SOLO, MettaNEWS — Dalam rangka HUT ke-52 PDI Perjuangan sekaligus memperingati Bulan Bung Karno, digelar Lomba Pidato Bung Karno di Taman Balekambang, Surakarta, Minggu (25/5/2025).
Acara ini diinisiasi untuk menanamkan semangat dan pemikiran Bung Karno ke dalam jiwa generasi muda, khususnya di Kota Solo yang dikenal memiliki sejarah panjang dalam gerakan nasionalisme Indonesia.
Ketua panitia lomba, Rheo Fernandez, menjelaskan bahwa lomba diikuti oleh lima Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan di Surakarta, masing-masing mengirimkan 10 peserta dengan usia minimal 17 tahun.
“Peserta membawakan pidato berdurasi 10 menit bertema ‘Hidup dan Matiku di Tanah Air Indonesia Raya’. Mereka dinilai tidak hanya dari isi pidato, tetapi juga penampilan, dengan pria bergaya ala Bung Karno dan wanita bergaya ala Ibu Megawati,” ujar Rheo.
Ia berharap lomba ini dapat menjadi agenda tahunan yang semakin besar cakupannya, agar semangat Bung Karno terus berkobar dalam kehidupan berbangsa.
Wali Kota Surakarta, Respaty Ardi, turut memberikan sambutan yang menggelitik namun bermakna. Ia menyinggung kedekatan ideologis dan historis Bung Karno dengan Kota Solo.
“Saya curiga, Solo ini lebih Bung Karno daripada Blitar,” ucapnya, disambut tawa dan tepuk tangan peserta.
Menurutnya, Solo bukan hanya tempat penting dalam sejarah hidup Bung Karno, tetapi juga kota yang masih menjaga api semangat dan ideologi perjuangan.
Respat juga menyoroti pentingnya menanamkan kembali nilai-nilai kebangsaan, utamanya Pancasila dan ekonomi kerakyatan yang digagas Bung Karno.
Ia menyampaikan bahwa saat ini Pemerintah Kota Solo tengah berupaya menghidupkan kembali semangat kerakyatan melalui berbagai program.
“Kita harus membaca kembali buku-buku Bung Karno. Saya juga mendorong masyarakat membaca Paradoks Indonesia karya Pak Prabowo. Di situ terlihat jelas bagaimana ekonomi harus dibangun dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat,” tambahnya.
Lebih jauh, ia menyebut pentingnya pemimpin memiliki ideologi dan keberpihakan. Untuk itu, Pemerintah Kota akan terus menanamkan semangat kebangsaan.
“Kalau pemimpin tidak punya mazhab, tidak punya ideologi, dia akan bingung. Maka kita perlu kembalikan semangat kebhinekaan dan nilai-nilai Pancasila,” tegasnya.
Lomba pidato ini tidak hanya menjadi ajang unjuk retorika, namun juga ruang pendidikan politik dan kebangsaan yang membumi di tengah generasi muda. Dengan tampilnya para peserta muda dengan semangat dan gaya khas Bung Karno, Solo sekali lagi menunjukkan bahwa semangat proklamator pertama RI masih hidup dan terus menyala.
Hadir pada kesempatan tersebut anggota DPRD Solo, Baruna Wasita Aji yang mengapresiasi Lomba Pidato Bung Karno.
“Kalau tanggapan saya sangat bagus. Karena kenapa? ini bisa mengembalikan ruh bangsa kita. Di mana Bung Karno adalah tokoh nasionalisme untuk negara kita. Sebagai pendiri bangsa beliau memberikan contoh-contoh bagaimana kita harus mencintai tanah air kita. Jadi kita bisa berkembang dan maju di negara kita. Negara kita bisa menjadi negara yang disegani oleh bangsa lain. Yang menarik adalah kawan-kawan peserta dalam membawakannya penuh dengan semangat. Minimal jiwa-jiwa patriotik kembali datang kita bisa mengenang bagaimana perjuangan dahulu yang penuh dengan pengorbanan dan sekarang dengan zaman yang berbeda dengan pola pikir yang berbeda kita bisa mengambil contoh dengan pola-pola yang berbeda demi kemajuan bangsa kita,” pungkasnya.







