Solo Masih Miliki Banyak PR Untuk Menyandang Predikat Kota Layak Anak Tahun 2023

oleh
Kota Layak Anak
Solo masih miliki banyak PR dalam mewujudkan Kota Layak Anak tahun 2023 | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS –  Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka mengakui Solo masih miliki banyak PR untuk menuju kota layak anak tahun 2023. Hal ini menyusul adanya kasus pernikahan dini dan angka stunting yang tinggi di kota yang ia pimpin itu.

“Kan masih punya PR untuk menjadikan Solo kota layak anak. Iklan rokok juga masih ada. Ada tingkatannya Pratama, Madya, Nindya, Utama dan KLA,” ujar Gibran usai menghadiri Pembinaan Gugus Kota Layak Anak di Solo Techno Park (STP), Senin (6/3/2023).

Gibran menargetkan untuk permasalahan stunting bisa segera teratasi dan 0 kasus. Demikian juga dengan kasus pernikahan dini.

“Sing pentingnya bisa nol stunting. Pernikahan dini berkurang. Sudah itu tok tadi aku juga sudah komitmen stuntingnya masih banyak. Nanti kita tindaklanjuti,” tukasnya.

Pernikahan Dini dan Kasus Stunting Jadi PR Kota Solo Layak Anak

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Solo, Purwanti menyebut pernikahan usia anak di Solo tersebar di 5 kecamatan.

“Kita masih punya PR 5 kecamatan semua ada kasus pernikahan anak. Meskipun ada kelurahan yang bebas dari kasus pernikahan anak. Tapi kan yang sudah ini menjadi PR kita baik dari Kemenag, Pengadilan Agama,” ujar Purwanti.

Pemerintah Kota Solo akan berupaya untuk mencegah adanya pernikahan anak sebelum usia ideal pernikahan. Hal ini untuk mencegah adanya kasus stunting yang angkanya tinggi di Kota Solo.

“Tentunya yang harus kita upayakan adalah mencegah mereka untuk tidak mengajukan pernikahan sebelum usia minimal. Dari sisi program pemerintah secara Undang-undang 19 tahun. Kalau dari sisi program DP3AP2KB 21 perempuan laki-laki 25,” terang Purwanti.

Purwanti menekankan upaya yang harus Pemkot lakukan dengan menyasar pada dua faktor. Baik internal yang meliputi mental, reproduksi maupun eksternal seperti penguatan fungsi keluarga.

“Fungsi keluarga dharus kita kuatkan dari sisi ekonomi dan cinta kasih. Karena ini termasuk fungsi reproduksi juga. Anak-anak yang hamil ini ketika kita tanya mereka nggak sadar kalau hubungan seperti itu bisa sampai hamil,” ujar Purwanti.

“Ini PR kita juga terkait kesehatan reproduksi yang selama ini mungkin sudah kita lakukan dengan pelajaran biologi lewat sekolah. Tapi memang harus kita jelaskan. Kalau luar negeri dengan pendidikan seks jadi harus betul-betul dengan pendidikan biologi belum juga memahami tentang kesehatan reproduksi maka harus kita giatkan sosialisasi,” tandasnya.