Harga Daging Ayam Naik 2 Kali Lipat di Idul Adha, Pedagang Curhat: Orang Takut Beli

oleh
Daging ayam
Harini (65) pedagang daging ayam Pasar Gede Solo menghadapi kenaikan harga daging ayam dua kali lipat di Idul Adha, Rabu (28/6/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Hari Raya Idul Adha 1444 H membuat harga daging ayam di pasar tradisional naik. Salah satu pedagang di Pasar Gede, Harini pun mengeluhkan kenaikan salah satu bahan pokok tersebut.

Harini mengeluh lantaran harga daging ayam naik dua kali lipat dari yang semula Rp 20.000/kg kini naik menjadi Rp 40.000/kg.

“Harga Rp 40.000/kg itu baru bisa dapat laba kalau kurang dari itu ya rugi. Kok bisa mahal kaya gitu tu kenapa?,” ujar Harini menanyakan kenaikan harga daging ayam.

Kini target pasar Harini bergeser dari yang biasanya untuk rumah tangga, beralih menjadi rumah makan, restoran maupun hotel.

“Orang beli sampai takut harganya mahal yang beli biasanya rumah makan sama hotel. Kalau orang biasa jarang beli nggak ada uang,” kata Harini.

Harini menuturkan kenaikan harga daging ayam tak terelakkan usai Lebaran April lalu.

“Habis lebaran sampai sekarang mahalnya segitu belum turun naik turun. Kenapanya itu kurang tahu. Sebelum lebaran Rp20.000 aja nggak sampai sekarang,” tuturnya.

Harini yang hanya menjual dagangan milik juragannya bingung untuk mendapat untung.

“Kalau mau setoran. Nggak bisa stock kalau stock tambah rugi kalau difreezer itu malah pres nggak dapat untung. Nggak bisa stock kalau bakul gede bakul kecil,” ucap Harini.

Sejak naik dua kali lipat jumlah daging ayam yang Harini jual berkurang.

“Laku biasanya 80 kilogram sekarang 50 kilogram nggak sampai. Ya bisanya bertahan,” bebernya.

Harini tidak tahu pasti apa hal yang menyebabkan harga daging ayam melonjak. Mendapati kebingungan yang sama sejak 3 bulan terakhir, Harini hanya bisa bertahan.

“Kekurangan daging atau apa nggak tahu mau setor bayar ayam bingung. Labanya sedikit bisanya bertahan setorannya mepet. Pokoknya tombok terus empat hari tombok Rp 4 juta, setor ke juragan tinggal anter terus setor,” tandasnya.

Terpisah, salah satu pemilik warung makan, Asih Sejati (53) mengaku keberatan dengan kenaikan harga daging ayam.

“Kalau pembelian dan kebutuhan tetap. Cuma dikurangi dikit porsi dagingnya untuk buat Soto dan Timlo. Kalau menaikan harga nggak enak juga, soalnya sudah jadi pelanggan tetap,” ungkapnya.