Membangun Etos Bisnis Ala Warga Tionghoa Lewat Diskusi Publik dan Kampanye Moderasi Beragama

oleh
Diskusi Publik
Diskusi Publik dan Kampanye Moderasi Beragama FEBI UIN RM Said Solo, Kamis (2/2/2/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SUKOHARJO, MettaNEWS – Membangun etos bisnis yang baik bisa di mulai dari mengikuti diskusi dengan para pebisnis. Salah satunya lewat Diskusi Publik dan Kampanye Moderasi Beragama Fakultas Ekonomini dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Siad Surakarta.

Dekan FEBI UIN RM Said, Rahmawan Arifin mengatakan diskusi publik ini mengusung tema Belajar Sampai ke Negeri Cina, Belajar Etos Bisnis Warga Tionghoa. Sejalan dengan momentum Hari Raya Imlek 2574/2023.

“Momentum kali ini kita mengambil tema tentang kampanye moderenisasi beragama yang kami kaitkan dengan bagaimana membangun etos bisnis. Yang selama ini banyak dilakukan secara sukses oleh saudara-saudara kita warga Tionghoa,” kata Rahmawan, Kamis (2/2/2023).

“Kami seluruh stakeholder di lingkungan FEBI ingin belajar. Kalau sudah konteksnya belajar saya pikir semuanya bisa menjadi ilmu. Maka kami ingin belajar bagaimana etos bisnis masyarakat Tionghoa yang selama ini sudah berjalan secara sukses,” terangnya.

Dua Narasumber dalam Diskusi Publik dan Kampanye Moderasi Beragama

Diskusi Publik
Tokoh PMS Solo, Sumartono Hadinoto dan Pebisnis Muda Astrid Widayani hadiri Diskusi Publik dan Kampanye Moderasi Beragama FEBI UIN RM Said Solo, Kamis (2/2/2/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

Menurutnya diskusi publik sekaligus kampanye modernsasi beragama sangat relevan dengan tema belajar sampai ke negeri Cina. Terlebih bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis. Maka pihaknya mengundang dua narasumber yang bisa menjadi role model dalam dunia bisnis. Yakni Sumartono Hadinoto, pebisnis sekaligus tokoh Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) dan pebisnis muda dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Astrid Widayani.

“Ya kita tahu betul siapa Pak Sumartono ya, beliau adalah tokoh senior masyarakat Solo. Sudah malang melintang di PMS maupun PMI dan sebagainya. Tentunya pengalaman beliau bukan hanya sebagai seorang sosialis tetapi juga seorang interpreneur ya” terangnya.

Selain dikenal sebagai pebisnis sukses, ia menilai Sumartono merupakan sosok organisator dengan track record yang baik. Maka ia berharap sosok Sumartono mampu menjadi suri tauladan mahasiswa ketika terjuan ke dunia bisnis.

“Kita ingin belajar dari beliau yang kebetulan beliau ini juga sangat aktif menyebarkan tentang toleransi, persaudaraan, persahabatan dan lain sebagainya. Untuk itu kami hadirkan untuk diskusi bagaimana membangun etos bisnis dari kalangan keluarga tionghoa,” ujarnya.

“Sedangkan Mba Astrid tentunya beliau adalah sosok pengusaha yang sangat amat energik. Dan saat ini beliau aktif di Hipmi, saya pikir kehadirannya bisa memberikan motivasi kepada mahasiswa bahwasannya mejadi seorang interpreneur itu adalah pilihan,” pungkasnya.