SOLO, MettaNEWS – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melepas keberangkatan dua anggota Mahasiswa Muslim Pecinta Alam (Malimpa) UMS.
Malimpa UMS kembali akan melakukan misi pendakian gunung dengan mendaki Chimborazo Mount di Amerika Selatan.
Dua anggota Malimpa UMS, Awang Zuhdi dan Dayu Suryawan berangkat sore ini menuju Jakarta untuk kemudian bertolak ke Amerika.
Hadir pada pelepasan tersebut Pembina Malimpa Eko Sudarmanto., S.Pd., M.Or, Kabiro Kemahasiswaan UMS Ahmad Kholid Alghofari, S.T., M.T. dan Wakil Rektor 3 UMS Ihwan Susila., SE., M.Si., Ph.D.
Pembina Malimpa, Eko Sudarmanto mengatakan misi pendakian Malimpa ke Chimborazo ini tidak hanya membawa nama Kota Surakarta namun juga atas nama bangsa Indonesia.
“Saat ini istimewa, kita bersama banggakan sebagai wakil UMS dan menjadi wakil Indonesia, Dayu, Awang dan Iqbal yang insyaallah akan mengibarkan bendera merah putih di Chimborazo. Ini sangat luar biasa,” jelas Eko.
Eko menyebut pendakian gunung setinggi 6263 mdpl ini akan mencetak sejarah bagi Kota Solo dan Indonesia.
“Insyaallah dari tempat ini akan mencetak sejarah. Karena dari tempat inilah kita munculkan pahlawan Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk mengibarkan bendera Merah Putih di Amerika Selatan. Ini yang menjadi catatan sejarah bagi kami selaku keluarga besar UMS,” ujar Eko.
Selain akan mengibarkan bendera Merah Putih, Awang dan Dayu juga akan mengibarkan bendera UMS dan bendera Muktamar Muhammadiyah.
“UMS menciptakan Malimpa UMS Indonesian Ekspedition atau MUIE harapannya akan lahir generasi berwawasan akademik internasional. Selain itu salah satu tujuan adalah terjalinnya hubungan bilateral antara Indonesia dengan Ekuador Amerika Serikat,” tandasnya.
Kabiro Kemahasiswaan UMS Ahmad Kholid Alghofari menambahkan pendakian Chimborazo ini bisa membawa hikmah bagi tim yang berangkat.
“Ketinggian 6263 mdpl itu luar biasa. Kalau sudah berada di puncak sudah tidak ada yang tinggi, semua jadi rendah, dan kita kemudian merasa bahwa kita ini tidak perlu lagi merasa menjadi orang yang serba hebat karena kalau sudah dipuncak semuanya tidak ada yang terlihat. Dan itulah mungkin salah satu hikmah yang kita petik ketika kita berjalan dimuka bumi ini dan menemukan tempat-tempat yang kemudian bisa kita ambil hibrohnya. Ini juga bagian dari sunah bahkan dari Qur’an perintah Allah untuk berjalan di muka bumi dan mengelilingi bumi ini dan kemudian mengambil hikmahnya dari apa yang sudah diciptakan Allah SWT. universitas Muhammadiyah Surakarta sangat bangga dan tentu saja berterima kasih atas kerja keras dari malimpa untuk mencipta atlet ini, karena ini tidak mudah. Ini adalah perjuangan besar, karena tidak hanya mewakili UMS juga mewakili Indonesia,” papar Ahmad Kholid.
Tim pendakian Chimborazo dilepas oleh Wakil Rektor 3 Ihwan Susila., SE., mewakili Rektor UMS Sofyan Anif yang berhalangan hadir.

Ihwan juga mengatakan pada tim pendaki untuk tidak sekedar menancapkan bendera namun juga bisa salat setibanya di puncak.
“Saya ingin melihat bagaimana kita sebagai kampus Islam bisa memberikan warna yang berbeda. Naik gunung tertinggi, sekarang sejarahnya terlihat, bagaimana nanti di video ada suara adzan. Silahkan mas Awang mengumandangkan adzan disana, inilah pertama kali mungkin adzan berkumandang di puncak tertinggi, luar biasa,” tutur Ihwan.
Sementara itu, Awang Zuhdi yang akan melakukan pendakian mengatakan ia dan Dayu sudah melakukan persiapan selama 5 bulan sebelum berangkat.
“Untuk latihannya ini sudah berjalan lima bulan sebelum kita berangkat juga ada try out untuk simulasi di gunung, simulasi malam juga sudah dilaksanakan, aklimatisasi (proses adaptasi) udah persiapan ya udah semua untuk fisiknya udah baik,” jelas Awang.

Mahasiswa Fakultas Teknik Industri ini mengatakan dengan perhitungan dasar untuk mendaki Chimborazo hingga tiba di puncak.
Dilihat dari titik bumi itu lebih tinggi dari gunung lainnya dibanding dengan Everest dan Himalaya karena dari pusat bumi dari titik 0 bumi dekat dengan garis khatulistiwa jadi lebih tinggi dibanding dari gunung yang lain.
“Untuk jadwalnya pendakian kita malam hari sekitar jam 10 malam waktu sana dan kita udah ada kalo itu kita diketinggian 5200 an nanti kita naik jam 10 malam maksimal turun itu jam 9 pagi kita sudah turun sampe basecamp lagi,” papar Awang.
Sebelum Awang dan Dayu, Malimpa UMS juga pernah mempunyai atlet pendaki gunung yang pernah berhasil hingga di puncak gunung di Mongolia.










