SOLO, MettaNEWS – Ritual melepaskan mahluk hidup ke alam bebas, dalam tradisi Tionghoa disebut fang sheng. Namun ternyata tradisi yang sudah sangat tua itu acap dilakukan juga oleh etnis lain. Bahkan dilakukan bersama dengan tradisi yang berbeda, seperti tumpengan yang dikenal sebagai tradisi masyarakat Jawa.
Seperti yang ditemui MettaNews, sekelompok warga Solo di Penumping, Kecamatan Laweyan, melakukan tradisi fang sheng. Mereka melepaskan ratusan ekor burung yang dibeli dari Pasar Depok. Setelah itu, mereka berdoa sambil memotong dan makan nasi tumpeng bersama-sama.
“Ini sudah beberapa kali kami lakukan. Kita melepaskan makhluk hidup, biar semesta menjaga dan semua makhluk dapat berbahagia. Dijauhkan dari hal-hal yang tidak bagus. Begitulah niat kami,” ungkap Bethani Ratih (55) seusai melepas ratusan burung pipit dan merpati di rumahnya, Selasa (22/3/2022)
Bethani menerangkan, dia dan teman-temannya yang berasal dari beragam latar belakang tak hanya membebaskan burung. Tapi pernah juga melepas ikan ke aliran Bengawan Solo. Dia mengaku tidak sengaja menganut tradisi atau paham mana pun.
Hanya, menurutnya memberi kebebasan kepada mahluk hidup, seperti melepas burung dari sangkar untuk terbang bebas, merupakan kebaikan kepada alam. Karena burung tersebut bisa berpeluang hidup lebih lama, berkembang biak dan menikmati kemerdekaan.
Ritual fang sheng, juga tak dilakukan berdasarkan moment tertentu. Bethani dan kawan-kawan yang berjumlah belasan orang, bisa melakukan itu kapan saja, kira-kira sebulan sekali.
“Kami terbuka kalau ada yang ingin bergabung, mari bersama-sama mensyukuri berkat kehidupan dengan memberikan kebaikan bagi mahluk hidup lain. Saya kira nilai-nilai ini cukup universal. Bisa untuk semua orang,” tandasnya.
Seusai melepaskan burung, kelompok itu berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Setelahnya, mereka bersama-sama makan nasi tumpeng yang dipersiapkan.








