Lampion Imlek Sukses Sedot Wisatawan, Berlanjut ke Hari Jadi Kota Solo dan Ramadan

oleh
oleh
Imlek, lampion imlek
Warga padati lampion Jembatan Kali Pepe yang menyala dengan paduan 3 warna, Sabtu (7/1/2023) malam

SOLO, MettaNEWS – Gemerlap lampion Imlek di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Balai Kota dan Pasar Gede akan berakhir tanggal 10 Februari 2023 mendatang. Namun, Pemerintah Kota Solo punya rencana lain, dan tidak akan mencopoti lampion yang sukses mengundang wisatawan itu.

“Kami mendapat informasi, sejak Natal kemarin wisatawan bergeser dari tujuan Yogyakarta ke Solo. Ditambah objek-objek baru yang terus kita sempurnakan, ini membawa dampak positif yang tidak kecil,” ujar Wakil Wali Kota Solo, Teguh Prakosa saat memberi sambutan gala dinner Imlek Pusat Bahasa Mandarin Universitas Sebelas Maret, Kamis (26/1/2023) malam.

Teguh Prakosa memaparkan rencana Pemkot, setelah Imlek berlalu, lampion dan beragam lampu ornament akan kembali dipasang untuk memperingati hari jadi Kota Solo tanggal 16 Februari.

“Setelah itu, kita sudah masuk Maret. Seperti tahun lalu, di Balai Kota kita meriahkan dengan Kampung Ramadhan sebulan penuh. Nanti kita bikin ornamen miniatur Masjid Sheikh Zayed. Pokoknya kita nikmati meriahnya, yang takut macet jangan lewat karena itu sudah pasti,” imbuhnya.

Di depan undangan gala dinner, Teguh pun memaparkan komitmen Pemkot Solo memberi ruang yang luas untuk berbagai perayaan agama dan event-event kebudayaan.

Lampion Imlek, Teguh Sebut Perekat Kerukunan

“Dulu awal kita memasang lampion Imlek, muncul suara-suara sumbang. Tapi kita tetap lanjutkan. Karena kita punya niat baik, Kota Solo harus bisa menjadi tempat untuk semua agama, semua budaya. Sekarang semua orang saya kira bisa memahami, warga bisa hidup rukun berdampingan dan saling menghargai,” paparnya.

Apalagi, Teguh menambahkan, selain menjadi perekat kerukunan warga. Beragam perayaan hari besar agama dan kebudayaan di Kota Solo telah menambah daya tarik wisata.

Karena itu, Teguh pun mengapresiasi Pusat Bahasa Mandari UNS yang juga membuka peluang untuk masyarakat Indonesia-China saling mempelajari kebudayaan masing-masing.

“Budaya China bukan sesuatu yang asing sama sekali. Sejarah Kota Solo ini sejak masih era kerajaan sudah berdampingan dengan etnis Tionghoa. Terjadi proses akulturasi yang harmonis. Semangat seperti ini harus terus kita pupuk, kita kembangkan untuk siapa pun yang hidup di Kota Solo,” tandasnya.