Dihadapkan Risiko Tinggi Bencana, Pemprov Jateng Fokuskan Edukasi dan Mitigasi

oleh
oleh

KARANGANYAR, MettaNEWS – Tingginya frekuensi bencana di Jawa Tengah mendorong Gubernur Ahmad Luthfi memperkuat upaya pencegahan dan edukasi publik.

Dalam forum Jambore Nasional ke-3 Relawan Muhammadiyah Aisyiyah di Tawangmangu, Kamis (26/6/2025), ia menekankan pentingnya mitigasi sebagai strategi menghadapi kondisi geologis dan klimatologis Jateng yang kompleks.

Menurut data BNPB, Jawa Tengah mencatat 162 kejadian bencana dari total 1.713 kejadian nasional sepanjang Januari hingga 23 Juni 2025. Jenis bencana didominasi hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.

“Jawa Tengah punya hampir semua potensi bencana. Maka pencegahan adalah kunci. Salah satunya dengan normalisasi sungai dan menanam mangrove sebanyak-banyaknya,” kata Luthfi.

Data BPBD Jateng mencatat, hingga Mei 2025, terjadi 152 kejadian, dengan banjir sebagai yang terbanyak (86 kejadian), disusul cuaca ekstrem (42) dan tanah longsor (17). Selain itu, potensi kekeringan, rob, gelombang tinggi, hingga gempa masih perlu diwaspadai hingga akhir tahun.

Luthfi juga menyoroti penggunaan air tanah berlebihan yang menyebabkan penurunan muka tanah dan memicu abrasi.

“Kita edukasi masyarakat agar beralih ke sistem SPAM atau desalinasi. Ini bagian dari antisipasi jangka panjang,” jelasnya.

Kepala BNPB Suharyanto mengapresiasi kemampuan Pemprov Jateng dalam menangani bencana secara mandiri.

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia mengalami rata-rata 20 hingga 25 bencana setiap hari, sehingga semua pihak harus waspada.

Luthfi menutup sambutannya dengan ajakan memperkuat kapasitas relawan bencana.

“Relawan adalah garda terdepan. Edukasi dari desa sampai provinsi harus dijalankan agar kita lebih siap menghadapi situasi darurat,” pungkasnya.