SOLO, MettaNEWS – Hujan turun membasahi Kota Solo tepat di hari berpulangnya Sipon atau Siti Dyah Sujirah. Istri pembela buruh asal Jagalan, Jebres, Solo bernama Widji Thukul.
Semasa hidup Sipon setia menunggu sang suami kembali sejak hilang di tahun 1998. Puluhan tahun sudah Sipon dengan sabar mencari Widji Thukul hingga ia kembali ke pangkuan Illahi pada Kamis (5/1/2023).
Kakak Sipon, Sarijo (66) mengatakan adiknya terus berupaya mencari keberadaan Widji Thukul.
“Berusaha mencari itu setiap hari sampai berapa puluh tahun, sampai tahun barengan Hary Taslam ketemu dia (Widji Thukul) nggak ketemu itu ya nyari terus. Ya berjuang namanya berusaha, sampai sekarang ya mupus (menghapus),” ujarnya.
Sejak menikah, Sipon dengan setia menemani Widji Thukul memperjuangkan hak-hak manusia tanpa mengenal lelah. Meski di tahun 1998, aktivitasnya sebagai pejuang HAM dan juga buruh di era Orde Baru dirasa penuh ancaman.
“Yang mengikuti jejak suaminya, di manapun dia support suaminya ndak pernah lelah. Yang saya salut sama adik saya seperti itu, walaupun sehari makan sehari nggak makan. Tapi perjuangannya dari dulu seperti itu sampai ngontrak-ngontrak rumah, pindah-pindah, masih setia dengan suaminya sampai tidak tergeming apapun,” bebernya.
Sebagai istri seorang aktivis Orde Baru, perjuangan yang dilalui Sipon tidaklah mudah. Namun ia tak pernah goyah menghadapi segala cobaan. Sekalipun telah kehilang suami tercinta.
“Mendapat Widji Thukul itu ya apapun risikonya dulu ibaratnya orang Jawa ditenung, tapi ya tujuannya mulia kan khalis.
Dukanya banyak sukanya nggak ada,” kata dia. Sarijo kembali mengenang awal mula adiknya bertemu Widji Thukul. Sama-sama seorang seniman, Sipon dan Widji Thukul dipertemukan.
“Widji Tukul kan seniman Sipon juga seniman, ikut seniman kan juga dijodohi. Ya seniman sastra. Dulu itu kan dia (Widji Thukul) dari Bengkel Teater, sama kaya Cempe Lawu Warta,” jelasnya.
Meski hingga kini tak diketahui rimbanya, namun bagi Sarijo, Widji Thukul merupakan pahlawan yang tak terlupakan.
“Saya bangga sama Sipon, dengan Widji Tukul juga bangga. Kalau saya ngarani (menyebutnya) pribadi pahlawane orang-orang kecil buruh-buruh termasuk Sritex dulu,” ungkapnya.
Penantian Sipon akhirnya berakhir seiring napasnya juga berhenti. Sipon menutup mata di usia yang ke 55 tahun pada Kamis (5/1/2023) pukul 13.00 WIB di Solo.
“Perjuangan tanpa pamrih. Seorang pejuang dari kecil, mudah-mudahan beliau diterima,” tukas Sarijo.








