SOLO, MettaNEWS – Indonesia memiliki warisan budaya kesehatan tradisional yang sangat kaya. Namun potensi tersebut belum digarap secara maksimal. Meskipun produknya sudah siap, perlu memikirkan konsep dan pemasarannya yang tepat.
Lewat talkshow Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) 2023 dengan tema “Ethnowellness Nusantara (ETNA), Destinasi Kesehatan Tradisional Indonesia”. Seminar berlangsung di Andrawina Keraton Kasunanan Surakarta, Selasa (19/9/2023).
Membahas Ethnowellness Nusantara (ETNA) tersebar di seluruh Nusantara. Dan menjadi destinasi wisata kesehatan tradisional yang menakjubkan.
Ketua Panitia IWTIF 2023 Dr. Drs. Jajang Gunawijaya, M.A menyampaikan warisan budaya kesehatan itu berakar pada kebudayaan suku-suku bangsa di Nusantara.
“Yang kami sebut Ethnowellness Nusantara (ETNA). Ini berarti bahwa ETNA adalah perpaduan yang menarik antara budaya, kesehatan, dan warisan leluhur. Menjadi pranata kesehatan tradisional Indonesia yang perlu kita angkat ke tingkat global. Sejajar dengan sistem kebugaran dunia yang kini sudah sangat mapan,” kata Jajang.
Doktor Jajang mengatakan ETNA adalah sebuah pranata kesehatan tradisional yang berakar pada kearifan lokal suku-suku bangsa di Indonesia. Yang khasiatnya telah terbukti membuat bangsa Indonesia menjadi sehat,konsumennya bugar dan tahan terhadap serangan penyakit. Pengetahuan tentang keunggulan ETNA perlu disebarkan terus. Agar Indonesia menjadi tujuan wisata kebugaran bagi wisatawan berkualitas.
“Kami bangga melihat pertumbuhan pesat dari awal baru ketemu 9 ETNA. Sekarang sudah berkembang menjadi 15 ETNA. Daan berkomitmen untuk terus mengembangkan seluruh perawatan tradisional di seluruh Indonesia,” ungkapnya.
15 ETNA tersebut berasal dari daerah Minang, Batak, Jakarta, Sunda, Jawa, Peranakan Semarang, Madura, Bali, Ambon, Banjar, Dayak, Bugis, Minahasa, Papua dan Timor.
“Upaya mempromosikan Ethnowellness Nusantara dan Indonesia sebagai destinasi wellness memang bukan perkara mudah. Tapi kami yakin suatu saat nanti budaya Ethnowellness Nusantara dapat menjadi andalan. Dengan terbentuknya Board of ETNA pada tanggal 8 Juli 2023 dan Dr. H. Tanri Abeng., MBA. terpilih sebagai Chairman Board of ETNA. Yang merupakan suatu himpunan asosiasi-asosiasi yang berkaitan dan bisa bersinergi bersama untuk percepatan kemajuan Ethnowellness Nusantara. Untuk mengangkat kesadaran akan pentingnya kesehatan promotif & preventif.
Pembuktian klinis perawatan dengan pendekatan alamiah Indonesia, serta mengkombinasikan perawatan wellness medis dan non-medis Hingga menggiatkan perjalanan wisata wellness Indonesia untuk wisatawan nasional maupun asing,” beber Jajang.
Kegiatan sarasehan Solo ini lanjut Jajang merupakan program Indonesia Wellness Tourism Festival Internasional (IWTF) telah menjadi program tetap Board of ETNA.
“Melalui IWTIF, kami akan terus berusaha menjangkau lebih banyak potensi pasar dan generasi muda untuk kesadaran peningkatan anti-body, imunitas. Peningkatan wellbeing dan meningkatkan kegiatan ekonomi rill di bidang wellness,” kata Jajang.
Chairman Board of ETNA Dr. H. Tanri Abeng., MBA. menambahkan industry pariwisata yang berbasis wellness berkaitan dengan keberadaan keraton-keraton yang jumlahnya ada 56 di nusantara.
Keraton Surakarta Hadiningrat adalah salah satu anggota dari 56 Dewan Kerajaan MAKN (Majelis Adat Kerajaan Nusantara).
“Bersama ketiga asosiasi IWSPA, IWMA & WHEA mengusung Ethnowellness Nusantara yang akhirnya bersama 35 Asosiasi bersama-sama mendirikan Board of ETNA,” jelas Jajang.
“Kita membahas ekonomi wellness itu besar sekali. Tapi kita masih jauh dari partisipasi yang ada. Termasuk wellness tourism. Ini merupakan holistic health kesehatan yang paripurna. Jadi tidak hanya fisiknya yang sehat tetapi mental spiritualnya, emosi, sosialnya juga, itu komprehensif sekali. Ini sebenarnya kearifan-kearifan yang ada di keraton,” ujarnya.
Tanri menyebut kalau keraton-keraton ini dikembangkan dan promosikan bahkan hingga dunia. Sehingga para turis dari luar negeri datang ke Indonesia karena ada wellness di situ.
“Karena mereka tidak ngerti kalau kita punya wellness. Padahal teman-teman kedokteran sudah mengembangkan ini. Cuma kita belum punya konsep pemasaran,” ujarnya.
Ia mengatakan untuk mulai memasarkan harus membenahi dulu produknya. Keraton inilah yang menjadi produk.
“Destinasinya apa? Keraton, bahwa wellness itu masuk ke keraton. Baru kita bawa wisatawan. Tapi tidak hanya keraton Solo saja tapi semua keraton. Kita tertinggal dan kalah dari Malaysia, Singapura padahal potensi kita jauh lebih besar. ETNO Nusantara ini yang kita kembangkan,” papar Tanri.
Selain pemasaran, packaging juga menjadi PR tersendiri.
“Keraton adalah produk tetapi tidak hanya keratonnya saja yang kita jual tapi melekat juga wellness nya. Itu memang membutuhkan konsep bagaimana pengemasannya. ETNO ini baru saja berdiri jadi belum mendetail. Saya berpikir bahwa ada akselerasi untuk mempercepat. Tapi memang harus ada investasi yang masuk,” tukasnya.
Sementara itu mewakili Keraton Kasunanan Surakarta, GKR Koes Moertiyah menjelaskan kegiatan ini menjadi sarasehan bersama antar pelaku wellness tourism.
“Sebenarnya di Solo itu sudah banyak pelaku bidang kesehatan tradisional. Cuma belum tersosialisasi dengan baik,” kata adik Sinuhun PB XIII yang akrab disapa dengan nama Gusti Moeng ini.
Ia mengungkapkan potensi keraton penuh dengan kearifan lokal.
Gusti Moeng menambahkan komunikasi antar keraton se Indonesia bisa membantu potensi untuk pengembangan wellness tourism ini.








