SOLO, MettaNEWS – Tanamkan jiwa wirausaha pada mahasiswa, HIPMI bersama Prodi Ilmu Komunikasi UMS menghadirkan Kuliah Umum Branding & Kajian Perilaku Konsumen untuk memberikan peran nyata dalam membangun ekonomi dengan terjun langsung membina mahasiswa dan UMKM dengan mengadakan acara Pitching Branding UMKM UMS X HIPMI untuk memberikan apresiasi serta kesempatan kepada mahasiswa untuk memperebutkan hadiah prestasi dan dana pembinaan umkm
Sebanyak 6 kelompok mahasiswa bergantian memaparkan konsep branding UMKM yang didampinginya ataupun usaha milik mereka sendiri di Auditorium Moh. Djazman UMS, Kamis (5/1/2023).
Kegiatan ini sebagai rangkaian road to Muscab IX Hipmi Surakarta yang akan digelar pada 4 Februari 2023. Masuk dalam agenda Muscab tersebut pemilihan ketua umum baru Hipmi Surakarta.
Sebagai panelis dalam Pitching Branding UMKM bersama UMS adalah ketiga calon ketua umum Hipmi Surakarta yakni Astrid Widayani, Rosanto Adi dan Respati Ardi.
Ketua Umum HIPMI Surakarta, Guruh Novianto menyampaikan sejalan dengan visi misi Hipmi, Pitching Branding ini untuk mengeluarkan jiwa entrepreneurship, kewirausahaan mahasiswa sebelum lulus kuliah.
“Jadi sebenarnya kita memulainya tidak hanya dari mahasiswa, tetapi kita mulai dari SMA. Jadi hal entrepreneurship itu memang harus di desain. Kita yang memancing supaya mereka juga mengupas sifat, jiwa entrepreneurnya sendiri,” jelas Guruh didampingi Ketua OC Muscab Jimmy Soegiarto.
Pitching Branding UMKM ini berhasil menjaring 17 kelompok yang di saring menjadi 6 kelompok untuk maju ke babak final. Dari 6 kelompok ini akan dipilih 3 pemenang yang akan mendapat sponsor pendanaan dari Hipmi Surakarta.
“Targetnya adalah UMKM naik kelas. Kalau sudah naik kelas mereka akan butuh branding yang bagus untuk mendukung penjualan. Juga untuk trik marketing, itu yang kita akan olah dan kenalkan pada mahasiswa. Bagi pemenang pitching akan kita berikan sponsor pendanaan agar UMKM lebih maju kedepannya,” papar Guruh.
Dari antusias mahasiswa ini Guruh melihat peserta mempunyai jiwa entrepreneurship yang luar biasa.
“Hipmi sendiri kan kita ada 3 badan otonom, salah satunya adalah Hipmi perguruan tinggi. Jadi untuk para mahasiswa, mereka mempunyai jiwa entrepreneurship itu yang menurut saya luar biasa. Karena dunia mereka adalah dunia kreatif, dunianya mereka adalah dunia yang sangat kritis, harapan saya mereka bisa all out di bidang entrepreneurship,” ungkap Guruh.

Ketua OC Muscab IX Hipmi Surakarta Jimmy Soegiarto menyampaikan dengan menghadirkan caketum sebagai panelis untuk menjalankan marwah organisasi bersama-sama bersanding untuk memajukan UMKM Surakarta.
“Mereka yang nantinya akan bekerja sama untuk membangun Hipmi setelah periode ini. Jadi kita eratkan kerja sama agar bisa jalan bareng meskipun habis ini kan ada debat, pemilihan ketua jadi mereka nggak lupa bahwa marwahnya semua ini Hipmi untuk membangun Solo dan Indonesia,” imbuh Jimmy.
Secara teknis, Jimmy membeberkan tiga kelompok yang terbaik akan mendapat uang pembinaan sebesar Rp 2 juta dari Hipmi ditambah yang enam kelompok ini juga dapet Rp 500 ribu.
“Sponsor ini untuk merealisasikan konsep mereka, rebranding tadi itu. Sehingga UMKM nya naik kelas. Kegiatan ini tidak berhenti di sini, setelah ini anggota dan pengurus Hipmi akan ke UMKM peserta untuk nglarisi (membeli) dan memberikan masukan-masukan lagi. Sehingga kedepannya ini mereka bener-bener bisa berdampingan dengan Hipmi dan naik kelas. Tadi juga disampaikan ketua umum, bahwa Hipmi membuka apabila ada UMKM yang ingin berkolaborasi dengan Hipmi atau mungkin cari investor kami bisa membantu untuk merealisasikan itu,” papar Jimmy.
Dosen Praktisi Branding Prodi Komunikasi UMS, Fasichah Tia Nur yang akrab disapa If aini menambahkan ada empat kriteria penilaian dari para peserta.
“Empat aspek penilaian yakni bagaimana brandingnya diinstal dan diterima publik. Kemudian aspek Unique Selling Point dari UMKM tersebut, juga aspek tentang efektivitas budget, dan yang keempat, bagaimana mereka menjaga stabilitas tim itu sendiri. Gimana kekompakannya, kemudian temponya mereka, bagaimana mereka menjaga satu kelompok, karena kan permasalahan terbesar anak-anak adalah belajar bekerja sama dalam kelompok,” pungkas Ifa.









