SOLO, MettaNEWS – Potensi pariwisata di Indonesia menjadi salah satu kekuatan bangsa ini. Sebagai negara kepulauan yang besar, banyak negara yang tidak mempunyai potensi wisata seperti yang dimiliki Indonesia.
Namun potensi yang besar ini belum tergarap dengan maksimal karena beberapa hal.
Hal ini menjadi perhatian banyak pihak termasuk dari Bank Indonesia yang turut konsen pada pengembangan potensi wisata di Indonesia.
Kepala Kantor Perwakilan BI Solo Nugroho Joko Prastowo menyampaikan Bank Indonesia mempunyai rumus tersendiri melihat potensi pariwisata.
“Bank Indonesia kalau mau melihat potensi pariwisata punya rumus 3A 2P. Yaitu aksesibilitas, amenitas, atraksi, pelaku dan promosi,” jelas Joko.
Joko memaparkan sebuah obyek wisata bila aksesnya sulit atau bahkan tidak ada aksesnya tentu tidak akan berhasil. Begitu juga dengan amenitas yakni pendukung sebuah wisata menjadi lebih unggul.
“Amenitas ini istilahnya prasarana seperti penginapan, restoran, MCK yang terstandar sehingga membuat wisatawan nyaman. Jadi kalau kurang misal jorok, maka dipromosikan sekuat apapun orang akan kapok datang,” tandas Joko.
Kedua aspek tersebut lanjut Joko harus didukung dengan adanya atraksi di daerah wisata tersebut.
“Aksesnya bagus, hotelnya juga tapi tidak ada atraksinya atau sedikit maka kunjungan wisata juga akan sedikit. Maka rumus 3A ini adalah kunci awal keberhasilan pariwisata,” kata Joko.
Setelah terpenuhi aspek 3A, Joko melanjutkan aspek berikutnya adalah 2P yakni Pelaku dan Promosi.
“Pelaku dalam hal ini adalah semua sumber daya yang terlibat dalam kegiatan pariwisata ini seperti guide, penyedia jasa, penyedia oleh-oleh, pelayanan standar dan masih banyak lainnya. Untuk P berikutnya adalah Promosi. Semua aspek sudah siap tapi tanpa promosi juga tidak akan jalan,” paparnya.
3A 2P ini lanjut Joko sebagai parameter untuk melihat kesiapan destinasi pariwisata di sebuah kota.
“Pariwisata ini menjadi salah satu kegiatan yang didorong. Karena kegiatan pariwisata ini lebih cepat menghasilkan devisa. Wisata yang sudah jadi, siap di promosikan dan orang datang jadi perputaran perekonomiannya cepat,” tandas Joko.
Tingginya devisa dari industri pariwisata ini ditangkap oleh Indonesia dengan menggulirkan program Bali Baru dan Program 5 Destinasi Wisata Prioritas.
“Pandemi kemarin semua terhenti. Ini sudah mulai dibuka kembali. Selama ini kita punya kekayaan pariwisata tapi kalah pendapatan devisanya,” ujar Joko.
Joko membeberkan data kunjungan wisatawan negara tetangga Indonesia.
“Dibandingkan Singapura, Malaysia, Thailand, masih kalah. Thailand pendapatan devisa pariwisata sampai puluhan miliar dolar, kita baru 18 miliar dolar, perbandingan dengan negara lain juga masih jauh,” tegas Joko.
Joko menyebut saat ini adalah momen yang tepat untuk menggenjot pariwisata mendorong pemulihan ekonomi.
“Pariwisata menggerakkan banyak sektor, efek dominonya panjang seperti sektor hotel, restauran, oleh-oleh, kuliner, transportasi, semua bergerak. Ini akan cepat membantu pemulihan ekonomi masyarakat dan daerah,” pungkas Joko.








