Sumartono Bawa Pesan Hanebu Sauyun Saat Hari Persaudaraan Manusia Internasional

oleh
Hari Persaudaraan Manusia Internasional
Penerima "Peace and Interfaith Award" dari RFBF (Religion Freedom Business Foundation) dibawah UNAOC - PBB, Sumartono Hadinoto memaparkan materinya dalam Seminar Hari Persaudaraan Manusia Internasional, UIN Raden Mas Said Solo, Kamis (2/2/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SUKOHARJO, MettaNEWS – Salah satu tokoh masyarakat sekaligus penerima “Peace and Interfaith Award” dari RFBF (Religion Freedom Business Foundation) dibawah UNAOC – PBB, Sumartono Hadinoto menyambut baik peringatan Hari Persaudaraan Manusia Internasional. Yang mana pada hari ini salah satu perguruan tinggi yakni Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta menggelar seminar untuk memperingati hari tersebut.

Menjadi salah satu pembicara bersama 6 tokoh agama dalam Seminar Hari Persaudaraan Manusia Internasional. Sumartono mengajak semua lapisan masyarakat dapat menjadi saudara tanpa membedakan agama, ras, etnis, suku maupun golongan.

“Mari kita bersama-sama tetap bersaudara selamanya. Karena dengan persaudara ini menjadi sebuah kekuatan yang besar. Satu hal yang luar biasa bahwa kita sudah merdeka dan kemerdekaan ini bukannya hadiah yang kita dapatkan gratis. Melainkan ada perjuangan founding father kita dengan darah dan nyawa, merdeka atau mati. Untuk itulah marilah kita jaga kemerdekaan ini. Maka saya berpesan kepada generasi muda semuanya bisa bersama-sama menjaga,” terangnya.

Arti Hanebu Sauyun Saat Hari Persaudaraan Manusia Internasional

Sumartono juga membawa pesan tentang hanebu sauyun. Semboyan yang dalam perjalanan panjang pimpinan Pura Mangkunegaran, Mangkunegara I. Yang memiliki arti bersatu teguh dalam Kebhinekaan bak serumpun tebu yang terikat erat, tetap mampu bertahan hingga saat ini sebagai salah satu pusat budayaan sastra, dan falsafah bangsa.

“Saya selalu membawa semboyan hanebu sauyun. Sebuah energi yang manis dari isi tebu. Kalau mereka disatukan jadi sebuah sauyun atau sekelompok tebu kemudian menjadi sebuah kekuatan yang besar. Ini sebuah falsafah yang luar biasa. Maka marilah kita terus bersama-sama meskipun berbeda tapi akan menjadi sebuah kekuatan yang besar untuk Indonesia kita tercinta” tukasnya.

Hadir pula Syekh Abdul Aziz Mahmud Abdul Aziz Zaid dari Universitas Al Azhar-Mesir, KH. Taslim Sahlan, MS.I sebagai Ketua FKUB Jawa Tengah, Sumartono Hadinoto perwakilan warga Tionghoa dan Penerima Nobel Perdamian Dunia. Pdt. Izak Lattu, Ph.D dari UKSW Salatiga, Romo Dr. Aloys Budi Purnama, Pr. Dari Unika Semarang. Lalu Bhikkhu Dhammamito, Wakil Ketua Bhikkhu pembina umat Buddha DIY dan Ida Bagus Komang Suarnawa, Ketua PHDI Surakarta.