SOLO, Metta NEWS – Semua pihak tentu menunggu siapa calon pemangku adat atau calon gusti Mangkunegoro X yang terpilih. Ada tiga nama yang muncul di antaranya putra KGPAA Mangkunegara IX GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo, GPH Paundrakarna Jiwa Suryanegara, serta cucu Raja Mangkunegara VIII yakni KRMH Roy Rahajasa Yamin.
Namun melihat sejarah Mangkunegaran selama ini, suksesi di Pura Mangkunegaran dinilai cair, bisa dari berbagai saluran, sehingga sesuai dengan pola situasional dan kontekstual yang dihadapi zaman kini.
Dalam kegiatan yang digelar oleh kelompok diskusi wartawan dengan tema ‘Menyoal Suksesi di Pura Mangkunegaran. Wahyu Keprabon untuk Siapa?, Pengamat Sejarah, Raden Surojo mengatakan, melihat rekam jejak pola suksesi di Pura Mangkunegaran berbeda jauh dengan Keraton Surakarta Hadiningrat.
“Sebagaimana yang kita ketahui, untuk Keraton Kasunanan menganut pola garis, harus sesuai garis keturunan raja secara langsung. Artinya kalau Sinuhun wafat yang meneruskan menjadi raja berikutnya adalah putra dari permaisuri. Jika putra mahkota masih dalam kandungan maka digantikan oleh adiknya dulu. Sementara di Pura Mangkunegaran tidak menganut pola keturunan secara langsung,” papar Surojo, Jumat (26/11).
Surojo mengungkapkan berbeda dengan Mangkunegaran, suksesi di Mangkunegaran sesuai pada realita yang dihadapi. Yakni pola situasional, bukan karena keturunan, seperti Keraton Surakarta
“Yang penting tidak meninggalkan tradisi keturunan Adipati Mangkunegara. Bisa putra, keponakan, adik, atau cucu. Dewan Pinisepuh dan Punggowo Baku punya hak untuk memilihnya. Paling tidak memberi penilaian kapabilitas calon tersebut yang layak menjadi Raja Mangkunegaran X,” jelasnya.
Dia mencontohkan, saat pergantian atau suksesi Raja Mangkunegaran I ke Pura Mangkunegaran II, bukan langsung putra raja. Bahkan paling mencolok adalah saat suksesi Mangkunegaran 5 ke Raja Mangkunegaran 6.
Saat itu pemilihan juga situasional, karena Mangkunegaran 6 adalah anak Mangkunegara ke IV. Pasalnya selain jiwa militer, tetapi dikenal sosok yang sangat mumpuni secara manajerial dan pebisnis hebat kala itu.
Sementara itu, Pakar Budaya UNS, Prof Dr Andrik Purwasito, DEA menjelaskan, suksesi Pemangku Adat Mangkunegara IX ke X adalah bersatunya keinginan kontekstual dan situasional dengan Wahyu Keprabon. Adapun suksesi bisa dari berbagai saluran, konvensional dan nonkonvensional.
“Istilahnya tidak harus orang dalam, Bila menilik mereka yang biasanya menerima Wahyu Keprabon adalah orang yang suka bertapa dan bijaksana. Saya tidak mengomentari dalam Pura. Hanya ada kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di lingkungan Jawa yang bisa dilihat,” ungkap dia.
Andrik menjelaskan, Raja dan masyarakat itu keris dan warangka. Raja itu keris, sementara masyarakat itu warangka atau selubung yang terbuat dari kayu.
“Ada hubungan timbal balik di situ. Tentang sesuai situasi. Meskipun tidak punya suara yang menentukan pengganti Gusti Mangku IX, tapi ada spirit memberikan masukan. Mengingat Pura Mangkunegaran sangat luar biasa asetnya dan SDM-nya, harus dikelola dan dimaksimalkan kembali,” jelasnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, ada sejumlah syarat Wahyu Keprabon jatuh kepada sosok calon raja. Di antaranya wicaksono atau unggul dalam pengetahuan lahir dan batin, berpandangan jernih, waskito (mampu merasakan hal yang gaib) bisa memberantas kejahatan, tutur bahasa halus seperti Dewa Surya hingga teliti dan detail seperti Dewa Bayu.
Tak berhenti sampai situ, menurutnya Wahyu Keprabon di antaranya suka bersedekah, tegar dan tegas dan berani melawan kejahatan.








