SOLO, MettaNEWS – Memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, setiap bulan Mulud dalam penanggalan Jawa diselenggarakan perayaan tradisional yaitu Sekaten.
Tidak hanya menawarkan wahana permainan dan wisata belanja, Sekaten juga kaya akan kuliner tradisionalnya. Salah satunya jenang lot atau jenang dodol.
Puluhan pedagang makanan khas Sekaten ini pun sudah mulai menjajakan dagangannya saat gamelan Guntur Madu dan Guntur Sari Keraton Surakarta ditabuh pada Sabtu (1/10/2022) lalu.
Ada puluhan pedagang yang menjajakan makanan tradisional ini di depan pintu masuk Masjid Agung Keraton Surakarta. Berbahan dasar tepung beras dan gula makanan ini memiliki cita rasa manis nan legit.
Diantara puluhan pedagang jenang dodol, ada Surati (65 th) yang sudah 30 tahun berdagang di setiap gelaran Sekaten Solo. Pedagang asal Magelang, itu menjual jenang dodol seharga Rp5.000 untuk ukuran kecil dan Rp10.000 untuk ukuran besar.
“Iya setiap Sekaten jualan ini kan salah satu makanan yang khas di sini. Ada ceritanya juga kalau habis nonton gamelan beli oleh-olehnya jenang sama nginang,” kata Surati kepada MettaNEWS, Rabu (5/10/2022).
Memiliki tekstur lembut dan kenyal, jenang dodol memiliki isian kelapa muda. Isian inilah yang membedakan jenang lot dodol dengan jenang pada umumnya.
“Yo kalau ini kan ada kelapanya, kalau di tempat orang hajat itu kan tidak ada kelapanya. Ini kepalanya dipotong-potong aja terus ditaruh di dalam,” katanya.
Surati dan suami membuat jenang lot dodol sendiri untuk ia jajakan selama gamelan Sekaten Solo ditabuh. Yakni sejak Sabtu (1/10/2022) hingga Sabtu (8/10/202) mendatang.
“Iya bikin sendiri, masaknya sehari semalam dalam sekali masak 2 kuintal, masaknya pakai tungku bahan bakarnya kayu,” terang Surati.
Surati menuturkan untuk mengolah 2 kuintal jenang lot dodol diperlukan 2 orang pekerja yang mengaduk adonan di atas bara api selama sehari. Jenang lot dodol mampu bertahan selama satu pekan.
“Biasanya kalau nggak ada Sekaten saya ya jualan di wisata Magelang, Kyai Langgeng, kesini bareng suami jualannya karena nggak kuat kalau bawa sendiri kan jenangnya berat,” tuturnya.
Puluhan tahun sudah Surati ikut serta mangayubagya di Sekaten Keraton Surakarta. Ia pun bisa merasakan banyak perbedaan dari tahun ke tahun. Selama 5 hari berjualan Surati mengaku masih sepi pembeli.
“Ini masih sepi. Dapatnya juga nggak pasti, biasanya yang beli ya orang tua, anak muda juga ada, kalau ramainya pas hari Sabtu sama Minggu ya cuma kaya gini (masih sepi),” jelasnya.
Surati mulai berjualan pukul 08.00 hingga 00.00 WIB malam. Nantinya ia akan kembali ke Magelang setelah Grebeg Maulud Keraton Surakarta selesai digelar pada Sabtu (8/10/2022).
“Jualannya mulai dari turun gamelan sampai selesai gamelan jadi pas Grebeg Maulud selesai,” katanya.
Kenaikan harga BBM membuatnya harus memutar otak agar bisa memperoleh pendapatan. Surati harus merubah harga dari Rp10.000 dapat 3 biji jenang lot dodol kini ia terpaksa menjualnya dengan harga Rp5.000 per potong.
“Jualan ini sudah turun temurun dari simbah-simbah saya dulu ya jualan ini. Terus saya ya turunan dari bapak jadi ya tetap melanjutkan usaha peninggalan beliau-beliau ini. Jadi ya gimana ya, carinya uang emang seperti ini,” pungkasnya.








