SOLO, MettaNEWS – Sebanyak 300 penari dari 7 Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) atau Perguruan Tinggi Akademik (PTA) dari Sumatera utara, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Sorong, Yogyakarta dan Solo terus berlatih tari kolosal Raditya Mencerahkan Semesta.
Koreografer tari Raditya Mencerahkan Semesta, Wasi Bantolo mengatakan untuk pertama kalinya tari kolosal hasil riset selama satu tahun ini akan dihadirkan dalam pembukaan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke 48 di Stadion Manahan Solo pada Sabtu pagi, (19/11/2022).
“Tarian Raditya Mencerahkan Semesta mengandung arti bahwa apa yang menjadi spirit dari Muhammadiyah, bahwa sang surya atau matahari mencerahkan semesta. Sehingga bagaimana pancaran dari Muhammadiyah menyebar ke seluruh semesta yang ada di seluruh Indonesia maupun dunia,” terang Wasi kepada MettaNEWS, Kamis (17/11/2022).
Tarian kolosal selama 7 menit ini ia siapkan sejak April 2022 dengan melibatkan berbagai elemen mahasiswa seperti alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan PTM seluruh Indonesia. Tari ini termaktub dalam spirit tauqid, moderasi serta professionalisme Muhammadiyah yang dikemas dalam sebuah karya.
“Sampai saat ini, berproses sekian lama mematangkan konsep sampai memutuskan visual seperti apa, sampai saat ini tinggal finishing dibagian terakhir dan adaptasi lapangan sampai besok gladi bersih,” terangnya.
Wosi menuturkan pada karya tari Raditya Mencerahkan Semesta mengambil ide dari elemen visual pancaran matahari yang berusaha disampaikan melalui visualisasi pada tubuh para penari maupun properti yang dikenakan penari.
“Untuk membangun efek visual yang diinginkan karena kita bermain di pagi hari sehingga kita harus benar-benar memanfaatkan kostum, properti bahkan kita akan memanfaatkan cahaya matahari yang muncul. Semoga pada saatnya nanti, suasana cerah, matahari (bersinar) terang sehingga dapat memunculkan efek-efek visual yang kami bangun,” kata Wasi Bantolo.
Menurut Tenaga Pengajar di Prodi Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta tersebut, konsep tari Raditya Mencerahkan Semesta ini merupakan tarian tunggal yang berisi 12 tari dari kebudayaan daerah di Indonesia.
Sehingga meskipun itu satu tarian tapi penonton bisa melihat ada kebudayaan tari Indonesia bahkan di luar indonesia yang diakomodasi sebagai simbol.
“Meski itu satu tarian kalau kita bisa menikmati, bisa menghadirkan10-12 tarian. nah itu akan berjalan dalam 7 menit pementasan,” kata Wasi Bantolo.
Mengenai dihadirkannya 12 tarian itu, menurut Wasi Bantolo merupakan visualisasi tebaran 12 cahaya yang merepresentasikan keberadaan Muhammadiyah yang berada di mana-mana.
“Bersama ISI Surakarta, Muhammadiyah menghadirkan visual kebudayaan-kebudayaan tari itu seperti mempelihatkan perkembangan Muhammadiyah ada di wilayah nusantara bahkan dunia karena kami menghadirkan visual yang mewakili keberadaan Muhammadiyah di luar negeri.
Dari persebaran itu bisa disampaikan, moderasi itu berkembang ada dimana-mana, matahari bersinar, moderasi berada di setiap tempat ,” terang Wasi Bantolo.
Wosi mengatakan cuaca menjadi kendala terbesar untuk menyajikan tarian kolosal ini. Terlebih latihan tari ini dilakukan di tempat terbuka.
“Sejauh ini kendala itu bisa diatasi dengan mantel hujan juga kami pernah nekat berlatih di bawah hujan. Karena semangat luar biasa dari teman-teman ini menjadikan semua tidak menjadi masalah,” terangnya.








