian dari tumbuhan yang sangat ramah lingkungan. Dalam pembuatannya, ia hanya memanfaatkan tumbuhan seperti daun dan kulit kayu. Sementara untuk bahan pendukungnya menggunakan bahan berupa linen, katun dan kanvas.

“Kalau daun dicetak di atas pakaiannya, sedangkan kalau kayu diekstrak diambil warnanya. Kalau pakai bahan alami kan dipakainya lebih sehat dan lebih seger,” ungkap Djoko, Minggu (27/3/2022).

Kreasi ecoprint Solo Art Market #13

Djoko yang awalnya berprofesi sebagai pembatik mempunyai ide untuk membuat batik yang lebih ramah lingkungan. Dengan niat mulai bereksplorasi suatu hal yang baru akhirnya ia mampu merilis batik-batik yang menggunakan pewarnaan alam. Bahan alami sepert daun jati dan daun terong diproses dengan teknik pounding (dipukul).

“Kami terus berproses dan berkembang melalui Solo Art Market. Dari situ juga input-input dari customer yang ada di sini turut serta mengembangkan usaha yang kami miliki. Mereka (customer) selalu nanya barang yang baru apa sudah diproduksi,” tambahnya.

Solo Art Market yang dikemas secara apik ini, Djoko mengungkapkan bahwa event tersebut baru kali pertama menggabungkan antara pameran dengan workshop. Selain menjadi atraksi pertunjukan, Solo Art Market ini juga sebagai  seleksi para artisan brand yang dapat bergabung untuk dipilih yang melakukan produksi.

Pada awal produksi, Djoko hanya mampu menghasilkan produk ecoprint berupa pakaian dengan warna dasar putih. Saat ini ia mampu memproduksi berbagai warna sesuai permintaan pelanggan. Tidak hanya pakaian saja, beberapa permintaan datang seperti tas besar nan simple dan beberapa permintaan baju muslimah. Rencananya saat bulan Ramadan pihaknya akan mengeluarkan baju muslim secara keseluruhan.

“Harapannya event seperti ini tidak hanya digelar di Solo saja, tapi lebih luas lagi. Mungkin bisa menjangkau tamu-tamu yang di luar kota,” pungkasnya.

Keunikan lain dalam gelaran Solo Art Market ini diungkapkan Djoko seperti terjalinnya kolaborasi antar artisan brand dan tokoh yang diundang. Sehingga ia berharap bagaimana event seperti ini dapat mempertemukan langsung para kreator seni dengan pelaku UMKM yang memiliki pengaruh penting.

Ika dan Djoko hanya dua dari total 46 artisan yang menyuguhkan kreasi-kreasi unik yang dapat dicoba langsung oleh pengunjung dalam proses pembuatannya.  Menurut Koordinator Solo Art Market, Heru Mataya, kreasi seni dari para kreator yang melakukan pertunjukkan produksi secara langsung menjadi pembeda dengan pasar seni lain.

“Dan yang membedakan dengan acara-acara yang lainnya di pameran, SAM ini dilaksanakan di ruang publik yang bersejarah di Ngarsopuro, dan para peserta harus melakukan workshop, mereka tidak hanya jualan tapi melakukan kerja-kerja kreatif di tempat ini,” ujarnya.

Gelaran Solo Art Market ini tidak hanya berhenti disini saja. Pasalnya pada bulan April mendatang, Solo Art Market seri 14 akan kembali digelar. Menyuguhkan ragam sajianberbuka puasa, Solo Art Market #14 bakal menjadi tempat yang pas untuk menghabiskan waktu ngabuburit.