Tak Kuasa Antar ke Peristirahatan Terakhir, Sang Kakak Terus Menangis di Samping Bingkai Foto Sipon

oleh
Sipon
Kakak perempuan Sipon atau Dyah Sujirah menangis saat jenazah dibawa ke pemakaman, Jumat (6/1/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Kakak perempuan Sipon atau Siti Dyah Sujirah terus menangis hingga jenazah adiknya diangkat dan akan dimakamkan ke Astono Purwoloyo pada Jumat (6/1/2023).

Sedari pagi ia tampak terus menangis di dekat jenazah Sipon. Kepergian istri penyair sekaligus aktivis yang kerap memperjuangkan hak-hak buruh, Widji Thukul itu disemayamkan di Kalangan RT 01 RW 14, Jagalan, Jebres, Solo, Kamis (5/1/2023).

Usai disemayamkan, jenazah dibawa ke makam Astono Purwoloyo. Pengangkatan jenazah dilakukan sekira pukul 09.53 WIB. Isak tangis kemudian pecah baik dari kerabat maupun pelayat.

Anak-anak Sipon, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah beserta kerabat yang lain kemudian berjalan di bawah jenazah. Terdengar kalimat pengiring saat jenazah di bawa ke pemakaman.

Kakak Widji Thukul, Wahyu Susilo mengatakan Sipon merupakan merupakan perempuan yang berani dalam memperjuangkan hak-hak korban orang hilang.

“Fajar atau Wani dulu kesulitan mengurus dokumen karena ketidakjelasan nasib orang tuanya nasib ayahnya, Mbak Pon memperjuangkan adanya sertifikat atau surat keterangan korban pelanggaran HAM,” ujarnya.

“Itu kemudian dikeluarkan oleh Komnas HAM dan menjadi Perpres untuk korban-korban yang lain. Ini membuktikan bahwa Mbak Pon sendiri adalah pejuang,” tambah Wahyu.

Wahyu menjadi saksi betapa setianya Sipon menunggu Widji Thukul kembali. Meski tanpa kejalasan yang pasti.

“Terimakasih atensi teman-teman, saya kira mbak Sipon perempuan aktivis, hampir seperempat abad menanti pulangnya Widji Thukul tanpa kepastian. Sampai di akhir hayatnya nggak menyerah,” ujar Wahyu.

Sipon meninggal dunia di usia yang ke-55 tahun. Selama 25 tahun menunggu Widji Thukul kembali, penantian Sipon akhirnya berakhir.

Karangan bunga dari tokoh penting seperti Presiden Joko Widodo, mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko hingga Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming tampak berjajar di rumah duka. Pelayat juga masih berada di sana ketika jenazah dimakamkan.